
Alfin terbangun dengan senyum mungilnya dan memaikan mata seperti sedang memamerkan bulu matanya yang lentik dan tak lupa selalu memainkan air liurnya.
Karin saat rambutnya di jambak Alfin.
Bara memilih tidur di sofa. Menghilangkan rasa lelahnya yang belum ia istirahatkan.
Ayu pulang di antar Atas mengambil baju Alfin yang belum di bawa karena buru-buru.
"Aaauuuhhh Alfin, lepaskan rambut bunda. Nanti tangan Alfin bisa terluka. Maaf kalau bunda terlambat bangun. Ayo sayang lepaskan rambut bunda." Ucap Lia sambil berusaha melepaskan pegangannya di rambut Lia.
Saat sudah bisa Lia lepaskan. Buru-buru Lia mengikat rambutnya.
Alfin yang sudah aktif merespon ucapan orang lain, mulai mencoba memberi syarat seakan bertanya dimana papa?.
Lia yang paham dengan putra asuhannya itu segera mengangkat tubuhnya dan membawanya pada papanya.
Lia menengkurapkan Alfin di dada Bara dan membiarkan Alfin membangunkan papanya sedangkan dirinya berada di samping alfin dan duduk di lantai.
Lia memandang wajah Bara yang masih terlelap tidur. Wajah pria yang memiliki sifat tak menentu saat bekerja dia selalu tegas namun saat di rumah ketegasannya semua hilang berganti dengan kelembutan yang ia tunjukan pada orang sekitar.
Lia sudah biasa waktu di kantor sering mendapat pelampiasan amarahnya karena kesal dengan karywan atau pada klainnya. Tapi semenjak tinggal bersama Bara dalam satu atap Lia belum pernah lagi mendapatkan amarah itu yang ada dirinyalah yang lebih sering marah.
Lia yang tak fokus pada Alfin, membuat Bara terbangun karena kaget Alfin menggigit hidung papa nya yang mancung.
"Aaauhhh rupanya anak papa kau menbangunkan papa ya, dasar anak pintar papa jadi kaget."
"Maaf mas, Lia lalai jaga alfin. Sampai gak sadar kalau Alfin menghampiri hidung mas." Ucap Lia sambil memberikan tisu pada Bara untuk membersihkan air liur Alfin yang masih menempel di hidung Bara.
"Gak papa, aku cuma kaget aja tadi. Gimana demam alfin turun belum?"
"Sudah mas tingal nunggu pemeriksaan dokter lagi. Mas cuci muka dulu biar bisa gantian jagain Alfin. Soalnya mbak Ayu belum juga datang.
Bara pun bergegas ke kamar mandi dan membersihkan diri sedangkan Lia sibuk dengan Alfin yang mulai aktif dan suka merespon benda-benda baru, tanganya juga sudah aktif mencakar dan meraih wajah Lia.
Bara pun selesai dan menghampiri Lia untuk menggantikannya menggendong Alfin.
__ADS_1
"Lia, sini biar mas yang gantiin gendong Alfin. kamu bersihkan badan sana." ucap Bara dan mengambil alfin dari tangan Lia.
Tak lama kemudian Akas dan Ayu datang membawa rantang makanan untuk Lia dan Bara.
"Dari mana saja kalian. Bukan secepatnya balik kesini malah berlama-lama di rumah." ucap Bara yang tampak kesal.
Ayu yang sudah meletakkan rantang makanan di meja langsung mengambil Alfin karena itu memang tugasnya.
"Maaf pak agak lambat. Soalnya mas Akas lambat banget di ajak berangkat kesini bilangnya bentar lagi."
"Aku kan cuma gak mau ganggu kalian menghabiskan waktu berdua. Lagian ini kan baru jam sepuluh."
"Kamu itu suka sekali cari alasan. Cepat belikan aku kopi. Dari tadi belum ngopi."
"Siap bos." Akas pun kembali keluar untuk membeli kopi.
