
Lia kembali keruangan dengan memakai masker dan kaca mata, Serta mengikat rambut yang jarang sekali ia lakukan. Bara tercengang melihat penampilan Lia yang mendadak berubah.
"Lia, kamu kenapa. pakai masker dan kacamata segala? emang matamu jadi rabun gara-gara memandangku setiap hari."
"Lia mendadak elergi mencium bau parfum bapak." bohong Lia.
Tak lama telpon kantor berdering, Lia segera mengangkatnya dan itu dari resepsionis. Dia memberitahukan bahwa pak Bambang sudah datang.
"Pak, ini dari resepsionis dan bilang pak Bambang sudah datang." ucap Lia pada Bara.
"Suruh saja datang keruangan." perintah Bara.
"Baik pak." Lia pun memberitahukan resepsionis kalau pak Bambang sudah di tunggu pak Bara di ruangannya.
Tak butuh waktu lama, pak Bambang datang keruangan Bara dan Lia langsung membukakan pintu. Benar saja pak Bambang yang datang adalah mertua Lia, yaitu papa dari mas Rian.
Lia terbelalak dan gugup mendapati kedatangan pak Bambang, Lia takut dirinya di kenali oleh mertuanya..
"Silahkan masuk pak, pak Bara sudah menunggu." ucap Lia dan pak Bambang hanya mengangguk dan masuk.
"Apa kabar pak Bambang, sudah lama kita tidak bertemu. Ada angin apa yang membuat pak Bambang sampai membuat janji bertemu dengan saya?" ucap Bara sambil menjabat tangan pak Bambang.
"Kabarku baik pak, ada suatu hal yang ingin bapak bicarakan dan semoga bapak bisa membantu saya. Tapi sebelumnya saya minta maaf atas kejadian 2,5 tahun yang lalu yang membuat kerjasama kita putus."
"Memang seharusnya bapak minta maaf, tapi itu dulu bukan sekarang. Langsung saja katakan apa tujuan bapak datang kesini, dan jangan basa-basi saya tidak ada waktu banyak."
Pak Bambang menarik nafas panjang dan langsung mengutarakan maksudnya.
__ADS_1
"Saya. . . saya ingin minta bantuan pak Bara untuk menyetabilkan perusahaan saya yang mulai bangkrut dan membutuhkan dana, juga saya masih membutuhkan dana untuk pengobatan cucu saya yang mengalami kanker ginjal dan harus menjalani pengobatan sampai sembuh. Saya tidak mau kehilangan cucu dan juga perusahaan saya. tolong bantu saya saya membutuhkan dana 50M."
"Maksudmu anak Bunga? itu urusan anda dan saya tidak tertarik untuk itu, apa lagi saya harus mengeluarkan uang saya."
"Bukan nak, bunga masih belum menikah, dia masih di Paris dan Minggu depan baru pulang."
"Terus cucumu yang mana lagi?" tanya Bara penasaran.
"Anak Rian. Rian dan istrinya meninggal karena kecelakaan dan cucu saya selamat dan sekarang hanya saya dan istri saya keluarga yang dia miliki. Namun sayang cucuku mengidap kanker ginjal, dan sampai sekarang masih menjalani pengobatan. Tolong kasihanilah cucu saya pak. Dia masih sangat kecil dia masih berusia 5 bulan.
Lia yang mendengar percakapan antara papa mertuanya dan juga Bara merasa syok mendengar fakta yang membuat dirinya terkejut.
"Tidak. . .tidak mungkin anak yang di maksud papa adalah anak mas Rian dan itu berarti dia anak ku, jika itu benar berarti anakku masih hidup. Ya Tuhan, apakah yang aku dengar ini benar. Anakku masih hidup, dan anak siapa yang meninggal dan diakui itu anakku. Pak kenapa papa tega memisahkan aku dan anakku dan kenapa juga papa katakan aku meninggal pa, aku masih hidup dan papa tahu itu. Aku butuh penjelasan dari papa sekarang, aku harus tahu kenyataannya." gumam Lia dengan air mata mengalir di pipinya dan berusaha menyembunyikannya dari Bara dan mertuanya. Namun saat Lia ingin angkat bicara Bara bara lebih dahulu menjawab pak Bambang.
