Sekertarisku Ibu Susu Putraku

Sekertarisku Ibu Susu Putraku
siapa yang mau menikah


__ADS_3

Seperti rutinitas biasanya, Lisa melakukan pekerjaannya dengan baik. Walaupun Bara belum memberikan keputusannya atas permintaan Lisa untuk menikahinya.


Tak hanya itu Lisa pun terus menggagalkan rencana Ayu yang selalu mencampur sesuatu pada minuman Bara.


Bara pun belakangan lebih menyibukkan diri ke kantor seolah-olah ingin menghindari Lisa. Tingkah laku Bara yang menghindari dirinya membuatnya sedih. Ia pun selalu kembali menyendiri ke kamar setelah semuanya selesai.


Hari ini tepat satu Minggu dari kejadian tak terduga itu, Lisa melakukan pekerjaannya dan selesai tepat waktu, Sedangkan Bara tak banyak bicara dengan Lisa hanya sesekali memerintahkannya.


"Lisa kemarilah! aku ingin bicara sesuatu padamu." panggil Bara pada Lisa yang hendak keluar kamar.


"Iya tuan, ada apa?"


Bara melemparkan kartu yang merupakan alamat sebuah hotel berbintang.


"Untuk apa ini tuan? saya tidak paham."


"Nanti pukul 4 sore datang ke alamat itu sendiri dan jangan sampai terlambat."


"Untuk apa saya harus datang ke hotel berbintang ini, saya hanya seorang pelayan jadi gak pantas saya menginjakkan kaki di hotel mewah ini."


"Siapa bilang hotel mewah hanya untuk orang-orang berkelas saja. Semua orang bisa datang dan menikmati fasilitas yang ada yang terpenting punya uang. Sudahlah jangan membantah, aku harus pergi kerja. jangan lupa datang tepat waktu dan jangan terlambat satu detik pun." ucap Bara lalu bangkit berdiri dari sisi ranjang dan melangkah pergi untuk segera berangkat kerja.


Lisa masih terdiam dan sesekali menatap alamat yang di berikan Bara padanya.


______


Sesampainya di kantor, Bara segera menyelesaikan pekerjaan yang ada secepat mungkin. Dan sesekali sibuk dengan ponselnya.


Ketukan pintu menghentikan semua aktivitas Bara.

__ADS_1


"Masuk..." Ucap Bara dan langkah kaki yang beradu dengan lantai menjadi pengiring kedatangannya.


"Aku rindu tempat ini, setelah beberapa bulan aku tinggalkan dan kini akhirnya aku bisa kembali dengan terhormat di kantor ini." ucapnya sambil sesekali menghirup aroma wangi ruangan.


"Maafkan aku, saat itu otakku benar-benar sudah tidak bisa bekerja, tak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Dan sekarang kamu bisa menempati posisimu kembali dengan terhormat, aku sudah membersihkan nama baikmu."


"Iya... baiklah, aku juga sudah gak sabar. Lain kali jadi pria yang smart, jangan terlalu menampakkan kebodohanmu, biar gak mudah di manfaatin orang lain. 10 tahun aku menemanimu baru kali ini aku melihatmu jadi laki-laki yang amat sangat bodoh. Untung saja ada pelindungmu yang bisa menjaga mu dengan baik." Ucapan Akas yang pedas tak dapat di bantah Bara, karena memang Bara sendiri menyadari akan ke bodohnya.


"Maksudmu...?"


"Ah... sudahlah, nanti kamu juga tahu sendiri."


_____


Lisa membolak-balik alamat hotel tersebut dan terus berfikir apa yang di inginkan Bara hingga meminta dia datang ke hotel tersebut. Bukan masalah hotelnya tapi alasannya yang membuat Lisa harus mempertimbangkan. Apalagi hotel tersebut adalah salah satu cabang hotel milik Toni.


"Bukankah itu suara mbak ayu, sedang berdebat dengan siapa dia?" tanya Lisa dalam hati sambil melangkah menghampiri jendela kamarnya.


