
Lia pergi bersama mama Sekar, untuk membeli semua kebutuhan Alia kesalah satu mall. Selama di perjalanan Lia mencoba menghubungi Bara namun tak ada jawaban, Lia pun mengirimkan pesan pada Bara, dengan berisikan luapan amarah yang telah tega meninggalkannya. Namun tak ada balasan dari Bara.
Sekar yang memperlihatkan tingkah putrinya, mencoba mengalihkan perhatian.
"Andai Arjun masih ada, pasti dia akan sangat bahagia, Melihat kakaknya kembali."
Mendengar ucapan mamanya, Lia pun menoleh ke arah mamanya dan baru sadar bahwa salah satu keluarganya tak nampak.
"Memangnya Arjun kemana ma?, maaf Lia lupa kalau Lia masih punya adik."
"Adikmu sudah tenang di alamnya. Mungkin itu lebih baik daripada harus bertengkar dengan papamu."
"Maksud mama ... ? Lia gak faham."
"Adikmu sudah meninggal dua tahun lalu akibat kecelakaan, mama sangat syok mendengar kabar itu, baru beberapa jam yang lalu mama melihat Arjun bertengkar dengan papamu dan beberapa jam kemudian mama mendengar adikmu meninggal di tempat kerena mengalami pendarahan di otaknya. " jelas Sekar di sela Isak tangisnya.
"Ini semua pasti gara-gara papa, kenapa sih papa terlalu egois dan mementingkan diri sendiri, apa gunanya harta, tahta, kedudukan jika harus mengorbankan keluarga, Apakah papa bangga dengan pengorbanannya itu. Aku benci papa, tak akan mudah bagiku untuk bisa memaafkan papa."
"Mama juga gak tahu, apa yang ada di benak papamu, mama sudah berusaha bicara dengan papamu untuk menurunkan sedikit egonya, tapi apalah daya mama. Tak bisa berbuat apa-apa, jika papamu sudah berkata tidak, jangan, dan biarkan."
Tak terasa mereka pun sampai di salah satu mall tujuan mereka. Dan Sebelum mereka turun dari mobil sebuah panggilan dari suami Sekar dan memintanya untuk datang ke kantor.
"Setelah belanja kita kekantor papa, ya sayang."
"Ngapain ma kita kesana, Alia malas bertemu papa. lebih baik Lia pulang naik taksi aja biar mama sendiri yang ke sana." Alia melipat kedua tangannya ke dada, merasa tak ingin melihat wajah papanya walaupun sedetik.
"Jangan begitu sayang, walau bagaimanapun di itu papamu. Dan tidak bisa di pungkiri, jangan terlalu memaksakan diri untuk membenci papamu, mama tahu kamu sayang dengan papamu begitu juga dengan papamu yang juga sayang padamu." jelas Sekar.
__ADS_1
"Gak tau ah, Lia malas berdebat membahas papa, lebih baik masuk dan menghabiskan uang papa buat belanja, anggap aja tabungan Lia selama ini yang tak papa berikan" Sekar hanya menggelengkan kepala melihat putrinya yang tumbuh dewasa dan memiliki sifat papanya yang keras kepala.
Alia memuaskan diri berbelanja, kebutuhannya seperti ketiban rezeki nomplok, setelah bertahun-tahun, hanya bisa berhemat untuk memenuhi kebutuhannya dan menahan keinginan untuk membeli sesuatu yang dia inginkan, hari ini ia lampiaskan dengan membeli barang-barang yang pernah ia inginkan.
Tanpa Lia sadari Bara beberapa kali melakukan panggilan namun tak di jawab Lia, karena terlalu sibuk berbelanja dengan mamanya, setelah sekian lama tak pernah menghabiskan waktu bersama. Mereka begitu bahagia menghabiskan waktu bersama, hingga tak terasa sudah sore.
Begitu banyak belanjaan yang Lia beli dan mampir memenuhi mobil.
"Ma, Makasih waktu yang mama luangkan buat Lia, Lia tak pernah membayangkan apa yang Lia harapkan di bisa terwujud hari ini, dengan menghabiskan waktu bersama mama."