"Bagiku uang yang kau inginkan itu tak seberapa. Tapi, Jaminan apa yang bisa pak Bambang berikan, jika saya mau mengeluarkan uang untuk bapak. Saya gak mau mengeluarkan uang dengan sia-sia."
Bara melirik Lia, yang masih saja gelisah, " Tawaran menarik, tapi maaf saya sudah tidak tertarik padanya. Biarkan saya fikirkan dulu apa yang pantas dan yang harus di serahkan padaku."
"Tolong pak, bantu saya. Saya benar-benar gak ingin kehilangan cucu dan juga perusahaan saya."
"Apakah kita bisa melihat kondisi cucu bapak, untuk memastikan ucapan bapak. Karena dana yang bapak butuhkan itu sangat besar, dan jgua buat pertimbangan pak Bara untuk itu." kata-kata Lia tiba-tiba saja keluar tanpa se izin Bara.
"Lia. . ." bentak Bara
"Maaf pak, Lia gak bisa menutup mulut Lia dan sudah berani ikut campur urusan Bapak. sekali lagi Lia minta maaf." Lia menundukkan wajahnya merasa bersalah dan memilih keluar meninggalkan mereka karena sudah tak mampu menahan tangisnya.
Saat keluar tanpa sengaja Lia menabrak Akas, namun Lia langsung pergi ke arah toilet.
__ADS_1
"Lia kamu kenapa. . ." ucap Akas yang merasa aneh dengan Lia.
Sesampainya di toilet Lia langsung mengunci pintu dan menumpahkan semua tangisnya yang ia coba bendung.
"Kenapa.... kenapa.... ini harus terjadi. . . Kenapa papa tega memisahkan aku dengan anakku. . .apa salahku sampai mereka begitu tega melakukan itu." Lia terisak-isak dalam tangisannya.
"Mas Rian, apa salah Lia sampai harus menanggung semua ini, kenapa mereka jahat pada Lia. Anak kita masih hidup mas, dan sekarang sedang berjuang melawan penyakitnya, tapi kenapa keluarga mas masih tega merahasiakan ini semua pada Alia. Itu anak Alia darah daging Alia gak seharusnya mereka memisahkan Alia dan anak Alia."
Lia tak hentinya menangis menumpahkan seluruh isi hatinya yang merasa di perlukan tidak adil oleh mertuanya.
Di sisi lain bara dan Pak Bambang sudah selesai dengan urusannya dan pak Bambang pun sudah pulang. Namun Lia juga belum kbali keruangan membuat Bara sedikit cemas.
Akas masuk ke ruangan Bara, mengantarkan dokumen yang Bara minta.
"Akas apa kamu ada melihat Lia, sedari tadi dia belum ada kembali ke sini."
"Aku tadi sempat bertabrakan dengannya dan dia nampak tak seperti biasa dan berlari menuju toilet. Apa kalian ada masalah?"
"Sepertinya aku tadi sudah keterlaluan padanya, membentaknya dengan nada yang sedikit kasar. Tapi ini terlalu lama jika dia masih di toilet, apa kamu tak melihatnya ke kantin atau kemana? gak mungkin dia pulang sedangkan tasnya masih ada di meja."
"Aku sama sekali gak ada melihat Lia, padahal aku mondar-mandir dari tadi. Apa aku perlu mencarinya, aku takut Lia kenapa-kenapa?"
"Kamu lanjutkan kerjanya, biar aku yang cari sendiri Lia. Ini juga pasti gara-gara aku. Nanti kalau ada Lia kembali segera hubungi aku." Bara pun bergegas pergi meninggalkan ruangan mencari keberadaan Lia dan itu membuat Bara gelisah.
TERIMAKASIH SUDAH MAMPIR DAN JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK LIKE, VOTE, HADIAH DAN JANGAN LUPA DI FAVORIT KAN.
TERIMAKASIH YANG SELALU SETIA MENUNGGU DAN MEMBACA SETIAP UPDATENYA.
__ADS_1