Sekertarisku Ibu Susu Putraku

Sekertarisku Ibu Susu Putraku
kembali lagi


__ADS_3

Tangis Alfin mengiringi kepergian Lia, Tangan Alfin yang menjulur ke arah Lia, seolah tak ingin mamanya pergi. Lia terus berjalan dan tak mau menoleh ke belakang walaupun ia tahu ada anak dan suaminya yang masih menatap kepergiannya.


Sesuai jadwal penerbangan Lia pun berangkat dan sesampainya di kota kelahirannya Lia sudah di tunggu oleh anak buah papanya.


"Selamat datang nona, saya di perintahkan tuan untuk menjemput nona. Silahkan ikut, kami akan mengantarkan Anda ke rumah." ucap salah satu anak buah papanya yang menyapa Lia.


"Antarkan aku langsung ke rumah sakit, aku ingin melihat keadaan mama sekarang." perintah Lia dan mereka pun mengangguk. Lia di arahkan menuju mobil yang sudah terparkir di bandara. Segera mereka membawa Lia menemui ibunya di rumah sakit.


Lia pun segera pergi ke rumah sakit, selama di perjalanan Lia di kawal dua mobil di belakangnya. Walau bagaimanapun Lia adalah pewaris kekayaan keluarga Halilintar. Sehingga keselamatannya menjadi prioritas utama.


Sepanjang perjalanan, Lia memilih untuk Istirahat sejenak. Tubuhnya terlalu lelah karena terlalu lelah menghadapi semua lika-liku kehidupannya.


Setelah sampai di rumah sakit, Lia di antar salah satu pengawalnya dan yang lain Menunggu di luar. "Nona ini ruang rawat nyonya Sekar." ucap pengawal itu. Di depan pintu kamar mamanya ada dua orang yang menjaga, dan menunduk hormat pada Lia saat dirinya datang.


Tanpa bicara Lia pun masuk ruang kamar rawat mama Sekar yang ada di kelas VVIP. Lia menatap tubuh yang terbaring di ranjang dengan beberapa peralatan medis terpasang di tubuh mamanya. Air mata Lia tak dapat di bendung lagi melihat wanita yang telah melahirkannya kini sedang terbaring tak berdaya. "Mama, Lia datang. Maafin Lia yang baru bisa datang untuk menemani mama. Ma, cepat sembuh, Lia yakin mama pasti kuat melawan penyakit mama."Lia menggenggam tangan Sekar dan berkali-kali ia ciumi.


Sekar yang merasakan ke hadiran Lia pun membuka mata dan memandang wajah putri satu-satunya yang kini sudah datang menemuinya. "Lia, putriku. kamu kembali nak? mama sangat merindukanmu. Maafkan mama jika memaksamu untuk kembali kesini."


"Tidak ma, seharusnya Lia yang minta maaf, di saat mama sedang melawan penyakit mama, Lia tak ada di dekat mama untuk merawat mama. Mama cepat sembuh ya, Lia janji Lia tak akan membuat mama kecewa lagi dan Lia juga janji akan selalu ada di dekat mama."


"Terimakasih sayang, kamu masih peduli pada mama, tapi mungkin waktu mama tak akan lama lagi. mama hanya ingin kamu bersama mama di sisa hidup mama."


Lia pun berjam-jam duduk menemani mamanya, hingga ia tertidur di samping mamanya sambil tetap menggenggam tangan Sekar.

__ADS_1


Kedatangan Sekar, terdengar sampai ke Toni dan Toni pun saat itu juga pergi menemui Lia. Saat Toni sampai rumah sakit hari pun sudah malam. Dengan membawa buket bunga dan juga buah-buahan Toni menghampiri Sekar dan juga Lia, namun karena Lia terlalu lelah hingga tak menyadari kehadiran Toni.


"Nak Toni, kapan kamu datang?" tanya Sekar dengan suara serak.


"Saat Toni dengar Lia kembali, Toni langsung kembali ke sini. Gimana keadaan rente, Toni dengar dua hari lagi Tante akan operasi."


