
Lia tak mengizinkan Bara untuk bertemu dengan papanya untuk saat ini. Dan meminta Bara sabar menunggu sampai waktunya tepat.
"Maafkan aku mas, bukan maksudku menghalangi mas untuk bertemu dengan papa, tapi Lia rasa untuk saat ini bukan waktu yang tepat untuk menemuinya." Ucap Lia sambil menyandarkan kepalanya di pundak Bara yang sedang istirahat di ranjang.
"Iya sayang mas mengerti dan paham dengan kondisi saat ini. Jangan kuatirkan mas, yang terpenting saat ini kamu baik-baik saja."
"Lia mencoba kuat mas, walaupun rasa kehilangan ini masih selalu menghampiri Lia. Mas... Apa yang harus aku lakukan dengan semua tanggung jawab baru yang di serahkan padaku. Aku hanya ingin menjadi seorang istri yang mengurus dan membesarkan anak-anak dan juga menjadi istri yang bisa mengurus suami, aku gak mau tanggung jawab ini membuatku kehilangan waktu bersama kalian."
"Kita pikirkan jalannya nanti, mas akan setuju apapun keputusannya nanti. Sekarang istirahatlah, hari sudah malam."
"Iya mas. Mas juga istirahat juga, mas pasti capek juga dengan perjalanan panjang mas sampai sini." Mereka pun memilih untuk istirahat dan membiarkan semua berjalan apa adanya.
_____
Seminggu berlalu, Sata dan Bara belum saling bertemu walaupun mereka tinggal satu atap. Lia membagi waktunya dan mengendalikan semua ke adaan agar tak menjadi kacau.
Sejak kepergian Sekar. Sata lebih memilih untuk mengurung diri di kamar dan tak mengizinkan orang lain masuk selain Lia.
Sedangkan Bara menghabiskan waktu bergelut dengan laptopnya untuk pekerjaan kantornya.
Selain kesibukan mengurus papa dan suaminya Lia juga di sibukkan dengan putranya yang sekarang ada bersamanya, sejak kepergian Sekar, Lia mengambil alih untuk mengurus putranya sendiri walaupun masih membutuhkan baby sitter.
Siang itu seseorang yang bekerja menjadi manager di Perusahaan Sata datang kerumah dan tentu saja Lia yang menemuinya.
__ADS_1
"Maaf nona, apa saya bisa bertemu dengan pak Sata ada hal penting yang perlu di bicarakan." ucap sang manajer
"Maaf sekali pak, papa saya untuk saat ini masih belum ingin bertemu siapa-siapa dan untuk saat ini saya yang akan mengurus perusahaan papa." jelas Lia.
"Baik nona, kalau memang begitu saya akan bicarakan ini pada anda." manager itu pun menjelaskan banyak hal pada Lia dan Lia pun mendengarkan dengan sangat serius.
"Baiklah, besok kumpulkan semua karyawan yang ada saya akan datang untuk menjelaskan semuanya."
"Baik nona, kalau begitu saya permisi dulu."
Lia hanya menghela nafas panjang, merasa lelah dengan semua kesibukannya. Tiba-tiba Bara menghampiri dari belakang dan memijat pundak Lia agar lebih rileks lagi.
"Mas Bara,apa yang mas lakukan, ini bukan tugas mas, seharusnya Lia."
"Gak papa sayang, sekali-kali. Mas perhatiankan kamu sangat lelah." ucap Bara lalu duduk di samping Lia.
"Ya begitulah, Papa masih belum mau bertemu siapa-siapa, Lia sudah berusaha untuk membujuk papa agar bisa ikhlas melepas kepergian mama, tapi sepertinya cinta papa ke mama begitu besar sehingga sulit untuk melupakannya." Saat Lia dan Bara sedang berbincang tiba-tiba terdengar suara suara teriakan dan juga suara barang pecah. Lia dan Bara saling bertatapan sebelum keduanya segera berlari menuju kamar Sata dan melihat ke adanya. Dan benar saja Sata sudah tergeletak pingsan di lantai dan pecahan gelas berada di sampingnya.
"Papa..." teriak Lia langsung menghampiri dan mencoba membangunkannya.
