
Saat makan malam, suasana hening menyelimuti. Hanya suara sendok yang sedang beradu dengan piring menciptakan irama yang sesuai dengan suasana malam yang penuh kebisuan.
Setelah menyelesaikan makan malam, Sata membuka pembicaraan pada Alia.
"Bagaimana dengan permintaan papa tadi siang, apa sudah kau pikirkan?"
Alia menghentikan aktivitas makan malamnya dan memandang papanya.
"Sudah Alia putuskan. Alia akan menuruti permintaan papa untuk membantu perusahaan, tapi dengan satu syarat yang harus papa penuhi."
"Syarat???" Sata pun tertawa, "Kamu berani memberi syarat pada papamu ini, coba katakan apa yang kamu inginkan lagi. Semua harta kekayaan papa akan jatuh ke tanganmu apa lagi yang kurang."
"Lia gak butuh harta, atau kedudukan papa. Lia hanya ingin satu permintaan. Dan Lia ingin papa berjanji mau mengabulkannya baru akan Lia katakan apa syarat itu."
Sata menghela nafas lalu mengagukkan kepala pertanda menyetujuinya. Melihat papanya mengiyakan, raut senang pun langsung terpancar di wajah Alia.
"Katakan apa syarat itu, pasti akan papa penuhi."
"Sebelum Lia katakan, Alia harap papa dan mama persiapkan diri dengan apa yang akan Alia katakan dan Alia harap papa dan mama bisa menerimanya."
"Apa yang ingin kamu katakan sayang, jangan buat mama dan papa penasaran?"
"Baiklah akan Lia katakan. Sebenarnya ... Alia sudah memiliki anak."
"Apa..." Sata kaget dan tangannya memukul meja.
"Wanita murahan, dengan siapa kamu berani berbuat zina sampai memiliki anak. Dan kamu minta papa menerima anak itu? tidak papa tidak akan menerima anak haram dalam keluarga papa."
__ADS_1
"Dengarkan Alia dulu pa, dia bukan anak haram. Alia menikah sah dengan suami Lia dan Lia memiliki anak laki-laki."
"Dan dimana anak itu dan apa Bara itu suamimu?" tanya Sekar namun Lia menggelengkan kepala.
"Lalu siapa suamimu dan kenapa kamu membawa Bara jika kamu sudah memiliki suami?" tanya Sekar lagi.
"Suami Lia sudah meninggal ma, beberapa bulan yang lalu."
"Lalu anakmu dimana dia sekarang?"
"Itu dia ma yang jadi masalah Alia sampai saat ini. Dan Alia harap papa mau menolong Alia untuk mendapatkan hak asuh atas anak Alia yang masih berada di tangan mertua Lia. Pasti papa bisa membantu Lia, papa pasti punya pengacara hebat yang bisa memenangkan hak asuh atas anak Lia. karena mertua Lia telah menipu Lia dan mengatakan bahwa anak Lia sudah meninggal dan sebenarnya masih hidup." Lia pun menunjukkan foto anaknya yang sempat diberikan dokter Herman padanya.
Sekar memperhatikan foto cucunya yang mirip sekali dengan Arjun saat masih bayi.
"Lihat pa, ini cucu kita dia sangat mirip sekali dengan Arjun waktu masih bayi." ucap Sekar.
"Papa kecewa padamu Lia, kamu tahu papa masih hidup kenapa tak mengabari papa jika kamu ingin menikah, kamu anggap apa papamu ini yang masih hidup." tegas Sata. Lia pun langsung berdiri menghampiri papanya dan berlutut di depan papanya.
Tak lama Sekar pun ikut berlutut di hadapan suaminya dan berada di samping Lia.
"Pa, mama mohon tolong bantu Alia untuk mendapatkan hak asuh. Walau bagaimanapun dia juga cucu kita. cucu kandung laki-laki yang papa harapkan. Mama mohon pa, mama juga gak mau sampai Lia pergi lagi karena ego papa yang gak mau menuruti permintaan putri satu-satunya kita." Sekar pun ikut terisak-isak.