"Kenapa kamu mengingkari janji, bukankah sudah kesepakatan, kamu akan memberiku uang yang aku butuhkan selama aku mau bekerja sama denganmu? tapi kenapa sekarang ucapanmu menyimpang, aku butuh uang untuk pengobatan ibuku yaitu bibirmu, kenapa kamu tega melakukan itu padaku. aku gak mau tahu kamu harus berikan uang itu atau akan aku bongkar semua kebusukanmu pada Bara, aku juga sudah muak menurut semua permainanmu." Ucapan yang Lisa dengar dari mulut Ayu yang sedang berdebat dengan seseorang.


Lisa kembali menjauh dari jendela karena ponselnya sendiri berdering.


"Ada apa tuan?" tanya Lisa saat mengangkat panggilan dari Bara.


"Jangan lupa, datang tepat waktu."


"Apa? jadi tuan menghubungi saya cuma mau mengingatkan itu? jika saya gak datang apa yang akan terjadi?"


"Kamu akan menyesal selamanya. Jadi Jangan sampai kamu tidak datang, Paham" Bara pun mematikan ponselnya.

__ADS_1


Dengan terpaksa, Lisa pun bersiap untuk datang ke hotel yang diminta Bara. Dengan menggunakan taksi Lisa segera meluncur menempuh kepadatan jalan raya karena aktivitas pulang kerja. Butuh waktu lebih lama untuk sampai tempat waktu, untung saja Lisa berangkat lebih awal agar tak terlambat.


Tak lama Lisa pun sampai dan ia pun segera menunju resepsionis untuk menanyakan kamar yang sudah di pesan Bara. Salah satu karyawan hotel segera membawa Lisa menuju kamar yang sudah di pesan Bara sebelumnya.


"Ini kamar yang di pesan pak Bara, anda tunggu saja sebentar seseorang akan datang untuk merias anda." jelas Karyawan tersebut.


"Apa? merias aku? memangnya ada acara apa?"Tanya Lisa yang bingung.


"Jangan bercanda nona, Pak Bara sudah memesan jauh-jauh hari untuk hari ini, masa anda tidak tahu? Silahkan masuk nona nanti saya akan kembali lagi untuk membawa orangnya." karyawan itu pun pergi meninggalkan Lisa yang masih bingung. Lisa pun segera masuk kedalam kamar dan langsung di sambut aroma mawar yang mengisi ruangan, dari lantai sampai ranjang yang bertaburan bunga mawar merah.


"Apa-apaan ini, kenapa mas Bara memesan kamar seperti ini memangnya ada acara apa." ucap Lisa sambil terus berjalan masuk, ia juga melihat sebuah kebaya putih yang di letakkan di atas ranjang. Kebaya yang sangat indah dan sepertinya memang di buat khusus.


Lisa meraba kebaya itu dan membayangkan andai dia yang mengenakan kebaya itu mungkin dirinya Akan terlihat begitu anggun dan mempesona.


"Ini kebaya sangat indah, siapa wanita yang beruntung memakai pakaian ini." gumam Lisa.


Sebuah pesan pun masuk dan itu dari Bara lagi.


"Apa kau sudah sampai, dan apa kau sudah masuk kamar hotel yang sudah aku pesan." tanya Bara.


"Sudah, aku sudah sampai, dan sekarang berada di dalam kamar yang tuan pesan." balas Lisa


"Bagus... Kamu lihat kan kebaya yang ada di atas ranjang?"


"Ya aku melihatnya, kebaya yang begitu indah. Memangnya untuk apa tuan memintaku datang ke kamar ini. bukankah ini kamar pengantin, memangnya siapa yang mau menikah."


"Jangan banyak tanya, sekarang mandi dan kenakan kebaya itu. nanti akan ada yang meriasmu. Aku akan datang pukul 7 malam" balasan terakhir Bara.


"Apa, aku harus memakai kebaya ini, untuk apa?" tanya Lisa namun tak ada jawaban dari Bara lagi. Lisa mencoba menghubungi Bara kembali namun tak di angkat pesan yang ia kirim berulang kali pun tak ada satupun yang di bacanya tau di balasnya.

__ADS_1


__ADS_2