"Sayang cepat panggil Dokter, mas takut papa kenapa - kenapa." Bara pun mengangkat tubuh mertuanya itu ke ranjang dan Lia bergegas menghubungi dokter."
Tak lama dokter pun datang dan memeriksa keadaan Sata.
__ADS_1
"Bagaimana ke adaan papa dok?" tanya Lia yang tampak cemas.
"Dokter pun menjelaskan ke adaan Sata, dan Lia menangis harus dengar kenyataan lagi.
"Yang sabar sayang, kita akan berusaha mencarikan pengobatan buat papa yang terbaik. Yakin saja papa akan sembuh."
"Iya mas, terimakasih sudah ada di samping Lia, gak tahu lagi apa yang akan terjadi kalau tak ada mas di sini buat nguatin Lia." Lia pun memeluk erat suaminya. Dan Bara pun membalas pelukan Lia mungkin itu yang di butuhkan saat ini.
Harus kuat dan tegar itulah perjalanan yang harus Lia lalui, bersama sang suami yang selalu menggegam tangan Lia agar bisa terus kuat dalam setiap langkah. Bara yang dulunya dingin dengan siapa saja kini ia malah lebih perhatian dan sayang pada Lia. Mungkin seperti itulah sifat Sata walaupun dirinya terlihat arogan namun semuanya luluh saat bersama sang istri hingga sulit untuk melupakannya.
Hari pun berlalu, di temani Bara Lia pun pergi ke kantor papanya untuk menjelaskan kepada para karyawan tentang perusahaan yang terbengkalai tanpa pimpinan.
"Mas, aku sangat gugup untuk menghadapi para karyawan perusahaan papa. Aku belum pernah memimpin langsung, biasanya aku ada di belakang mas menjadi sekertaris mas dan sekarang harus jadi pimpinan." Lia meremas tangannya sendiri untuk mengurangi rasa gugup. Sedangkan Bara hanya memandangi setiap gerakan Lia.
"Rupanya istriku ini punya rasa takut juga, mas kira seorang Alia Halilintar yang selalu nekat ini gak punya rasa takut dan gugup."
"Mas, Lia ini juga manusia biasa. Bukan wonder woman yang semua bisa Lia selesaikan tanpa rasa takut. Sudahlah jangan ngeledek lagi, Lia ini benar-benar gugup."
"Iya... maafkan mas, kalau canda mas gak lucu, Yang semangat ya sayang, mas akan menjadi penonton saja nanti, dan Liat ekspresi Istriku saat jadi seorang pemimpin."
"Oya mas, Lia baru ingat, apa Lia boleh tanya sesuatu?" Lia menunjukkan sebuah foto yang dia ambil di ruang kerja Suaminya waktu mengambil berkas Bara. "Ini siapa mas? Kenapa Lia nampak tak asing dengan pria ini, sepertinya Lia pernah melihatnya tapi Lia tak ingat kapan tepatnya." Bara pun memperhatikan foto yang diberikan Lia dan terus menatapnya.
"Apa kau ingin tahu ini siapa?" tanya balik dan Lia pun mengangguk, "Ini adalah papa dan mas. Foto ini diambil saat usia mas baru sepuluh tahun. Ini adalah foto satu-satunya yang mas miliki selama papa masih hidup. Setelah mas dewasa mas sering kali bertengkar dengannya hingga tak ada kedekatan lagi antara anak dan papanya hingga di akhir hayatnya lah mas baru bisa memaafkan papa."
__ADS_1
"Jadi itu papa mertua dan itu adalah mas, tapi kenapa rasanya tak asing. Sepertinya Lia pernah melihat wajah-wajah ini, tapi kapan dan di mana Lia belum bisa mengingatnya." ucap Lia dan tak terasa sepanjang perjalanan saling berbincang akhirnya sampai di perusahaan yang didirikan Sata yang sudah berkembang puluhan tahun.
TERIMAKASIH SUDAH SETIA MENUNGGU UPDATE J_A_N_D_A DAN GAK TERASA BEBERAPA PART LAGI ENDING. JANGAN LUPA DUKUNGANNYA LIKE,VOTE, HADIAH DAN KOMENTAR YANG MEMBANGUN.