
Rumah yang sunyi, tak banyak cahaya dan juga seperti rumah yang tak berpenghuni. Kakek Bromo sedang duduk di kursi goyangnya. Lia datang menghampiri kakek Bromo yang seorang diri.
"Kek. . panggil Lia dengan nada sedikit keras takutnya sudah bermasalah dengan pendengarannya.
"Jangan teriak-teriak, kakek masih jelas mendengar." ucap kakek Bromo dan menoleh pada Lia
"Maaf kek, Lia kira. . ."
"Sudahlah, kemarilah duduk dekat kakek." Lia pun menghampiri kakek Bromo.
"Kek, kakek disini tinggal dengan siapa? Kenapa Lia merasa rumah ini ada yang berbeda atau ada yang kurang."
"Kakek tinggal bersama beberapa orang di sini, tapi kakek lebih suka sendirian."
"Kenapa kek, bukannya di usia kakek Seperti ini harus bersama dengan orang-orang terdekat agar kakek bisa menghabiskan waktu dengan penuh kebahagian."
"Dengarkan kakek cu, semenjak kakek kehilangan nenek dan anak kakek, jiwa kakek seolah telah lenyap. Kebahagiaan itu hilang dalam sekejap, kakek tak tahu harus menyalahkan siapa? Orang-orang yang kakek sayangi meninggalkan kakek begitu cepat, rasanya kakek ingin segera menyusul mereka, tapi kakek terlanjur berjanji dengan Bara untuk menunggunya sampai dia menikah agar Kakek bisa tenang pergi."
"Jangan bicara begitu kek, kakek masih kuat dan bisa bertahan lebih lama lagi."
"Cu, apa kamu benar-benar mencintai cucu kakek yang nakal itu?"
"Emmm anu kek, Lia. . Lia. ..belum bisa jawab Sekarang kek, karena mas Bara mendadak mengutarakan keinginannya pada Lia.
"Memang dia, sangat persis dengan papanya. jika sudah menginginkan sesuatu tak pernah memakai rencana selalu saja buru-buru. Sama seperti saat papanya Bara melamar anak kakek. Dia juga dadakan, gak peduli kami setuju atau tidak."
"Kek, bolehkah Lia tanya sesuatu pada kakek, Lia?" Kakek Bromo pun mengangguk.
"Seandainya, Lia mau menikah dengan mas Bara dan tau kalau Lia tidak bisa jadi istri yang sempurna, apakah dia akan menceraikan lia.'
__ADS_1
"Tidak ada perceraian dalam tradisi kami, jika itu terjadi bisa menjadi kutukan untuk keluarga kami, jika memang cucu punya masalah yang membuat kegundahan di hati. Bicarakan baik-baik sebelum semuanya terlambat dan menjadi penyesalan."
"Baiklah kek, terimakasih atas saran kakek, Lia akan berusaha bicara dengan mas Bara Sebelum semuanya terlambat dan menjadi penyesalan. Oya kek mana mas Bara kok gak kelihatan?"
"Aku di sini?" Saut Bara yang sudah ada di depan pintu. Kakek Bromo dan Lia menoleh ke arah Bara bersamaan.
"Mas Bara dari mana? kenapa ninggalin Lia di sini sendiri." tanya Karin.
"Kita lanjutkan pembicaraan di kamar saja."
"Kamar? memang kita tidur sekamar?"
"Kenapa memangnya gak mau? buat perkenalan sebelum kita nikah."
"Nikah lagi, nikah lagi yang di omongin emangnya gak ada yang lain apa pembicaranya" gerutu Lia, Bara menarik tangan Lia dan membawanya ke kamar.
"Jangan dekat-dekat, kita gak sepantasnya tidur satu kamar."
Bara hanya tersenyum kecut, "Apa kau lupa kita pernah tidur satu ranjang bahkan kau memeluk tubuhku sangat erat."
"Kapan, aku tak pernah merasa pernah tidur seranjang denganmu, jangan bicara asal ya, aku tidak suka itu."
"Apa kau lupa? jangan munafik kau pasti pura-pura lupa, kau menahanku dan memintaku memeluk tubuhmu yang sedang kedinginan."
