
Lia melewati hari begitu lambat, seolah satu jam terasa seperti satu tahun di dalam rumah sakit, ia hanya bisa berbaring dan menahan rasa sakit yang teramat sangat yang selalu melandanya. bahkan nafsu makan pun mulai berkurang.
"Ma-ma..." panggil Alvin
"Ma-ma..." panggil Raihan
Suara kecil yang menggema di telinga Lia. Seolah malaikat kecil datang untuk memberikan semangat pada Lia saat ini.
Alvin dan Raihan datang bersama dengan babysitter masing-masing sengaja di ajak Bara datang ke rumah sakit untuk menjenguk Lia yang akan operasi malam harinya.
Lia yang terbaring di atas ranjang, dengan wajah pucat, Hanya bisa tersenyum melihat kedua buah hatinya.
Lia ingin memeluk dan mengendong kedua putranya, tapi apalah daya tak mampu untuk bergerak. Lia hanya bisa mengelus pipi kedua putranya dengan mata berkaca-kaca.
"Alvin, Raihan, doain mama sayang, biar mama cepat sembuh dan bisa peluk kalian lagi. Mama bosan di sini lama-lama, mama pengen segera bisa bermain dengan kalian." Alvin menggenggam jemari Lia saat tangan Lia mengelus pipinya.
"Yang sabar ya nyonya, mudah-mudahan nyonya bisa melewati masa operasi dan bisa segera pulih." ucap babysitter Raihan.
__ADS_1
"Aku titip anak-anak, tolong jaga dan rawat mereka dengan baik, aku percaya kalian pasti akan merawat anak-anakku dengan baik."
Alvin terus menggenggam erat jemari Lia, seolah di paham mamanya akan berjuang di ruang operasi.
Selama beberapa jam, Alvin dan Raihan menemani Lia, Tingkah lucunya mereka saat bermain membuat Lia tersenyum. Setelah puas bermain bersama mereka pun di bawa pulang. Lia hanya bisa menatap Alvin dan Raihan yang tertawa tanpa beban.
Bara sepanjang hari menemani Lia, menguatkan Lia yang sesekali mengeluh menahan rasa sakit yang teramat sangat.
"Mas, sakit..." keluh Lia dengan suara lemah sambil memegang perutnya. Dengan lembut Bara mengusap perut Lia.
"Mas Lia mau tidur di pangkuan mas, Lia pengen di peluk dengan hangat sama mas." Lia mulai berbicara tak beraturan. Bara berusaha menahan air matanya yang hampir penuh di matanya.
Bara pun menuruti, semua permintaan Lia, apapun itu.
*****
Pukul 20.00, jadwal Lia untuk menjalani operasi, Bara terus memberi semangat pada Lia, kalau ia akan sembuh.
__ADS_1
Bara yakin Lia bisa melewatinya, walaupun kurang dari 60% kemungkinan untuk sembuh. Setidaknya bisa mengurangi rasa sakit dan mengurangi penyebaran kanker ke organ yang lainnya.
Waktu operasi pun tiba, Bara menggenggam erat tangan Lia terus menerus sampai depan ruang operasi.
"Yang kuat ya sayang, aku yakin kamu bisa melewati ini, biar nanti kita bisa berkumpul kembali, mas akan menunggu di sini sampai operasinya selesai." ucap Bara Sebelum melepas genggaman tangannya.
Saat Lia sudah di bawa ke ruang operasi, Bara mondar-mandir, mencoba menenangkan dirinya sendiri, berharap Lia akan sembuh dan bisa melewati masa kritisnya.
Kurang lebih hampir dua jam Lia berada di ruang operasi. Dan akhirnya operasi pun selesai. Para dokter dan perawat yang membantu operasi Lia mulai meninggalkan ruang operasi dan memindahkan Lia di ruang pemulihan.
Sedikit kelegaan dapat dilihat dari wajah Bara, saat dokter memberitahukan, operasi pengangkatan rahim Lia berhasil tinggal menunggu pemeriksaan lanjutan, mengenai penyebaran sel kankernya.
🌟🌟🌟
Setelah melalui tahapan pemeriksaan lanjutan, dokter sudah mengizinkan Lia untuk di rawat di rumah dengan syarat yang begitu banyak yang harus di patuhi selama masa pemulihan. Dan yang terpenting yaitu selalu kontrol untuk memastikan kesembuhannya.
Rasa sakit yang di rasakan Lia sangat luar biasa di hari-hari pemulihan pasca operasi, di tambah lagi sekarang dirinya dalam keadaan mandul atau selamanya tak akan bisa memberikan keturunan untuk suaminya. Membuat Lia masih dalam keadaan tertekan, namun dukungan Bara mampu menguatkan Lia untuk bisa cepat sembuh.
__ADS_1