Sekertarisku Ibu Susu Putraku

Sekertarisku Ibu Susu Putraku
Nyambung gak nyambung yang penting lanjut.


__ADS_3

"Kembalikan anakku. . . kembalikan." Lia mengigau dan kemudian dia terbangun. Saat dirinya mulai sadar sepenuhnya ternyata Bara sedang duduk di sampingnya.


"Apa kamu baik-baik saja? apa yang kau mimpikan? apa kamu merindukan anakmu?" Bara langsung saja mencecar pertanyan pada Lia sambil membersihkan peluh yang ada di wajah Lia.


"Aku. . .aku. . "


"Aku tahu, kamu sedang merindukan anakmu yang masih hidup dan saat ini sedang berada di tempat kakeknya kan?" ucap Bara dan Lia langsung menatap Bara dengan penuh tanda tanya.


"Darimana mas Bara tahu tentang anakku?"


"Itu hal yang gampang, dan kamu gak perlu tahu darimana aku tahu. Aku bisa menolongmu mendapatkan kembali hak mu atas anakmu tapi dengan syarat." Bara pun menggantung ucapannya dan membuat Lia makin penasaran.


"Apa syarat itu, dan bagaimanapun caramu melakukan itu?"


"Menikahlah denganku."


"Apa. . .menikah denganmu? Tidak, tidak aku tidak mau menikah. Aku masih trauma akan pernikahan dan aku ini bukan wanita sempurna lagi."


"Apa susahnya menikah denganku dan kamu akan mendapatkan hakmu akan anakmu yang masih di tangan kakeknya."


"Aku tidak mau, dan aku bisa berusaha mendapatkan apa yang bisa menjadi hak ku." Lia pun bergegas turun dari ranjang bangkit berdiri.


"Mau kemana? kamu baru sadar."


"Aku ingin cari angin segar, Sepertinya setelah aku sadar dari pingsan otakku sedikit kacau." Lia pun langsung pergi tanpa menghiraukan Bara yang masih ada di kamarnya.


"Dasar wanita keras kepala, apa susahnya menikah denganku, apa yang kurang dariku. aku hanya mencoba untuk tanggung jawab dan bisa menjaganya." Gerutu Bara. Saat itu pula ternyata Lia kembali kekamar.


"Kenapa kembali, katanya mau pergi?"


"Tasku ketinggalan, aku mau ke taman, jadi gak usah repot-repot mencari diriku mengerti." Ucap ketus Lia.


"Tunggu. Aku ikut, aku tak akan membiarkan kamu pergi sendiri." Bara bergegas menyusul Lia yang sudah terlebih dulu.


Bukannya ke taman Bara membawa Lia ke sebuah tempat dengan bangunan tua yang sedang di renovasi.

__ADS_1


"Kenapa kita di sini mas, bukannya Aku mau ke taman bukan mau ke tempat tua begini."


"Bawel amat kamu, Cepat turun atau aku tinggalkan di sini!" Bara pun keluar dari mobilnya meninggalkan Lia yang belum juga turun.


"Tunggu, aku gak mau di sini sendirian." teriak Lia dan segera turun menghampiri Bara dan meraih lengannya.


"Katanya gak mau turun?"


"Aku takut di tinggal sendiri, sepertinya di sini ada aura mistis yang kuat." Ucap Lia sambil mempererat pegangannya di lengan Bara.


"Ngaco kamu. Terlalu banyak nonton film horor. Mana ada makhluk halus di sini. "


Bara pun menekan bel rumah tua itu dan tak lama kemudian seorang laki-laki tua membukakan pintu untuk mereka.


"Siapa kamu?" tanya laki-laki tua yang usianya sekitar 80 tahun.


"Ini aku Bara. Maaf baru bisa menjenguk. Bisakah cucu Nakalmu ini masuk ke dalam rumah, ada yang ingin cucumu perkenalkan.'


"Bara cucu kakek yang nakal, yang suka membuat masalah di rumah dan membanting barang-barang kakek kalau sedang marah."


"Iya kek, tapi jangan semuanya di sebutkan, gak enak ke dengaran orang di samping Bara."


Kakek Bromo adalah Ayah dari ibunya Bara. Saat kecil Bara sering di ajak ibunya bermain di ke rumahnya. Usianya yang sudah menginjak 80 tahun dengan wajah yang keriput dan rambutnya sudah penuh dengan uban. Kakek Bromo sudah mulai pikun.


Kakek Bromo tinggal bersama dengan pembantu, perawat dan juga orang kepercayaannya kakek Bromo. Kakek Bromo hanya memiliki satu putri dan itupun sudah meninggal.


Kakek Bromo tertawa terkekeh, memperlihatkan giginya yang sudah ompong." Masuklah nak." Bara memapah kakek Bromo duduk di kursi goyangnya. Dan Bara duduk di sofa bersama dengan Lia.


"Mas, kenapa mas membawaku ke sini?" tanya Lia


"Kamu nanti juga tahu, daripada kamu pergi ke taman dan memikirkan banyak beban lebih baik kamu ikut kesini, biar kamu bisa mendengar apa alasanku mendadak mengajakmu menikah." ucap Bara dengan nada pelan.


