
Sore itu, Lisa ingin menemui Akas, terpaksa ia pun beralasan izin pergi ke mini market untuk membeli kebutuhan pribadinya.
Lisa datang ke sebuah cafe tak jauh dari kediaman Bara, dan meminta Akas untuk segera menemuinya. Hampir 30 menit Lisa menunggu hingga seorang pria datang menghampirinya dengan wajah ditutupi masker dan kacamata. Ia pun duduk berhadapan dengan Lisa.
"Ada perlu apa kamu memintaku datang kesini? dan siapa kamu rasanya aku tak pernah mengenalmu?" pertanyaan yang keluar dari mulut Akas pertama kali setelah sampai dan duduk di hadapan Lisa.
"Apa kamu sudah lupa padaku?" tanya Lisa balik sambil melepas wig yang ia kenakan membuat Akas terkejut.
"Alia???" ucap Akas yang kaget, "Kemana saja kamu, aku dengar kamu kabur dari orangtuamu dan datang ke kota ini tapi kenapa kamu tak pernah menghubungi kami, bahkan aku sempat mencarimu kemana-mana, tapi hasilnya nihil dan sekarang malah kamu datang sendiri menemui aku."
"Maaf, aku lakukan ini agar orang-orang suruhan papa tak menemukan keberadaan aku, aku tak ingin kembali sebelum semua keinginanku tercapai" jelas Alia.
"Terus kamu sekarang tinggal di mana? dan kenapa kamu menyamar seperti ini?"
"Aku kembali ke tempat mas Bara dengan menyamar sebagai Lisa, aku hanya ingin didekat mas Bara dan juga Alfin walaupun harus jadi orang asing. Tapi tujuanku ingin bertemu denganmu ada sesuatu yang ingin aku tanyakan, karena semenjak aku masuk kembali ke dalam rumah mas Bara semuanya berubah. Sebenarnya apa yang terjadi? Tolong katakan padaku Akas aku butuh penjelasan darimu."
Akas hanya dapat menghela nafas lalu ia mulai menceritakan semua yang terjadi pada Alia.
"Aku gak tahu lagi harus berbuat apa untuk membuat Bara kembali seperti semula, sepertinya Bunga sudah meracuni otak Bara dengan seribu rencana, Sampai dia tega mengusir ku." jelas Akas.
__ADS_1
"Lalu bagaimana hubunganmu dengan Ayu, aku merasa semenjak aku kembali mbak Ayu seperti orang lain, bahkan ia seperti mengabaikan tugasnya untuk menjaga Alfin. Aku takut Alfin kenapa- kenapa berada di tangan Ayu."
"Memangnya ada hubungan apa aku dengan Ayu?" tanya balik Akas.
"Bukannya kamu pacaran dengan mbak Ayu, bahkan kamu sendiri yang bilang secara blak-blakan pada kami." Akas hanya tertawa mendengar perkataan Alia.
"Aku tak pernah pacaran dengan Ayu, aku hanya pura-pura biar Bara panas hatinya. Lagian, setelah aku tahu Ayu adalah sepupu Bunga, aku meminta Bara untuk memecatnya karena bisa menjadi mata-matanya Bunga. Bukannya di iyakan malah aku di usirnya."
"Apa??? mbak Ayu sepupunya Bunga? pantas saja aku beberapa kali memergoki dia bertemu dengan bunga secara diam-diam. Aku curiga mereka ada hubungan dan ternyata memang. Kalau begini caranya aku harus bisa membuat mas Bara lepas dari pengaruh Bunga dan juga harus bisa mengusir Ayu dari rumah mas Bara. Aku gak akan tenang untuk pulang sebelum semuanya kembali seperti semula. Aku juga akan pastikan kamu kembali dan bisa menjaga Mas Bara."
"Apa kamu yakin bisa merubah semuanya? itu tak akan mudah sebab mereka berdua sudah mulai mengontrol Bara bahkan aktivitas Bara."
"Aku pasti akan mendukungmu, kabari aku jika butuh bantuan dariku. Sekarang aku harus pergi, Ada urusan lain yang harus aku kerjakan." Akas pun pergi dari cafe meninggalan Alia. Alia sendiri segera bergegas untuk pulang kembali Sebelum ada masalah lain terjadi.
Lisa dengan buru-buru segera kembali, namun saat sampai depan gerbang rumah Bara, ia melihat Bara dan Bunga baru saja datang dan keluar dari mobil yang baru saja parkir. Mereka nampak bahagia seperti pasangan kekasih yang paling bahagia.
Lisa tanpa terasa mengepal kedua tangannya dengan kuat hingga kukunya yang panjang hampir menembus telapak tangannya. Lisa nampak cemburu dengan kemesraan mereka di depan matanya.
"Ternyata ini yang membuat kamu tak mau menjemputku mas, di saat aku sangat mengharapkan kamu menjadi pahlawan dalam hidupku yang berani menghadapi kedua orang tuaku dan membawaku menjadi istrimu. Pantas saja begitu banyak alasan yang kamu buat hingga membuat aku hampir menjadi milik orang lain." Lisa pun menyusul masuk setelah mereka masuk ke dalam rumah dan sedang bersantai di ruang tamu.
__ADS_1
"Dari mana saja kamu?" tegur Bara yang membuat langkah Lisa terhenti dan menoleh pada pasangan yang menjijikkan buat di lihat.
"Siapa dia mas? kenapa kamu tak memberi tahu aku kalau ada pelayan baru di rumahmu. Kan aku sudah bilang jangan terlalu banyak memperkerjakan pelayan di rumah itu hanya membuang-buang uang saja." Saut Bunga Sebelum Lisa menjawab pertanyaan Bara.
"Maaf tuan saya tadi pergi membeli keperluan saya sebentar di mini market dekat sini saja." Jawab Lisa pada Bara.
"Ya sudah, masuk sana dan jangan mengganggu kami." usir Bara.
"Jangan cemburu sayang, dia hanya seorang pelayan saja, aku butuh dia untuk mengurusku, karena kamu gak mau ngurus keperluanku." bujuk Bara pada Bunga
"Aku ini mau jadi istrimu bukan pelayanmu." saut bunga dengan santai.
Lisa yang masih bisa mendengar percakapan Bunga dengan Bara pun rasanya ingin mual.
"Awas kamu bunga, kamu akan menyesal bermain api denganku. Aku akan membuat Mas Bara tergila-gila padaku bahkan aku bisa melakukan apapun bahkan aku bisa mendepakmu keluar dari hati mas Bara." Lisa pun kembali ke kamarnya dan di rumah belakang.
Tanpa terasa air mata menetes di pipi Lisa membasahi wajah yang mencoba tegar. Hati yang berlahan ia labuhkan pada Bara mulai goyah, bak Perahu layar tanpa nahkoda yang terombang-ambing di lautan, Mulai berlabuh mengikuti arah angin. Entah, akankah sampai berlabuh di daratan yang di tuju ataukah kembali terombang-ambing di tengah laut yang tanpa kepastian, hanya berharap pada arah mata angin yang akan membawanya.
Bunga pun pulang dengan wajah bahagia, begitu puas hatinya bisa mengambil hati bara kembali setelah sekian lama ia berusaha dengan berbagai cara untuk menjauhkan Bara dari Alia.
__ADS_1
Bara sendiri seperti seperti orang yang kehilangan kebahagiaan, dihadapan bunga ia pura-pura bahagia namun di belakang hatinya begitu kosong.