
Setelah resmi menjadi seorang istri, Lia belum bisa memenuhi kewajibannya sebagai seorang istri, sebab ada hal yang masih perlu Lia selesaikan dan ia pun mendapat persetujuan dari Bara walaupun dengan syarat harus mengurus dirinya selayaknya seorang istri mengurus suami walaupun harus pisah ranjang.
Pagi itu saat Bara sudah berangkat bekerja dan Lia baru selesai membereskan kamar Bara. Lia mendengar suara tangis dari kamar Alfin Saat dirinya hendak menjenguk putranya.
Lia yang sudah hafal dengan suara itu, langsung masuk dan menghampiri Ayu yang sedang menangis di sudut ranjang Alfin.
"Apa yang terjadi padamu Ayu? kenapa kamu menangis di situ?" Tanya Lia yang membuat Ayu kaget tak menyadari kehadiran Lia. "Apa urusanmu? dan kenapa kamu datang ke kamar Alfin tanpa permisi?"Saut Ayu sambil bangkit berdiri dan menghapus air matanya yang membasahi pipi. Lia hanya melipat keduanya di dada dan memandangi Ayu yang tak menghargai simpatinya.
"Aku hanya penasaran saja, makanya aku masuk kesini saat mendengar suara samar-samar orang sedang menangis dan ternyata itu kamu." ucap Lia yang tak ingin direndahkan lagi oleh Ayu. "Cepat keluar, aku gak butuh simpati darimu. Memangnya jika aku punya masalah apa kamu bisa membantuku dasar pelayan murahan. Sudah kamu apain tuan Bara sampai ia tak bisa di kendalikan lagi."
Lia hanya tertawa mendengar ucapan Ayu." apa kamu ingin tahu, apa yang sudah aku lakukan hingga obat yang kamu berikan pada tuan Bara tidak mempan lagi. Aku kasih tahu ke kamu ya, sampai kapanpun rencanamu tak akan pernah berhasil lagi, dan lebih baik kamu berhenti dan mengundurkan diri atau kamu akan segera di pecat setelah tuan Bara tahu kejahatan yang kamu lakukan bersama dengan Bunga, wanita ular yang sangat berbisa itu."
"Apa maksudmu? apa yang kamu ketahui tentang aku dan bunga?" tanya Ayu dengan sedikit gemetar karena takut. "Beberapa waktu lalu kau mengancamku dan kini aku bisa putar balik mengancammu, Aku fikir kamu dulu seorang wanita yang baik dan dapat di percaya, tapi ternyata penilaianku salah. Kamu sama saja dengan yang lain." Balas Lia. Ayu terdiam dengan kata-kata Lia.
Lia pun meninggalkan Ayu begitu saja dan berharap Ayu bisa berubah sebelum Lia benar-benar membuat Ayu menyesal tak peduli dulu ia pernah baik pada Lia, Tapi jika berhubungan dengan anak dan suaminya Lia tak akan tinggal diam lagi.
Di sisi lain, Ayu mondar-mandir mencoba mencerna setiap kata-kata yang di ucapkan Lia.
__ADS_1
"Apa Lisa mempunyai bukti tentang berbuatanku? apa dia benar-benar mengancamku? Apa yang harus aku lakukan sekarang, jika sampai tuan Bara tahu kalau aku bersekongkol dengan Bunga, bisa-bisa aku di jebloskan nya ke penjara. Tidak aku harus selesaikan ini dulu dengan Bunga sebelum semuanya terlambat aku juga akan tagih janji yang dia berikan padaku lalu aku bisa pergi dari sini dengan tenang." Ayu pun bergegas pergi dan meninggalkan Alfin seorang diri di kamar dan tanpa memberitahukan pada yang lain.
Lia yang sedari tadi masih berdiri tak jauh dari kamar Alfin melihat kepergian Ayu dan meninggalkan Alfin seorang diri. Tak lama suara tangis Alfin terdengar, dan dengan segera Lia menghampiri kamar Alfin. Rupanya Alfin sudah bangun dan duduk, ia menangis mungkin karena tak ada satu orang pun yang di lihatnya saat dirinya terbangun.
