Sekertarisku Ibu Susu Putraku

Sekertarisku Ibu Susu Putraku
Selamat tinggal


__ADS_3

Manusia bisa berencana, namun Tuhan yang menentukan. Satu jam sebelum Sekar menjalani operasi dirinya menghembuskan nafas terakhir. Lia yang bersamanya pun tak mampu menahan tangisannya. Lia pun menangis sejadi-jadinya karena dirinya harus kehilangan Mamanya untuk selamanya.


Sebelum Sekar meninggal ia sempat berbicara kepada Lia.


"Lia anakku sayang, maafkan mama jika selama ini mama tak bisa menjadi ibu yang terbaik buatmu, tak bisa menjadi pelindungmu di saat kamu membutuhkan mama. Sebelum mama pergi. Mama hanya ingin mengatakan padamu, carilah kebahagiaan yang kamu inginkan, tak akan ada yang bisa menghalangimu lagi untuk mendapatkan apa yang kamu inginkan termasuk papamu. Dia hanya butuh sedikit pengertian lagi agar papamu bisa lebih memahami ke inginanmu. Mama percaya papamu akan lulu hatinya suatu hari nanti. Hanya satu pinta mama, jangan sia-siakan kebahagiaan yang kamu miliki dengan sebuah pengorbanan yang akan menghancurkan hidupmu. Pinta mama untuk yang terakhir kalinya tolong jangan benci mama dan papa. Jangan biarkan hatimu membatu oleh kebencian." pesan terakhir yang sempat Sekar sampaikan pada Lia.


"Iya ma, Lia akan ingat semua pesan mama. Lia tak pernah membenci mama dan papa. Lia sayang kalian. Apapun yang kalian lakukan itu semua semata-mata demi Lia. Lia saat ingin sudah mendapatkan kebahagiaan Lia. Keinginan Lia sudah Lia dapatkan. jangan kuatirkan Lia lagi ma. Lia sudah dewasa Lia tahu jalan yang Lia pilih." ucap Lia dan Sekar pun tersenyum sebelum menghembuskan nafas terakhirnya.


Lia pun berteriak meminta bantuan agar dokter segera menyelamatkan mamanya. Namun sayang saat dokter datang nyawa Sekar sudah tak tertolong. Sata yang mendengar kematian istrinya seakan tak terima. Laki-laki yang terlihat sangat Arogan kini menangis seperti anak kecil. "Ma, jangan tinggalkan papa, mama sudah janji akan menemani papa sampai usia senja. Tapi kenapa mama ingkari. Bangun ma, papa gak bisa hidup tanpa mama. Maafkan papa ma,jika selama ini papa kurang memberikan perhatian sama mama. Ayo bangun ma... bangun..." Sata terus menangis.


_____


Hari itu juga, Sekar di makamkan setelah semua selesai di urus. Berita duka tentang kematian nyonya Sekar Halilintar pun tersebar ke seluruh media. Bara pun saat itu mendengar kabar tentang mertuanya yang meninggal langsung berangkat menyusul Lia tanpa memberitahu Lia sebelumnya.


Setelah prosesi pemakaman selesai, mereka semua kembali pulang menyisakan, Lia dan Toni.


"Aku turut berdukacita atas meninggalnya Tante Sekar, Aku gak nyangka begitu cepat Tante meninggalkan kita." Toni memegang pundak Lia.


"Mungkin ini yang terbaik buat mama, semoga mama tenang di sana."


"Ambillah ini, sudah saatnya aku memberikan ini untukmu dan ini sudah atas persetujuan Tante Sekar." Toni memberikan sebuah berkas pada Lia.

__ADS_1


"Apa ini mas?" tanya Lia sambil membuka berkas itu dan membacanya.


"Tante Sekar dan almarhum papa memiliki bisnis bersama, dan setelah papa meninggal Tante Sekar mempercayakan bisnisnya untuk aku kelola dan sekarang Tante sudah pergi dan kamulah satu-satunya pewaris tunggal yang berhak memegang bisnisnya. Dan sekarang aku serahkan bisnis ini padamu seluruhnya dan separuh saham dari milik mamamu aku serahkan padamu anggap saja itu sebagai hadiah pernikahanmu." Lia tercengang mendengar Toni mengetahui pernikahannya.


"Mas... mas Toni sudah tahu semuanya?" tanya Lia dan Toni hanya tersenyum.


"Tentu saja aku tahu, dan kamu tahu sendiri kan hotel tempat kamu dan Bara menikah itu hotel milikku. Dan asal kamu tahu. sejak awal kamu kabur dan kamu berada di mana aku pun tahu. Aku sengaja tak menemuimu karena aku tak mau menjadi penghalang kalian."