"Aku, aku yang memintanya. . . mungkin aku khilaf, itu kan karena mas Bara tiba-tiba saja masuk dan melihatku yang sedang kedinginan saat sedang sakit. Bukan berarti aku menginginkan itu." wajah Lia memerah
"Terus apa bedanya dengan sekarang?"
"Jelas beda, sekarang kita benar-benar sadar. Jadi lebih baik mas keluar atau aku yang keluar." usir Lia.
__ADS_1
Bara mendekati wajah Lia yang masih memerah, "Apa mau kita cobanya sekarang?" bisik Bara di telinga Lia dan membuat bulu kuduk Lia merinding.
"Mas. . ." tegas Karin dan Bara terus saja menatap Lia yang salah tingkah.
Tak lama Bara mendaratkan ciumannya di kening Lia, "Tidurlah hari sudah malam, biar aku tidur di sofa, Jangan berpikiran yang aneh-aneh, aku hanya menggodamu ingin tahu bagaimana reaksimu. Lagian ini kamar orang tuaku aku gak mau menodainya."
Nafas Lia yang awalnya tak beraturan kini mulai stabil, ia merasa lega, Bara tak berbuat nekad Seperti yang sudah di bayangkan.
Lia membolak-balikkan tubuhnya, begitu banyak masalah yang datang bertubi-tubi, yang satu belum mendapatkan jalan keluar sudah datang lagi masalah lain yang membuat hatinya gundah.
"Jika bunuh diri itu tidak di benci Tuhan, mungkin lebih baik aku bunuh diri dari pada harus menanggung beban yang entah dapat aku pikul atau tidak? aku tak tahu lagi harus bagaimana dan harus kemana aku melangkah aku sudah lelah, menjalani hidup ini. Ya Tuhan jika waktu dapat ku putar kembali berikan aku kesempatan untuk hidup bersama mas Rian kembali, karena hanya dia yang bisa membuatku bahagia dan berani melawan hari-hari yang menyakitkan." kata hati Lia di sela kegelisahannya di penghujung malam.
"Kenapa aku ini menjadi laki-laki yang plin-plan, kenapa ini?. Wanita yang sedang bersamaku ini sudah membuat hatiku kacau balau, dia mampu meluluhkan hatiku yang sebelumnya seperti balok es selalu dingin dan angkuh, dan setiap ada di dekatnya hatiku terasa bahagia. Apa ini Karena naluriku sebagai lelaki yang selalu ingin melindungi wanita yang sudah membuat hatiku luluh atau ini hanya rasa kasihan dan tanggung jawab atas semua ke egoisan yang membuatnya menderita. Entahlah apapun alasannya aku akan berusaha bisa menikahinya agar aku benar-benar tenang." Kata hati Bara yang masih saja termenung menyandarkan kepalanya di ujung sofa, Sebelum kantuk menyerang.
Belum saja terlelap dalam tidur. Entah apa yang terjadi tak ada angin dan tak ada hujan lampu tiba-tiba saja mati, Entah terjadi Pasaman atau konsleting listrik yang jelas itu membuat Lia ke takut.
"Mas. . .mas Bara masih ada di situ? mas Lia takut ini terlalu gelap." panggil Lia namun tak ada suara tanda-tanda Bara.
Sebuah cahaya dari lampu ponsel tiba-tiba berada di dekat Lia.
"Tenang Lia, aku ada di sini" ucap Bara yang sudah berada di samping Lia.
"Jangan jauh-jauh, Lia susah nafas kalau gelap dan Lia juga takut." Lia tiba-tiba saja memeluk Bara begitu erat tak ingin bara meninggalkannya.
"Aku gak akan kemana-mana, sekarang kembalilah tidur, aku ada di sini menjagamu." ucap Bara menenangkan Lia agar tak takut.
"Janji, jangan tinggalin Lia sendirian." Lia pun kembali meletakkan kepalanya di bantal namun tangannya masih memegang lengan Bara yang duduk di sampingnya.
MAKASIH SUDAH MAMPIR JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK.
__ADS_1