"Iya sayang, mama juga sangat senang bisa menghabiskan waktu bersama putri mama yang sangat mama sayangi."
Mereka pun pergi ke kantor untuk menemui pak Sata. Lia tak pernah membayangkan jika dirinya terlahir dari keluarga Halilintar yang memiliki perusahaan yang begitu besar dan megah.
Saat mereka berdua datang, semua karyawan yang melihat memberikan salam kepada istri pemilik perusahaan dan mungkin mereka bertanya-tanya siapa tentang Alia.
Setelah selesai memarahi sekertarisnya, dan mulai mereda emosinya. Pak Sata memandang putrinya yang acuh padanya.
"Lia kemarilah papa mau bicara!" perintah Sata
.Dengan langkah malas Lia duduk di hadapan papanya.
"Iya ..., ada apa?" tanya Lia dengan raut tak suka.
"Sekarang kamu sudah kembali, bersama kami dan kamu adalah satu-satunya putri papa, papa sudah menyekolahkan kamu di sekolah yang berkualitas, dan sekarang papa ingin kamu menggunakan ilmu yang selama ini kamu pelajari di sekolah dengan bekerja di perusahaan ini, karena suatu hari nanti kamulah yang akan memiliki perusahaan ini." jelas Sata.
"Lia gak mau, Lia gak mau berlama-lama di sini, Lia akan pergi ikut suami Lia kalau mas bara sudah menjemput Lia." tolak Lia.
__ADS_1
Sata memukul meja, mendengar jawaban Lia yang mengecewakan dirinya.
"Jangan jadi anak durhaka kamu Lia, hanya kamu satu-satunya pewaris papa yang ada, jika kamu menolak dengan siapa lagi papa akan menyerahkan harta kekayaan papa yang sudah papa kumpulkan selama ini."
"Apa gunanya harta yang berlimpah dan kedudukan, Jika Lia tak bisa bahagia. Lia gak bisa hidup seperti papa yang rela mengorbankan kebahagiaan keluarga hanya demi mengejar harta yang sesaat." saut Lia yang tak mau kalah dengan papanya.
Sekar hanya bisa berusaha menenangkan kedua api yang membara.
"Sudah Lia, jangan Lawan papamu. Turuti permintaan nya demi mama, jangan buat papamu naik pitam sayang. "
Lia menarik nafas dalam-dalam dan mencoba mengendalikan emosinya begitu juga dengan Saya.
"Dengarkan papa Lia, papa harap kamu bisa merubah keputusanmu dan mau melakukan permintaan papa."
"Akan Lia pikirkan lagi."Lia pun pergi keluar ruangan meninggalkan orang tuanya.
Sekar pun bicara pada suaminya dan menenangkannya.
"Biarkan mama nanti bicara sama Alia, dan papa jangan terlalu menekannya, jangan buat dia tidak betah tinggal bersama kita, mama gak mau kehilangan dia lagi pa."
"Mama urus putri mama yang keras kepala itu, dan pastikan dia menyetujui keinginan papa."
"Mama akan berusaha. kalau begitu mama pulang dulu, kita bicarakan nanti di rumah. Jangan lupakan, kalau dia itu putri papa yang papa warisi sifat papa yang juga keras kepala." Sekar sedikit menggoda mencair suasana hati suaminya.
"Mama ...," ucap Sata dan Sekar hanya tersenyum dan berlalu pergi meninggalkan ruang kerja suaminya dan menyusul Lia yang sudah menunggu di mobil dengan wajah bete-nya.
"Baru saja aku kembali, bukannya mendapatkan kasih sayang orang tua, malah dibuatnya makin tak betah. Mas Bara, kenapa juga harus ninggalin Lia. Kan Lia sudah nyaman tinggal di sana." Di sela gerutunya Lia baru menyadari bahwa dia masih memiliki anak kandung yang masih berada di tangan bekas mertuanya. Mungkin jika ia cerita dengan orangtuanya mungkin mereka akan bisa membantu mendapatkan hak asuh apalagi jika orang tuanya tahu bahwa mereka sudah memiliki cucu laki-laki.
__ADS_1