"Kan sudah ku katakan aku gak mau menikah, lagian menikah itu bukan hal yang bisa buat main-main, aku gak mau gagal untuk kedua kalinya." bisik Lia lagi.


"Kek, Bara sedini mau menepati janji Bara. Dulu Bara pernah bilang ke kakek akan membawa wanita yang Bara Cinta untuk datang menemui kakek, dan ini dia orangnya Alia calon istri cucumu."

__ADS_1


"Mas, apa-apaan ini. Sudah ku katakan aku gak mau menikah dengan mas." protes Lia.


Kakek Bromo menatap wajah Alia dengan sedikit melotot karena matanya yang agak rabun.


"Dia calonmu cu?" tanya kakek Bromo


"Iya kek" Jawab singkat Bara.


"Cu. . .apa kamu mencintai Cucuku Bara yang nakal ini?" tanya Kakek Bromo pada Lia Membuat Lia kebingungan untuk menjawab.


Kakek Bromo pun kembali terkekeh. "Dari mana kamu bisa menyukai cucuku yang nakal dan kasar ini? apa kamu sudah siap menjadi pelampiasannya. Kakek tak membela dirinya karena memang dia seperti itu sama seperti papanya yang kasar. Kakek cuma ingin menyakinkan dirimu apa kamu sudah siap segala resikonya jika menikah dengan Bara cucu nakal ini. Kakek gak mau ada penyesalan setelah pernikahan. Karena di tradisi kami Setelah menikah tidak ada perceraian kecuali kematian."


Ucapan kakek Bromo membuat Lia merinding. "Ini ma bukan membujuk Lia tapi memantapkan Lia untuk tidak menikah dengan mas Bara." gumam Lia.


"Kek, Bara kesini ingin meminta kakek meyakinkan Lia, agar mau menikah dengan Bara kek, hanya dia wanita yang bara mau. Tolong kek bujuk dia, Saat ini dia masih bimbang dengan Bara." Bara merengek pada kakeknya Seperti anak kecil.


"Tinggallah kalian malam ini di sini, Kakek ingin tahu wanita yang kamu sukai itu memang berjodoh denganmu atau tidak."


"Tidak, saya gak mau bermalam di sini. Saya mau pulang."


"Bagaimana kamu bisa pulang, kalau tak bersamaku." jawab Bara, "Tenang saja aku juga ada di sini."


"Tapi kan aku gak bawa pakaian."


"Di sini ada pakaian mama yang bisa kamu pakai. Jadi gak ada alasan untuk menolak, paham." tegas Bara.


"Kenapa ini jadi begini, seharusnya kan gak seperti ini jalan ceritanya. Apa boleh buat aku harus melewati malam ini, mudah-mudahan tidak ada yang aneh-aneh di sini."


Bara membawa Lia menuju lantai atas tepatnya menuju kamar. suara Derik pintu kamar membuat Lia merinding. Di dalam sebuah kamar yang luas dengan dan ranjang yang luas menyambut kedatangan Lia dan Bara.


"Ini adalah kamar, yang di pakai mama dan papa saat bermalam di sini. Tak ada yang berani menempati jika mereka tak ada di sini. maka kamar ini akan kosong sampai berbulan-bulan." jelas Bara dan menggiring Lia masuk ke kamar.


"Tidak kah ada kamar yang lain, aku takut jika harus tinggal di kamar ini."


"Dasar, memangnya di kamar ini ada hantunya atau ada arwah mama dan papa. Itu semua mitos, tak ada makhluk halus yang berani mengganggu manusia, itu hanya ketakutan diri sendiri yang memberikan jalan pada mereka."

__ADS_1


"Sekarang istirahat di sini dan jangan membantah ataupun menolaknya lagi, aku hn turun masih ada yang ingin aku bicarakan pada kakek dan buang pikiran negatifmu yang gak ada gunanya itu. Aku pastikan selama kamu di sini tak ada orang lain atau anakmu masuk dalam pikiranmu. jadi kamu harus tenang dan bersantai."


MAKASIH SUDAH MAMPIR, JANGAN BILANG CERITANYA ANEH ATAU GAK NYAMBUNG SEBELUMNYA, KARENA INI MEMANG BUAT SELINGAN AJA, JIKA TAK SUKA SILAHKAN DI SKIP DARIPADA MENGHUJAT SEBELUM MEMBACA KELANJUTANNYA. BIJAKLAH DALAM BERKOMENTAR, DI SINI YANG MENULIS SAYA, YANG PUNYA IDE SAYA, YANG CAPEK NGETIK SAYA, YANG MEMAKAN BANYAK WAKTU JUGA SAYA. JADI PLEASE HARGAI APA YANG SUDAH SAYA SAJIKAN DAN JANGAN BUAT SAYA DOWN TERUS MENERUS, SAYA HANYA INGIN MENYELESAIKAN APA YANG SUDAH SAYA MULAI. LAGIAN SEBENTAR LAGI SAYA JUGA HIATUS DARI DUNIA PERNOVELAN DENGAN WAKTU YANG TAK MENENTU, JADI TINGGALKANLAH KOMENTAR YANG POSITIF AGAR SAYA BISA MENGINGAT KALIAN SEBAGAI PENYEMANGAT SAYA DALAM MENULIS.💜💜💜💜💜💜💜


__ADS_2