
Ulah Akas yang tak ada habisnya ngerjain Bara. Membuat Lia sedikit kasihan.
Setelah Alfin di izinkan pulang. Lia mengabari Dimas dan Toni untuk membiarkan Lia merawat Alfin sampai pulih dan mereka pun mengiyakan.
"Maaf Lia, gara-gara Alfin kencanmu dengan mereka jadi batal."
"Santai aja kali mas, sekarang yang terpenting kesehatan Alfin itu yang utama."
"Oya Lia. sebenarnya kemarin kamu jangan salah paham dengan maksud Akas. Aku dan Akas membutuhkan kamu di perusahaan makanya Akas kemarin tanya. Aku memintamu kembali jadi sekertarisku lagi apa kamu mau? Soalnya kinerja kamu di kantor walaupun kemaren belum ada satu bulan, kamu mampu membuat perusahaan berterima kasih."
"Apa kamu mau kembali bekerja denganku?" tanya Bara lagi.
"Tapi bagaimana dengan Alfin?"
"Tenang saja. Kan sudah ada Ayu yang menjaganya. Aku janji gak akan menggangu kesepakatan yang sudah di buat."
"Beri Lia waktu ya mas untuk memikirkannya." ucap Alia
"Baiklah. Aku tunggu jawabanmu besok."
Akas datang menghampiri Bara yang lagi duduk bersama di teras.
"Bos, bolehkah aku pinjam Ayu malam ini?" ucap akas sedikit malu-malu.
"Gak. Alfin baru sembuh dan masih butuh pengawasan Ayu. Lain kali aja Jalannya." Tolak Bara
"Ayolah bos, sebentar aja. Kan kami belum merayakan Hari Valentin dan Aku ingin merayakannya bersama Ayu." Bujuk Akas
"Izinkan aja mas, kasihan Akas dan Ayu mereka kan baru saja jadian. Masalah Alfin biar Lia yang jaga."
"Betul apa yang di katakan Lia."
Bara menghembuskan nafasnya sedikit kasar," Baiklah. Kali ini aja. Lagian apa sih istimewanya Valentin hanya makan malam memberi coklat dan Bunga untuk wanita. . ." Bara tak melanjutkan ucapannya dan memilih menandang wajah lia yang cantik.
"Kenapa gak di lanjutkan?" tanya Lia sambil menatap Bara.
"Manalah dia tahu arti sesungguhnya. Yang dia tahu kerja dan kerja mungkin kalau gak kecelakaan gak mungkin dia nikahi almarhumah istrinya."
"Akas jangan bully bosmu. Dia itu bak singa diam-diam menerkam."
__ADS_1
"Lanjutkan kalian bully aku. Akan ku tunjukan jati diriku sebenarnya, siap-siap kalian tak berkutik di hadapanku." Ucap Bara sambil melangkah pergi.
"Aku tunggu bosku yang dulu kembali. Aku merindukan Bara yang kukenal dulu." Teriak Akas.
Lia yang mendengarkan teriakan Akas hanya mengkerutkan dahi lalu beranjak pergi meninggalkan Akas yang masih berdiri sedari tadi.
Bara melemparkan tubuhnya di atas kasur dan mencoba memejamkan mata, namun bayangan masa lalu yang datang menghampiri.
Berkali-kali bayangan itu muncul dan berulang kali Bara mencoba menghapusnya.
"Apa yang salah dengan diriku yang sekarang. Aku belajar berubah. Aku sudah bisa belajar menghargai wanita dan berusaha mengendalikan emosiku. Apa itu kurang? atau itu malah menjadikanku seorang pecundang. Mungkin semua yang ku lakukan selama ini sia-sia dan menjadikanku seperti orang lain bukan diriku sendiri." Bara mencoba merenungkan sikapnya selama ini.
Selesai merenungkan segala hal. Bara bangkit dan duduk yang sebelumnya merebahkan tubuhnya di ranjang.
Segera Bara mengganti pakaiannya dengan gayanya seperti dulu tak lupa jam tangan dan topi Kembali ia kenakan setelah sekian lama hanya di jadikan koleksi.
Bara berjalan melewati Lia yang baru saja keluar kamar.
Lia ternganga melihat penampilan Bara yang berubah, Dan tanpa berkedip memandangi punggung Bara yang berlalu pergi tanpa menegurnya.
"Mau kemana kamu?" tanya Akas yang juga kaget dengan penampilan Bara yang kembali seperti dulu."
Akas hanya melongo menatap kepergian Bara.
"Mas Bara kenapa kas, kok tiba-tiba berubah penampilan dan dingin?" tanya Lia pada Akas yang penasaran dengan Bara.