Lia segera mengangkat tubuh mungil Alfin dan menenangkannya. Saat sedang menenangkan Alfin ponsel Lia pun berdering dan itu panggilan dari Bara. Lia pun segera mengangkatnya,"Ada apa mas?" tanya Lia sambil menggendong Alfin. "Bisakah mas minta tolong antarkan berkas yang tertinggal di meja kerja, mas sangat butuh berkas itu sekarang, sayang cari saja di tumpukan berkas-berkas yang ada di meja kerja dan cari yang bersampul biru."Jelas Bara pada Lia dan berharap Lia bisa mengantarnya.
"Iya mas, tapi bisakah menunggu sekitar 30 menit, karena Lia harus mengurus sesuatu dulu."
"Baiklah, mas tunggu di kantor sayang." Hati Lia begitu bahagia mendengar panggilan sayang yang akan selalu ia dengar setiap saat dari suaminya itu.
Lia pun bergegas mengurus Alfin agar lebih wangi dan dirinya pun segera mengganti pakaian sebelum berangkat. Dan setelah selesai Lia pun keruang kerja Bara dan mencari berkas yang di butuhkan, tanpa sengaja Lia menjatuhkan Sebuah foto ke lantai, Lia yang menyadari langsung mengambil dan melihatnya, "Ini siapa yang bersama mas Bara? kenapa wajahnya seperti tak asing, seperti aku pernah melihatnya? Apa hubungannya dengan mas Bara ya?" Lia pun kembali meletakkan foto itu dan segera keluar dari ruang kerja Bara untuk segera mengantar berkas yang di butuhkan Bara.
Tepat waktu 30 menit kemudian Lia datang ke kantor Bara bersama Alfin dan membawa berkas yang di butuhkan Bara. Lia pun bergegas menuju ruangan Bara.
Bara yang sedang sibuk dengan laptopnya tak menyadari kehadiran Lia yang sudah sampai di ruangan Bara, sebuah ciuman di pipi kanan Bara yang menyadarkan Bara bahwa sekarang ada sosok seorang istri di sampingnya. "Mas sibuk banget ya? sampai gak tahu Lia sudah datang." tanya Lia yang berdiri di samping Bara, Bara yang sudah menghentikan aktivitasnya bangkit berdiri dari kursi kerjanya dan mencium kening Lia dan juga Alfin." Maaf, mas tadi terlalu fokus dengan kerjaan sampai mas gak dengar sayang masuk ruangan. Kenapa Alfin ikut?" Tanya Bara.
"Kalau gak ikut siapa yang akan menjaganya di rumah?"
__ADS_1
"Kan ada Ayu baby sitter nya Alfin."
"Mbak Ayu tadi pergi, katakan ada urusan makanya Lia bawa Alfin kesini."
"Bagaimana sih Ayu, ini tugasnya kok malah seenaknya main ninggalin tanggung jawab."
"Sudah lah mas, biarkan saja paling bentar lagi di juga ngundurin diri. Mas hari ini pulang malam gak?" tanya Lia balik.
"Gak, memangnya kenapa?"
"Gak papa cuma nanya aja."
"Cuma nanya atau pengen segera dimanja?" goda Bara sambil mengambil Alfin dari tangan Lia dan membawanya duduk di sofa.
"Apaan sih mas nie? kan Lia cuma nanya. lagian kalau Lia mau kan tinggal bilang aja sama mas gak perlu basa-basi." Bara hanya tersenyum melihat Lia dengan wajah yang memerah karena malu.
Bara meraih dagu lancip Lia dan menegakkan wajah Lia yang tertunduk." Mas janji akan selalu membuat istri mas ini selalu bahagia dan akan memenuhi semua tanggung jawab mas sebagai seorang suami sekaligus seorang kepala keluarga untuk selalu mensejahterakan anak dan istri.
__ADS_1