"Bukankah mas Toni ingin sekali menikah dengan ku?"


"Ya, jujur saja aku suka padamu dan laki-laki mana yang tak jatuh hati pada dirimu. Tapi aku sadar bahwa mencintai seseorang tak harus dengan memilikinya cukup dengan melihat dia bahagia itu sudah lebih dari cukup. Maafkan aku atas sikap dan perbuatanku di masa lalu. Dan sekarang aku harus kembali, tetap semangat dan berjuang untuk mendapatkan restu papamu aku rasa papamu akan segera Luluh hatinya." Toni pun memeluk Lia sebelum pergi meninggalkan Lia.


Lia hanya memandang kepergian Toni, Sesekali Toni melambaikan tangan dan tersenyum sebelum ia masuk ke dalam mobil. Lia pun melambaikan tangan melepas kepergian Toni.


"Sejak datang tuan langsung masuk kamar dan belum ada keluar."


Lia pun segera menghampiri kamar papanya dan melihat keadaannya, walau bagaimanapun papanya pasti masih shock dengan kepergian Sekar. Lia ingin memastikan bahwa papanya baik-baik saja.


Saat sampai depan pintu, Lia langsung membuka pintu kamar papanya dan melihat papanya sedang duduk sambil memandang foto mamanya. Lia pun langsung memeluk Sata dan menumpahkan tangisnya, segera saja Sata membalas pelukan putrinya.


"Kenapa mamamu ingkar janji, kenapa dia tidak menunggu papa. Ini semua salah papa yang tak pernah peka dengan kondisi mamamu, papa terlalu sibuk dengan pekerjaan papa hingga lupa bahwa ada yang sedang menunggu papa dan ingin menghabiskan waktu bersama keluarga." Ucap Sata

__ADS_1


"Pa, ikhlas kan mama, ini yang terbaik buat mama. Mama mungkin sudah lelah dengan rasa sakit yang di deritanya, papa jangan salahkan diri papa, mama pasti tak mau melihat papa seperti ini, yang terpenting sekarang kita banyak-banyak kirim doa buat mama agar mama tenang di sana."


"Maafin papa yang sayang, papa tak becus jadi kepala rumah tangga."


"Lia tak pernah membenci atau menyalahkan papa. Sekarang papa istirahat, jangan sampai papa sakit. Lia gak mau papa kenapa-kenapa. Lia akan selalu ada di sini bersama papa." Lia pun mengantarkan papanya untuk istirahat di ranjang. Lia mencoba kuat dan tegar menghadapi semua cobaan yang sedang di hadapinya.


Lia pun kembali ke kamar, dan ingin menghubungi suaminya yang saat ini hanya dia yang bisa mengobati kesedihan yang ia rasakan, Lia nampak terkejut setelah dua hari ponselnya tak ia pegang. pesan dari Bara pun menumpuk belum lagi panggil yang begitu banyak. Segera Lia menghubungi kembali Bara dan syukur Bara langsung mengangkat.


"Bisakah sayang menyambut ku?" Pertanyaan Bara.


"Memangnya mas di mana?"


"Keluar dan ke gerbang depan." Bara pun langsung mematikan ponselnya.


"Keluar dan ke gerbang? apa mungkin mas Bara ada di kota ini dan datang ke sini." gumam Lia dan ia pun buru-buru berlari ke gerbang yang masih di tutup.


"Buka gerbangnya!" perintah Lia pada penjaga gerbang.


"Tapi nona? di luar ada orang yang memaksa untuk masuk. Dan tuan sudah memerintahkan saya untuk tak mengizinkan orang asing masuk."


"Apa kamu gak dengar, buka gerbangnya sekarang atau kamu mau saya pecat sekarang juga." bentak Lia dan Penjaga itu pun dengan buru-buru membuka gerbangnya yang bergerak secara otomatis. Yang pertama kali di lihat Lia saat gerbang terbuka adalah seorang laki-laki yang sedang berdiri di depan gerbang dan laki-laki itu sangat ia kenali.

__ADS_1


"Mas Bara..." Panggil Lia lalu berlari menghampiri suaminya dan memeluknya. Lia begitu bahagia setelah beberapa waktu tak bertemu bahkan tak menghubungi kini suaminya ada di depan matanya.


"Mas... aku merindukanmu. Maafkan aku yang tak sempat memberi kabar. Aku bahagia mas, di saat Lia butuh mas dan sekarang mas ada di sini menemui Lia."


__ADS_2