Sekertarisku Ibu Susu Putraku

Sekertarisku Ibu Susu Putraku
PANAS


__ADS_3

"Selamat datang pak Toni, ada masalah apa tiba-tiba datang langsung kemari. Jika memang ada sesuatu bisa anda sampaikan lewat Asisten anda dan tanpa perlu repot-repot kemari" Ucap Bara dengan wibawanya dan sedang duduk di sofa tunggal sedangkan Toni duduk bersama Lia.


"Tidak ada yang terlalu penting, aku kesini sekalian ingin bertemu dengan Lia, yang susah sekali di hubungi."


"Aku. . ." Lia menunjuk dirinya sendiri, "Jika ingin bertemu dengan ku kenapa tidak di luar jam kerja." imbuh Lia


"Ayolah sayang jangan marah, aku kesini hanya ingin pamit padamu dan memintamu untuk mengantarku ke bandara, aku akan ke Jepang untuk mengurus bisnis baruku di sana"


"Mas Toni mau pergi? kenapa mendadak?" Lia sedikit kecewa dengan berita yang di sampaikan Toni.


"Maaf, aku tidak memberitahumu dari awal, tapi tenang saja jika kamu mau ikut, aku akan membawamu sekarang juga. Bagaimana apa kamu mau ikut?"


"Gak mas, Lia di sini aja. Lagian mas di sana untuk bisnis bukan liburan."


Bara yang sedari tadi mendengarkan percakapan Lia dan Toni telinganya mulai panas.


"Terus bagaimana dengan kesepakatan yang sudah berjalan ini, bukankah itu merugikan kamu."


"Apa boleh buat, aku harap Lia mau mengerti dan aku akan selalu meluangkan waktu untuk menghubunginya."


"Aku paham mas, gak usah kuatir semuanya akan tetap adil."


" Mas sayang sudah mengerti, mas selalu kagum dengan pengertian dan keputusanmu yang gak pernah mengecewakan."


"Eeeeemmmm, Ada orang lain juga di sini." ucap Bara.


Tak lupa tujuan Toni datang sebenarnya tak cuma untuk bertemu Lia tapi juga untuk membahas proyek yang sedang di kerjakan perusahaan Bara.


Setelah selesai, Toni pun pamit dan akan menjemput Lia malam nanti untuk mengantarnya ke bandara.


Lia mengantar Toni sampai lobi dan Bara tinggal di ruangannya.


Setelah Toni pulang, Lia kembali keruangan dan mendapati Bara masih berdiri menunggu Lia.


"Ngapain bapak masih berdiri di situ? pantat bapak bisulan ya, atau terlalu panas melihat kami." Ledek Lia sambil berlalu melewati Bara, namun lengan Lia di tahan Bara dan menarik tubuh Lia hingga saling berhadapan.

__ADS_1


"Apa yang bapak lakukan. sakit lengan Lia," Lia berusaha meronta.


"Aku terlalu panas," ucap Bara singkat.


" Kalau panas ya dinginkan lagi Ac-nya atau mau Lia kipasi."


"Hati dan telingaku yang panas."


Lia terdiam mendengar ucapan Bara dan menatap tajam sorot matanya, mencari kebohongan yang tersembunyi. Namun sayang Lia tak mendapatkannya.


"Apa benar, yang di ucapkan mas Bara? tapi kenapa sikapnya seolah acuh tak acuh, atau itu hanya untuk menutupi perasaannya agar tak terlihat olehku. Tapi apa gunanya ia sembunyikan?" gumam Lia di sela tatapannya.


Tanpa sadar, godaan datang menghampiri. kedua manusia ini saling menyatukan bibir mereka menjadi satu untuk sesaat.


Sesaat mereka tersadar dan menjadi salah tingkah dan saling membelakangi. Masing-masing menyangkal dengan barusan yang terjadi.


" Maaf aku khilaf," Ucap Bara mengawali.


"Aku juga minta maaf, seharusnya ini tidak terjadi walaupun hanya sebatas itu, tapi itu gak boleh terjadi."


Tak lama Lia kembali fokus pada pekerjaannya dan Melihat jadwal Bara hari ini. Mata Lia seketika terbelalak melihat nama yang tertera di jadwal, nama yang tak asing buat Lia


"Pak Bambang. Apa ini pak Bambang mertua Lia, atau orang lain? tapi dari nama perusahaan yang tertera ini memang perusahaan papa mertua. Kalau benar, papa mertua gak boleh tahu Lia bekerja di sini atau akan ada masalah lain lagi." gumam Lia yang begitu gelisah.


