Sekertarisku Ibu Susu Putraku

Sekertarisku Ibu Susu Putraku
masalah Baru


__ADS_3

Setelah ancaman Lia. Ayu memutuskan untuk keluar dari pekerjaan menjadi baby sitter Alfin. Entah apa yang sedang direncanakan antara Ayu dan Bunga, namun setidaknya Lia sedikit lega karena tak ada lagi orang yang ingin berniat jahat pada keluarganya.


Lia tak mencari pengganti Ayu, ia memilih untuk merawat Alfin seorang diri. Sebab dirinya masih belum bisa percaya pada orang lain untuk mengurus putranya, walaupun bukan putra kandung namun Alfin sudah memberikan ASI-nya untuk Alfin.


Saat sedang bersantai di halaman belakang, Lia sesekali memandangi foto putra kandungannya yang bernama Arka Halilintar. Nama yang di berikan Kedua orang tuan Lia. Menurut informasi dari pamannya.


"Nak, kapan kita bisa bertemu, mama sangat rindu padamu. Ingin rasanya mama memeluk dan mencium wangi tubuhmu. Maafkan mama jika mama belum pantas menjadi mama terbaik buatmu, mama harap kamu tak akan membenci mama. Ini semua bukan kehendak mama tapi semua sudah manjadi jalan cerita kita, mama janji mama akan berjuang untuk bisa bertemu denganmu." Berkali-kali Lia mencium foto Arka yang sudah seusia Alfin.


Sebuah kecupan mendarat di kepala Lia begitu saja, "Kenapa kamu di sini sendiri sayang, apa yang sedang kamu fikirkan." tanya Bara yang masih berada di belakang Lia lalu berpindah di samping Lia. Lia pun menyandarkan kepalanya di pundak Bara.


"Aku kepikiran Arka putra kandungku, walaupun sekarang sudah berada di tangan kakek dan neneknya. Aku takut dia akan membenciku, karena aku hanya ibu yang melahirkannya tapi tak bisa membesarkannya. Aku takut, apa yang aku bayangkan menjadi kenyataan." Lia mencurahkan isi hatinya pada Bara di iringi air mata penyesalan.


"Ini semua bukan sepenuhnya salahmu, dalam hal ini aku ikut bersalah atas kejadian yang kamu alami." ucap Bara tanpa sengaja.


"Maksud mas?" tanya Lia dan menatap Bara.


"Eeeemmmm, maksud mas, ini juga salah mas yang tak bisa menepati janji. Untuk bisa membawa putramu dalam pelukanmu. Tapi sudahlah, sekarang ada Alfin yang saya sama kamu dan menganggapmu sebagai ibu kandungnya. Kita akan membesarkannya sama sama dan jika kamu mau kita juga bisa menjalankan promil." Lia pun bangkit berdiri mendengar kata promil.

__ADS_1


"Aku... Aku belum siap mas jika kita menjalankan promil. Alfin masih terlalu kecil untuk memiliki adik. Lagian aku...aku... sudahlah lain kali kita bahasnya, Aku lelah mas, aku ingin istirahat." ucap Lia yang mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Baiklah, kita istirahat tapi sesuai perjanjian, mulai sekarang kita tidak pisah ranjang lagi. Sayang harus menemaniku kita tidur satu ranjang." Bara pun langsung menggendong Lia dan membawanya ke kamar.


"Turunkan aku mas, malu kalau di lihat para pelayan. Mereka belum tahu kalau kita sudah menikah, takutnya nanti mereka berfikir yang tidak-tidak." Lia memukuli dada Bara meminta untuk menurunkan tubuhnya.


"Biarkan saja mereka bicara apa, yang terpenting kita sudah sah menjadi suami istri, jika mereka menanyakan tentang hubungan kita, sayang tinggal jelaskan pada mereka kalau sayang adalah istri mas. Begitu aja kok repot "


Lia pun tak dapat membantah perkataan suaminya dan mengikuti apa yang menjadi ke inginannya. Sejenak mereka melupakan apa yang barusan mereka bahas dan melepaskan rasa lelah tubuhnya bersama dengan orang yang di sayang.


