Sekertarisku Ibu Susu Putraku

Sekertarisku Ibu Susu Putraku
Khilaf


__ADS_3

Bara menghampiri Lisa yang masih berdiri di sisi kolam renang.


"Apa yang kamu lakukan, aku memintamu menemaniku berenang bukan menjadi model di situ."


"Maaf tuan, saya tidak bisa berenang." jawab Lisa dan berlahan mundur. Baru selangkah Lisa mundur tangan Bara meraih kaki Lisa hingga membuat Lisa jatuh di kolam renang bersama Bara.


Rasa takut Lisa akan dingin membuat dirinya meraih tubuh Bara dan memeluknya dengan erat. Wajahnya langsung pucat dan bibirnya bergetar.


"Tenang saja kamu tak akan mati tenggelam di sini. Aku akan mengajarimu berenang." Bara berusaha melepaskan pelukan Lisa agar bisa mengajarinya berenang.


"Antarkan aku ke tepi kolam, aku gak kuat dingin. Aku bisa mati kedinginan tuan bukan mati tenggelam."Ucap Lisa yang mulai tersendat-sendat karena tubuhnya semakin kedinginan.


Bara menatap wajah Lisa yang semakin pucat, "Apa kau mengidap hipotermia?" tanya Bara dan Lisa pun mengangguk Sebelum dia pingsan.


"Ya Tuhan apa yang baru saja aku lakukan,aku hampir membunuh nyawanya." gumam Bara dan segera ia membawa Lisa menuju tepi kolam dan meletakkannya di lantai. Bara segera meraih handuk yang di bawa Lisa tadi dan langsung menghanduki tubuhnya.


Bara berteriak meminta Pelayan memanggil dokter secepatnya untuk menyelamatkan nyawa Lisa. Dan meminta yang lain untuk mengganti baju Lisa saat bara membawanya ke kamarnya.


Ayu yang baru melihat kehebohan yang terjadi terkejut mendapati Lisa basah kuyup bersama Bara.


"Apa yang terjadi? apa yang baru saja mereka lakukan? hingga membuat mereka berdua basah kuyup."


Setelah Lisa di gantikan pakaiannya dan terbaring di ranjang Bara namun belum ada tanda-tanda Lisa sadar.


Bara hanya mondar-mandir Menunggu dokter yang belum kunjung datang.


Setelah sekian lama menunggu akhirnya dokter itu pun memeriksa Lisa.


"Bagaimana keadaannya dok? apa dia baik-baik saja?" tanya Bara yang tampak cemas.

__ADS_1


"Kenapa ini bisa terjadi? seseorang yang menderita hipotermia, biasanya tidak akan seceroboh ini, Membahayakan nyawanya dengan berenang, Itu bisa membunuh nyawanya."


"Ini bukan salahnya, tadi hanya sebuah kecelakaan."


"Tolong dia di jaga, biasanya dia akan mengalami demam dan berhalusinasi sampai masa kritisnya berakhir." jelas dokter dan berpamitan untuk pergi.


Para pelayan hanya dapat berbisik-bisik, dengan perlakuan Majikannya pada Lisa tidak terkecuali Ayu yang beranggapan ini trik dari Lisa.


Bara menyelimuti tubuh Lisa, dan membiarkan Lisa tidur di ranjang miliknya yang belum ada satu wanita pun yang merebahkan tubuhnya di ranjang tersebut.


"Kalian semua boleh keluar, biarkan dia istirahat dulu." usir Bara. Berpindah ke sofa dan merebahkan tubuhnya. Saat dirinya mencoba memejamkan mata kejadian tadi mengingatkan Tentang Alia yang menderita hal yang sama dan dialah yang menyebabkan Lia sempat kritis dan kali ini ia melakukan kesalahan-kesalahan yang sama hampir membuat pelayannya mati f


gara-gara dirinya.


Bara mulai tertidur di sofa karena tubuhnya yang begitu lelah. Namun pendengarannya masih dapat mendengar suara samar-samar di sekitarnya.


Lisa mulai mengigau dan merintih kedinginan. Selimut yang tadi menyelimuti tubuhnya kini hanya menyelimuti kakinya.