"Macam inilah keadaan Tante, entahlah sampai atau tidak usia tante sampai lusa. Tante sudah pasrah dengan ini semua, Tante juga sudah bahagia bisa di temani putri Tante. Nak tolong angkat Lia dan baringkan ke sofa, kasihan dia dari dia datang sampai sekarang tak bergerak dari kursi yang ia duduki sekarang." Toni pun hanya mengangguk lalu mengangkat tubuh Lia ke sofa dan menyelimutinya.


"Dasar wanita liar, sudah dewasa tapi masih suka petak umpet." ucap Toni lalu mengecup kening Lia.


Toni pun menjaga Sekar menggantikan Lia Sampai pagi. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 8 pagi dan suara kamar sedikit berisik. Lia menggeliat merenggangkan otot tubuhnya sebelum ia benar-benar membuka mata. Iapun duduk sambil mengucek matanya dan tanpa ia sadari suara sapaan begitu dekat terdengar.


"Selamat pagi sayang!" sapa Toni yang ada di sebelahnya dan Lia pun kaget.


"Papa yang memberi kabar pada Toni. Dari mana saja kamu, sudah besar masih saja bersikap seperti Anak kecil yang suka kabur, apa kamu gak kasihan dengan mamamu. Gara-gara kepikiran kamu mamamu jadi sakit dan sekarang penyakit yang mamamu sembunyikan malah menggerogoti tubuhnya." Lia hanya tertunduk dan tak bisa berkata apa-apa.


"Sudahlah mas, jangan buat Lia merasa bersalah. Dia mau kembali saja sudah cukup." ucap pamannya yang juga datang menjenguk kakaknya.


"Iya om, jangan marahi Lia lagi, kasihan dia. Lebih baik kita fokus untuk kesembuhan Tante." ucap Toni.


"Lia mas sudah belikan sarapan, ayo di makan dulu, tadi malam Tante bilang kamu gak ada makan sama sekali. Ayo di makan nanti kamu bisa sakit kalau gak makan." bujuk Toni.


"Aku gak lapar. Terimakasih sudah perhatian. Lebih baik mas makan sendiri sarapannya."

__ADS_1


"Lia, sampai kapan kamu bisa jadi wanita dewasa, dia itu calon suamimu, hargai usahanya. Papa gak suka jika kamu masih saja bersikap seperti anak-anak."


"Tapi pa..."


"Jangan bantah, makan sarapan mu papa gak mau kamu sakit juga, itu bisa buat mamamu sedih." Lia malah menatap pamannya dan pamannya pun memberikan kode untuk menurut.


"Biar mas suapin ya."


"Gak usah, Lia makan sendiri saja." tolak Lia , namun belum sempat Lia mengambil makanannya Toni lebih dulu mengambilnya dan ingin menyuapi Lia.


"Mas akan menyuapiku biar kamu bisa makan sampai kenyang, kalau kamu makan sendiri paling hanya beberapa suap." ucap Toni lagi sambil menyuapkan nasi dan lauk di depan mulut Lia, dengan terpaksa Lia pun menerima suapan dari Toni.


Di saat sedang sarapan chat masuk di ponsel Lia dan itu dari Bara. Lia pun tersenyum sendiri membaca dan membalas chat dari suaminya tak perduli di depannya ada laki-laki lain.


"Chat siapa? kok kelihatannya sangat menarik."


"Gak usah ikut campur dengan urusanku mas, ini pribadi mas gak usah tanya-tanya ataupun mencari tahu."


"Oke, maaf kalau aku salah. Tapi ingat kamu itu tunangan ku."


"Apa kau lihat ini mas, tak ada lagi cincin yang mas berikan yang melingkar di jariku, dan hanya ada satu cincin yang melingkar di jari manis ku, mas tahu kan itu tandanya apa?" ucap Lia sambil menunjukkan jemarinya namun Toni hanya tertawa.


"Apalah artinya sebuah cincin, itu hanya sebuah simbol saja, dan bisa di lepas atau di buang. Jadi selama tak ada bukti dan saksi yang kamu maksudkan mas tak percaya." Lia pun kembali tertunduk karena pernikahannya dengan Bara memang sah secara agama namu belum terdata di negara yang membuatnya tak punya bukti atas pernikahannya terlebih orang tuanya juga tak mengetahuinya.

__ADS_1


__ADS_2