
Akas dan Bara sampai di sebuah restoran tempat mereka akan bertemu.
Seorang informan sudah menunggu kedatangan Bara dan Akas lima belas menit sebelum mereka datang.
sesampainya di restoran mereka langsung menghampiri informan yang mereka percaya untuk mencari tahu kejadian sebenarnya mengenai kecelakaan Rian.
"Apakah informasi yang akan kamu berikan ini benar-benar valid aku gak mau sampai ada kesalahan lagi." Bara menegaskan ucapannya pada informan itu.
"Jangan kuatir, informasi yang akan aku berikan benar-benar valid bahkan akan aku beritahu sampai ke akarnya."
"Langsung jelaskan, aku tak punya banyak waktu untuk basa-basi."
Informan itu pun mulai menjelaskan rentetan kejadian yang sebenarnya mengenai kecelakaan Rian.
"Akan aku ceritakan dari awal 'Waktu itu pada tangga 18 Februari Rian berencana untuk berangkat bekerja seperti biasa. Namun niatnya ia urungkan saat istrinya yang tengah hamil 9 bulan mulai merasakan tanda-tanda akan melahirkan.
'Dengan segera Rian membawa istrinya segera kerumah sakit. karena mereka kuatir dengan istrinya Rian mengemudikan mobilnya dengan laju dan tanpa ia sadari mobil yang ia bawa mengalami rem blong.
'Rian berusaha mengendalikan mobilnya, namun sayang kecelakaan itu tak dapat di hindari. Mobil Rian menabrak pembatas jalan.
'Sesaat setelah kejadian itu, Rian dan istrinya di bawa kerumah sakit. Namun sayang nyawa Rian tak tertolong. Dia meninggal karena benturan di Kepalanya yang cukup parah."
"Bagaimana dengan istri dan anak Rian, apa dia selamat atau juga meninggal?" Bara mulai tak sabar dengan info mengenai istrinya yang seharusnya tak ikut dalam kecelakaan itu.
"Dokter yang menangani istri Rian berhasil menyelamatkan ke duanya dan anak Rian laki-laki. Namun menurut informasi yang saya ketahui istri dan anak Rian tinggal terpisah. Mertuanya menyabotase terang cucunya dan mengatakan kepada menantunya bahwa anaknya juga meninggal padahal masih hidup. Saya tak mendalami masalah kenapa mereka melakukan itu."
"Itu juga tak penting buatku. Dan yang aku butuhkan sekarang informasi keberadaan istrinya."
"Istri Rian sudah di usir dari kediamannya dan saya tak tahu di mana dia Sekarang, tapi jangan kuatir saya ada foto istri Rian dan juga anaknya ." informan itu memberikan sebuah amplop yang berisi foto.
_____
__ADS_1
"Cepat di makan supnya nanti keburu dingin, jangan cuma di aduk-aduk aja."
"Ini tidak ada racunnya kan?" ucap Lia dengan polosnya.
"Astaga Lia, apa yang ada di otakmu. kalau aku mau membunuhmu sudah dari awal aku lakukan itu."
"Tapi dokter sudah melakukan itu, separuh jiwaku sudah mati bersama kenangan dan juga kebohongan yang kalian semua lakukan." Lia menitikkan air mata.
Dokter Herman mengambil ponsel yang ada di sakunya dan ia menunjukan pada Lia foto bayi laki-laki yang mungil.
"Lihat lah ini, apa kau bisa mengenalinya?"
"Foto bayi siapa ini? tapi tunggu dulu wajah ini sangat mirip seseorang terutama hidungnya. Dia sangat mirip. . ." ucapan Lia terhenti pada saat ia mengingat-ingat seseorang yang mirip dengan bayi itu.
"Dok. . .jangan katakan ini adalah anakku dan mas Rian." Lia mengusap usap foto bayi yang ada di ponsel dokter Herman.
Dokter Herman menarik nafas panjang, "Maaf, maafkan aku yang telah membohongimu dan menghancurkan hidupmu. Iya dia adalah anak kandungmu dan sekarang dia tinggal bersama dengan mertua mu."
Lia menatap dokter Herman dengan perasaan campur aduk.