"Lia. . . kenapa kamu nampak gelisah? Apa ku sedang sakit?" tanya Bara.


"Gak papa pak"


"Ohhhh begitu, pertanyaanku tadi belum kamu jawab, ada jadwal pertemuan lagi tidak untuk hari ini?"


"Aaaaddddaaa pak," jawab Lia gugup. "bapak ada janji dengan pak Bambang dari perusahan MK, beliau akan datang kemari pukul 15.00" jelas Lia.


Bara menyandarkan tubuhnya di kursi dan sesekali menggoyangkan kursi kerjanya sambil melipat kedua tangannya.


"Pak Bambang, ayahnya Bunga. Sudah lama sekali aku tak bertemu dengannya, tak ku sangka waktu mempertemukan kita kembali. Ada perlu apa lagi dia kemari setelah memutuskan kerja sama 2,5 tahun yang lalu, apa dia sudah mulai bangkrut dan membutuhkan kucuran dana?" ucap bara sambil senyum sinisnya tersungging di bibirnya membayangkan apa yang di inginkan mantan calon mertuanya itu.

__ADS_1


"Bunga? bukankah itu nama adik nama adik mas Rian? Iya aku pernah mendengar adiknya gagal menikah dengan pengusaha muda, hanya karena calon suaminya menghamili wanita lain dan lamarannya di tolak mentah-mentah mas Rian dan itu ternyata mas Bara. Dunia memang sempit gak ku sangka jalan hidupku masih berputar dalam keluarga mas Rian. Jadi,mas Bara akan bertemu dengan papa mertua, sebaiknya aku harus menyembunyikan wajahku jangan sampai papa mengetahui keberadaan ku." Gumam Lia dan langsung bangkit berdiri.


"Mau kemana Lia?"


"Mau ke toilet, kenapa mau ikut?" jawab ketus Lia.


"Nyolot amat jawabnya, sudah sana pergi."


"Lagian orang bergerak sedikit aja di curigai."


"Siapa yang mencurigai kamu, aku hanya sekedar bertanya." nada Bara mulai tinggi dan mulai kesal.


"Udahlah, malas aku berdebat dengan bapak, hatiku lagi kacau dan tak ingin memperkeruh masalah dengan bapak yang selalu membuat mood ku hilang." Lia pun pergi keluar meninggalkan Bara.


"Dasar wanita galak, sudah mulai berani dengan ku. ternyata kamu bisa mengimbangiku, aku suka sikapmu itu." gumam Bara sambil tersenyum di balik hilangnya Lia dari pandangan matanya.


Bukanya ke toilet, Lia malah mendatangi ruangan Akas. Lia langsung membuka pintu ruangan Akas tanpa mengetuk, Lia melakukan itu agar tak ketahuan Bara.


"Akas, apa aku mengganggumu?" tanya Lia sambil menghampiri Akas.


"Lia, ngapain ngumpet-ngumpet masuknya kaya maling aja."


"Huuusssttt, jangan nyaring- nyaring nanti ketahuan pak Bara." ucap Lia sambil mengkode. Lia duduk di hadapan Akas yang masih duduk di meja kerja.


"Ada apa Lia, sampai ngumpet dari Bara?" tanya Akas


"apa kau punya kacamata dan masker? aku butuh sekarang!"


"Buat apa Lia? emangnya kamu mau menyamar dan menyelidiki kasus apa. Aku kira ada masalah serius sampai ngumpet-ngumpet."


"Pokoknya penting. jawab aku sekarang punya gak?"


"Ha. . .ha. . ., kamu lucu Lia, mau minjam maksa pula. Tu ada masker sekali pakai dan ini kaca mata milikku, tapi jangan lupa di kembalikan. ini banyak kenangannya jangan sampai rusak."


Lia menerimanya dengan senyum penuh ketulusan, " terimakasih atas bantuanmu kali ini, akan ku balas semua kebaikan mu nanti, kalau begitu aku pergi dulu ya."Lia pun bergegas pergi.

__ADS_1


"Dasar Lia, lama-lama kamu lucu juga ya, gemesin pula" ucap Akas yang membalas senyuman Lia setelah Lia pergi.


__ADS_2