Sata yang masih berdiri dan kedua wanita kesayangannya sedang memohon memaksanya untuk mengiyakan permintaan mereka.
"Baik, akan papa kabulkan permintaan kalian, papa akan mengirimkan pengacara hebat yang papa miliki untuk mengurus pengambilan hak asuh atas cucu papa. Tapi papa juga punya satu syarat yang harus kamu penuhi."
"Lia janji akan lakukan semua permintaan papa, Alia janji." ucap Alia.
__ADS_1
"Baiklah, jika kamu sudah menyetujuinya. Papa akan menikahkan mu dengan seseorang yang sudah papa pilih untuk menjadi pendamping kamu, dan kamu tidak bisa menolak lagi."
"Tapi kan pa, papa sudah janji dengan mas Bara untuk menunggu Lia 6 bulan lagi, tapi kenapa malah Lia harus menikah dengan laki-laki lain."
"Kamu sudah menyetujuinya, tapi terserah kamu lagi mau menerima permintaan papa dan kamu bisa mendapatkan hak kamu atas anakmu atau papa sama sekali tidak akan membantumu. Pikiran lagi papa tunggu jawabanmu besok malam." Sata pun pergi meninggalkan dua wanita yang masih berlutut dan saling berpandangan.
"Ma, bagaimana ini. Apa yang harus Lia lakukan ma, Lia pun memeluk mamanya dan menghambur tangisnya.
"Sabar sayang, semua keputusan sekarang ada di tanganmu. apapun keputusanmu akan mama dukung. Pikiran dulu dengan tenang jangan gegabah. Apapun keputusan papa mama tidak bisa membujuknya."
Lia pun bangkit berdiri dan menghapus air mata, pergi menuju kamarnya. Sedangkan Sekar hanya bisa menatap Putri yang melangkah pergi.
Di kamar Sata sedang berdiri di balkon menikmati udara malam. Sekar menghampiri suaminya meyakinkan apa yang suaminya ucapkan.
"Pa... " panggil Sekar.
"Aku tahu, mama pasti akan membujukku agar tidak memberikan persyaratan yang sulit buat Lia kan. Papa sudah Pikirkan Sebelum papa ucapkan. Papa lakukan itu untuk kebaikan Lia dan juga keluarga kita."
"Bagaimana dengan Janji Papa dengan Bara?"
"Janji. Aku tak pernah berjanji pada Bara akan memberikan Alia padanya. Aku hanya meminta Bara untuk memberi waktu selama 6 bulan agar aku bisa menghabiskan waktu bersama putriku."
"Tapi, mereka berdua beranggapan papa merestui mereka?"
"Tidak ada yang bisa menentang keputusan papa, termasuk kamu. Jika Lia menyetujui permintaan papa, akan segera papa kenalkan dengan pria pilihan papa. Semua keputusan ada di tangan Lia sekarang."
Sekar hanya bisa menghela nafas, sulit baginya berada di tengah-tengah orang yang dia sayang dan sama-sama keras kepala.
__ADS_1
"Terserah mau papa, papa juga tahu resiko terburuknya yang akan terjadi jika Lia tak menyetujuinya. Mama hanya bisa berharap salah satu dari kalian ada yang mau mengalah agar masalah ini tidak menjadi rumit." Sekar pun memilih pergi meninggalkan suaminya dan kembali menjenguk putrinya yang mungkin saat ini masih dalam dilema diantara dua pilihan yang sangat sulit.
"Apa yang bisa aku lakukan saat ini, aku bingung dan harus berbuat apa. Di satu sisi ada suamiku yang aku sayang di sisi lain aku gak mau kehilangan putriku untuk yang kedua kalinya. Ya Tuhan, tolong hambamu ini apa yang harus hamba lakukan." Batin Sekar.