"Mbak Ayu kapan datang?" Tanya Lia
"Baru aja mbak. Oya itu saya bawakan makanan dari rumah buat mbak Lia sama Pak Bara."
"Makasih ya mbak. Kebetulan kami juga belum sarapan."
Lia membuka rantang yang berisi nasi, sayur dan lauk. Namun saat mereka mau makan hanya tersesia satu piring dan dua sendok.
"Lo mbak nie gimana to. Yang mau makan berdua kenapa piringnya cuma satu." protes Bara
"Maaf pak, mas Akas yang menyuruh saya bawa begitu."
"Dasar kamu Akas. Gak ada habisnya dia ngerjain aku. Aku ini bosnya gak sepantasnya dia berani ngerjain aku." ucap Bara yang kesal.
"Sudah lah mas. gak usah diambil hati, gak ada salahnya kan makan sepiring berdua biar kaya lagu GUBUK DERITA." Ucap Lia sambil mengambil nasi dan yang lain-lainnya dalam piring.
Lia dan Bara makan satu piring berdua, mata mereka sering kali bertemu saat mereka saling menyuap.
"Seumur hidupku baru kali ini makan sepiring berdua. Waktu ibu masih hidup pun Aku gak pernah makan berdua sama ibu. Tenyata nikmat juga ya rasanya."
__ADS_1
"Kalau Lia ma sering makan berdua sama suami dulu. Kata mas Rian biar lebih dekat dan romantis." saut lia
Tak terasa mereka sudah nambah dua kali sebelum makannya terhenti karena Akas.
"Tu kan berhasil." ucap Akas saat masuk kamar rawat Alfin sambil membawa dua cup kopi dan dua cup teh.
"Jadi kamu sengaja ngerjain aku lagi. Sekali lagi kamu ngerjain aku lagi awas saja jabatanmu jadi taruhannya."
"Waduh bos Bara nie sepertinya serius dengan ancamannya. Tapi tunggu dulu daripada tegang kita ngopi saja dulu bos biar pikirannya kembali releks." bujuk Akas sambil menyerahkan kopi pada Bara dan juga teh buat ayu dan Lia.
Bara pun menikmati kopinya begitu juga dengan yang lain.
"Lia kamu sudah di beri tahu Bara belum?"
"Beri tahu apa? dari tadi mas Bara gak ada bicara yang serius."
"Aduh bosku nie kenapa sih. Tinggal bilang aja ke Lia kok gak terucap. Apa perlu aku yang ngomong langsung, tapi gak baik. Bos aja yang langsung ngomong siapa tahu lia langsung mau." ucap Akas
"Kamu tu ya, mulutnya kaya cewek. Bisa lihat situasi dan kondisi gak sih. Jangan asal nyeplos aja mau mulutmu di jahit kalau mau mumpung di rumah sakit biar semua aku yang bayar." ucap Ada Bara yang makin kesal dengan Akas.
"Kejam banget sih jadi bos. Biar mulutnya kaya cewek tapi mulut ini juga yang membantu bos dalam masalah pekerjaan iya gak Lia."
"Memangnya apa sih yang mau di bicarakan kok Lia jadi penasaran."
"Nanti kamu juga tahu, tunggu bos bara bicara sendiri. Malas aku ikut campur."
"Mas Akas ngambek ya. Kelihatan makin imut mas akasnya." Saut Ayu.
"Jangan menggoda dek. Nanti mas ngambek beneran."
"Lo...mbak Ayu sama Akas ada hubungan?"
"Iya. kami pacaran dah sebulan yang lalu mengalahkan bos yang munafik yang pura-pura gak ada rasa padahal memendam rasa."
"Akas...... bisa diam gak tu mulut."teriak Bara dan langsung bangkit berdiri dari sofa berjalan menuju keluar.
__ADS_1
"Mau kemana mas?" tanya Lia
"Mau cari angin segar di sini udaranya sangat panas. Jangan kuatir aku cuma sebentar." ucap Bara sambil berlalu pergi meninggalkan yang lain karena telinganya sudah panas karena ulah Akas.