"Maafkan aku. . ." kata yang selalu keluar dari mulut dokter Herman.
Lia turun dari ranjang dan menghampiri Dokter Herman yang sedari tadi berdiri.
"Jelaskan padaku, apa tujuan kalian memisahkan aku dengan anakku, Dan apa untungnya buatmu melakukan ini padaku." Lia menarik baju Dokter Herman dengan kuat.
"Aku tak tahu apa keinginan pak Bambang, tapi aku tak bisa menolak permintaannya, aku banyak berhutang Budi padanya, karena dia aku bisa menjadi dokter Seperti sekarang ini."
"Jadi hanya karena balas Budi kamu menghancurkan hidupku, sebuah jawaban yang bagus, karena ingin balas Budi seorang dokter yang sudah terkenal dan namanya sudah di perhitungkan di kedokteran sebagai salah satu dokter terbaik, bisa tega melakukan ini pada pasiennya yang jelas-jelas bertentangan dengan hukum kedokteranmu." Lia meninggikan nada bicaranya yang merasa sangat syok.
"Maafkan aku" Dokter Herman hanya tertunduk merasa bersalah atas apa yang ia perbuat pada Lia."
__ADS_1
"Aku akan memaafkanmu jika kamu bisa mempertemukan aku dengan anakku atau aku akan melaporkan perbuatan mu ke polisi." Lia mulai berani mengancam Dokter Herman
"Jangan laporkan aku Lia, akan ku usahakan kamu untuk bisa bertemu dengan putra mu tapi beri aku waktu untuk mengatur waktunya, karena tak mudah untuk bisa membujuk pak Bambang.
Suara gedoran pintu tiba-tiba saja terdengar dan beberapa saat gedoran itu semakin nyaring.
Dokter Herman segera keluar kamar dan mencari tahu siapa yang mau bertamu larut malam ini.Lia membututi dari belakang dan ikut penasaran.
Saat sampai pintu dokter Herman langsung membukakan pintu, namun sayang sambutan hangat melayang mengenai wajah dokter Herman dan membuat Lia menjerit kaget.
"Dasar laki-laki bajingan, apa yang kamu lakukan membawa seorang wanita bermalam di rumahmu." Bara menatap Lia yang masih syok dengan kejadian yang baru saja terjadi.
Bara menghampiri Lia dan segera menarik tangannya dengan kasar.
"Ayo pulang, tak seharusnya kamu bermalam di rumah seorang pria." Bara terus saja menarik Lia dengan kasar sampai ke depan mobilnya.
"Lepaskan aku mas, apa yang mas lakukan di sini dan memukul dokter Herman tadi."
"Dia pantas mendapatkannya, ayo masuk kita pulang, aku butuh penjelasan darimu." Lia pun masuk kedalam mobil di susul juga Bara.
Lia memalingkan wajahnya dari Bara dan memilih melihat luar dari balik kaca.
"Kenapa diam, apa kamu marah padaku? seharusnya aku yang marah padamu."
"Apa urusan mas, ikut campur. aku bisa pulang sendiri tanpa perlu mencariku dan membuat masalah dengan orang."
"Lihat aku Lia. . ." Lia tak menggubris ucapan Bara dan tak mau menatap Bara. Dengan kasar Bara menarik lengan Lia agar mereka lebih dekat.
Tangan Bara meraih kedua pipi Lia dan menahannya agar mau menatap Bara namun Lia malah menutup matanya.
"Dasar wanita bodoh. Kenapa kamu selalu membuatku cemas tanpa alasan. benar aku tak punya hak untuk ikut campur tapi sudah ku katakan selama kamu tinggal di rumahku kamu adalah tanggung jawab ku, aku tidak ingin sesuatu terjadi padamu ."
__ADS_1
Akas hanya mendengarkan pembicaraan Bara dan Lia dan tak mau ikut campur, dengan masalah mereka.
MAKASIH SUDAH MAMPIR DAN JANGAN BOSAN BUAT NUNGGU UPDETE SELANJUTNYA. 🙏🙏🙏 JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK 👍✍️❤️🎁⭐ DITUNGGU.