______


Sekar dalam kondisi kritis, penyakit kanker yang di sembunyikannya dari keluarga sudah menggerogoti tubuhnya. Sekar meminta Lia kembali untuk menemani dirinya di sisa akhir hidupnya. Pesan itu di sampaikan oleh pamannya pada Lia.


Lia pun tak bisa berbuat apa-apa selain berkata jujur pada Bara akan kondisi mamanya dan meminta dirinya untuk kembali.


"Mas, semua keputusan ada di tangan mas, Lia sudah ceritakan semuanya pada mas. Sekarang tinggal Lia Menunggu jawaban dari mas untuk mengizinkan Lia atau tidak, sebab sekarang Lia adalah tanggung jawab mas." ucap Lia pada Bara yang sedang berfikir keras mengambil jalan terbaik untuk keluarganya.

__ADS_1


"Mas tidak bisa melarang mu untuk tidak pergi menemui mamamu, walau bagaimanapun dia adalah orang tua yang telah melahirkanmu dan membesarkanmu hingga kamu sekarang bisa menjadi milikku. Pulanglah, temui mamamu dan rawat mama di sisa waktunya, mas akan menyusul setelah pekerjaan mas di sini selesai. Tapi berjanjilah pada mas, bahwa kamu akan tetap setia pada mas dan jangan hianati mas. Mas juga akan menjaga hati mas di sini hanya untukmu.


"Tapi bagaimana dengan Alfin, Dia pasti akan mencari diriku, aku pun tak bisa jauh darinya begitupun dengan mas."


"Jangan kuatirkan kami, kami baik-baik saja di sini. Jika di sini semua urusan selesai kami akan segera menyusul mu di sana." Bara mencoba membujuk Lia dan Lia pun mengangguk dan memeluk erat suaminya. Air mata tak dapat di tahan Lia, yang harus meninggalkan suami dan anaknya demi menemani mamanya yang kritis. Bara pun terus mengusap punggung Lia yang ada dalam pelukannya dan mencoba untuk kuat saat dirinya harus melepas kepergian istrinya.


Atas persetujuan Bara, Lia pun segera mengemasi beberapa barang bawaannya dan sudah memesan tiket pesawat agar perjalanan lebih cepat daripada jalur darat.


Sebelum esok pergi, Lia berkali kali mencium Alfin, untuk melepas segala kesedihan harus meninggalkan putranya untuk yang kedua kalinya, dimana disaat dia mulai tumbuh kembang tak ada seorang ibu yang menemaninya.


"Maafkan mama sayang, mama harus meninggalkan kamu lagi, mama harap kamu bisa mengerti posisi mama saat ini. Mama janji akan selalu memberi kabar padamu, jadi anak kebanggaan mama dan papa ya sayang." Lia pun kembali menangis sambil memeluk Alfin, Ingin rasanya Lia membawa Alfin ikut bersamanya. Namun apa daya, kemungkinan di sana ia tak bisa mengurus putranya karena dirinya akan fokus mengurus mamanya yang kritis dan membutuhkan dirinya.


____


Waktu begitu cepat berlalu, di mana jadwal keberangkatan Lia sudah hampir tiba,Bara mengantarkan Lia ke bandara bersama dengan Alfin untuk melepas kepergiannya.


Sesampainya di bandara, Lia menggendong Alfin sedangkan Bara membawa koper Lia dengan sebelah tangan menggandeng tangan Lia.

__ADS_1


"Sampai di sini mas bisa mengantarmu, jangan lupa kabari mas jika sudah sampai. dan ingat pesan mas."


"Iya mas, Lia janji akan selalu setia sama mas, dan tak akan pernah mengkhianati mas. Lia pamit mas, jagakan Alfin untuk Lia. mas juga jangan lupa untuk segera menyusul Lia, Lia tunggu." Sebelum pergi Lia pun memeluk erat Bara dan menyerahkan kembali Alfin tak lupa Bara mencium kening Lia Sebelum pergi.


__ADS_2