Bara bangkit berdiri dan menghampiri Lisa, ia kembali menyelimuti tubuh Lisa dan memegang kening Lisa untuk diperiksa suhu tubuhnya dan ternyata memang benar Lisa mengalami demam.


Dengan mata masih terpejam, Lisa dapat meraih tangan Bara yang ada di sampingnya.


"Jangan tinggalkan aku mas, aku gak mau kehilanganmu. Tetap temani aku mas." oceh Lisa dalam igaunya.


Bara membalas genggaman Lisa, "Aku tidak kemana-mana, aku ada di sini menemanimu. Istirahatlah biar kamu segera sembuh."Bara duduk di sisi ranjang Membiarkan Lisa tetap menggenggam tangannya.


Bara terus memperhatikan wajah Lisa, hingga membuat wajah Lisa berubah menjadi Alia di mata Bara. Karena begitu rindunya akan kehadiran Alia.


"Alia..." panggil Bara.

__ADS_1


_________


Malam itu menjadi malam yang panjang, entah apa yang terjadi, hingga membuat Bara mengambil kesempatan pada Lisa.


Pagi pun tiba, Tak ingin rasanya Lisa membuka mata, begitu nyaman ia rasakan dalam tidurnya hingga tak ingin ia terbangun.


Saat tangannya ingin memeluk guling, namun ia merasa gulingnya berbeda dan sesekali ia meraba-raba guling tersebut yang terasa lebih besar dari guling yang sering ia peluk. Perlahan ia pun membuka mata dan melihat apa sebenarnya yang ia peluk.


Lisa terkejut dengan apa yang telah terjadi dan melihat keadaan dirinya bersama Bara dalam satu ranjang. Lisa pun langsung duduk dan bersandar sambil menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Ia pun menangis menyesali kejadian yang tanpa ia sadari dan tangis itu pun membangunkan Bara yang sebelumnya masih tertidur lelap.


"Apa yang tuan lakukan pada saya? kenapa tuan tega melakukan ini." ucap Lisa di sela tangisnya.


Bara sendiri terkejut dengan perbuatan yang ia lakukan. Dan mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


"Maaf, maafkan aku. Aku khilaf aku tak ada niatan buruk padamu." Ucap Bara yang sudah duduk di samping Lisa dan mengusap pucuk rambut Lisa.


Lisa tak menjawab permintaan maaf Bara, dia terus menangis hingga seunggukan. Walaupun dia seorang janda tapi ia masih punya harga diri terlebih dari orang yang ia cintai.


"Berhentilah menangis, ini sebuah kecelakaan, aku tak ada niatan untuk melakukan itu sebelumnya ini murni karena khilaf." ucap Bara lagi.


"Katakan padaku, apa yang harus aku lakukan untuk menembus kesalahan yang aku lakukan, aku bukan laki-laki pengecut yang lari dari apa yang telah aku lakukan."Imbuh Bara. Lisa pun menghentikan tangisnya dan menatap Bara yang masih memandanginya.


"Apa tuan Sungguh-sungguh di dengan ucapan tuan dan tidak akan menyesalinya?" tanya balik Lisa dan Bara pun mengangguk.


"Tuan harus menikahiku, karena tuan sudah melakukan perbuatan itu padaku. Aku ini bukan wanita murahan yang dengan mudah bisa tuan manfaatkan. Hanya itu permintaan saya dan tuan harus mengabulkan itu.


"Apa... menikahimu... Apa itu tidak salah, Aku harus menikah dengan seorang pelayan, Apa kata orang nanti jika tahu aku menikahi seorang sepertimu."


"Jadi tuan tidak mau bertanggung jawab, baik saya tak akan memaksa tuan, tapi jangan salah kan saya jika berbuat sesuatu yang membuat tuan menyesal selamanya." Lisa pun turun dari ranjang dan berjalan menuju kamar mandi kamar Bara tanpa memperdulikan keberadaan Bara yang masih memperhatikan setiap langkah Lisa sempai menghilang di balik pintu kamar mandi.

__ADS_1


Lisa pun mengutuki dirinya sendiri di kamar mandi, mengguyur tubuhnya di bawah shower, untuk menghilangkan sisa-sisa yang masih menempel di tubuhnya.


__ADS_2