"Aku juga gak tahu. Apa karena bercandaku kelewatan hingga membuat dia kembali seperti es balok." Jawab Akas tanpa melihat Lia dan masih fokus pada pintu luar tempat dimana Bara pergi.
"Memang Mas Bara seperti itu dulu?" Tanya Lia kembali dan Akas hanya mengangguk.
Malam harinya Akas pergi bersama Ayu dan meninggalkan Lia bersama pelayan dapur. Dan setelah menidurkan Alfin, Lia kemilih menunggu Bara agar bisa makan malam bersama.
Jam menunjukan pukul delapan malam dan Bara baru pulang. Bara masuk dengan membawa beberapa paper bag di tangannya dan berjalan melewati Lia yang berdiri di meja makan.
"Mas tunggu!" panggil Lia. Dan Bara pun menghentikan langkahnya dan membalikan tubuhnya menghadap Lia.
"Mas Bara dari mana aja? aku....aku...eeemmm mas Bara sudah makan? ayo kita makan malam dulu!"
"Aku masih kenyang, kamu makan aja duluan."
__ADS_1
"ooohhhh.... kalau begitu bisa gak temani Lia makan sebentar saja." Ucap Lia dan Bara pun mengangguk.
Dengan senyum sedikit kaku, Lia nampak lega setidaknya tidak 360° perubahan dadakan Bara.
Saat Lia sedang menikmati makan malam Bara menemaninya sambil Memainkan ponsel.
"Aaaahhh kenapa orang ini, kenapa jadi sosok lain, Dia mas bara atau bukan? kenapa aku merasa asing dengannya atau dia sedang kesambet hantu lewat mungkin. Mudah-mudahan mas Bara besok kembali." Gumam Lia disela makannya.
"Kalau sudah selesai tolong buatkan aku teh hangat dan antarkan ke kamar. Aku duluan ke kamar." ucap Bara dan bangkit berdiri dari kursi meninggalkan Lia yang baru selesai makan.
Setelah selesai membersihkan piring bekas makan, Lia segera membuatkan teh hangat.
Lia berjalan menaiki anak tangga menuju kamar Bara dan membawa segelas teh hangat.
Sesampainya di depan pintu kamar Lia berhenti sejenak di depan pintu, mencoba menarik nafas dalam- dalam sebelum mengetuk pintu kamar Bara.
"Mas....ini Lia mau mengantarkan teh hangat." ucap Lia.
"Masuk aja, pintunya gak di kunci." jawab Bara dari dalam.
Lia pun membuka pintu kamar Bara untuk yang pertama kalinya. Sebuah ruang kamar yang di domisili warna silver dengan tatanan rapi, ruang yang begitu luas dan kasur yang begitu besar. Mata lia tak hentinya menjelajahi seluruh ruang kamar.
"Kenapa berdiri disitu? bawa kemari tehnya."ucap Bara yang melihat Lia masih berdiri di depan pintu.
"I-ya mas." lia pun berjalan menghampiri Bara yang duduk di sofa panjangnya.
"Kenapa kamu kelihatan gugup melihatku? apa ada yang salah denganku?" tanya Bara lagi
" Gak mas, Lia merasa asing aja dengan sikap mas Bara yang mendadak begini. Maaf kalau Lia salah ngomong."
"Ooooohhhhh begitu, mulai sekarang belajarlah menghadapi sikapku yang seperti ini. Suka atau tidak, selama kamu masih tetap tinggal di sini kamu harus mengikuti aturan yang ada dan besok ada hal yang harus kamu setujui dan masih proses pembuatan oleh pengacaraku."
"Iya mas. . .Kalau begitu saya keluar dulu mas, semoga suka dengan teh buatan saya. Selamat malam." Lia pun pergi meninggalkan Bara dan keluar kamar dan pergi ke kamar Alfin, Sedangkan Bara hanya mengangguk.
TERIMAKASIH SUDAH MAMPIR MEMBACA. JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK, JEMPOL, KOMENTAR, VOTE, HADIAH DAN DI FAVORITKAN.
TERIMAKASIH YANG SUDAH MAU MENINGGALKAN JEJAKNYA DAN MASUK DALAM DUKUNGAN. BISA KALIAN CEK YA, BERAPA BANYAK DUKUNGAN KALIAN DI NOVEL INI.
SALAM SAYANG DARI KU AUTHOR YANG MASIH BELAJAR.
__ADS_1
MOHON MAAF JIKA ALURNYA TIDAK SESUAI KEINGINAN KALIAN. TAPI SAYA MOHON JANGAN HINA KARYA SAYA. CUKUP SKIP JIKA KALIAN TIDAK SUKA.