Sekertarisku Ibu Susu Putraku

Sekertarisku Ibu Susu Putraku
6 Bulan


__ADS_3

Lia menangis sambil memeluk lututnya, tak kuasa menahan sakit hatinya karena ucapan papanya.


Sekar yang mengetahui, sesuatu tentang Lia dari Bara langsung menghampiri putrinya itu.


"Alia, maafkan papamu nak, papa gak ada maksud buat menyinggung perasaanmu." Sekar mengusap punggung Lia yang terus saja menangis.


Bara pun menghampiri Lia setelah berbicara dengan papanya.


"Tante bisakah saya bicara dengan Lia sebentar. Ada yang ingin saya bicarakan." Sekar pun mengaguk dan meninggalkan Bara dan Lia.


"Lia, berhentilah menangis, mas ingin bicara padamu."


"Aku gak mau di sini lagi, aku mau pulang. Sehari saja aku di sini sama seperti aku di penjara bertahun-tahun."


"Maafkan aku Lia, sepertinya aku gak bisa membawamu kembali. Memang papamu sudah membatalkan syarat itu tapi papamu memintaku untuk menunggu setengah tahun lagi. Baru aku bisa menikahimu."


"Apa hak papa melakukan itu, aku juga gak mau tinggal di sini lagi, aku mohon bawa aku kembali, aku gak mau disini, aku gak bisa jauh dari Alfin."


"Maafkan aku Lia. Mungkin ini yang terbaik. tunggu aku 6 bulan lagi, aku pasti akan datang untuk menikahimu."


"Tapi 6 bulan itu waktu yang sangat lama, aku gak mau berlama-lama di sini, walaupun ini rumah orang tua kandungku tapi aku gak betah tinggal di sini."


"Dengerin aku Lia, kamu sudah dewasa kamu sudah menjadi orang tua, kamu harus paham apa keinginan orang tuamu padamu. Mereka masih ingin menghabiskan waktu bersamamu Sebelum mereka melepaskan mu kepada suamimu. Suatu hari kamu pasti paham dengan keputusan yang sudah di buat. Mas harap kamu bisa menunggu sampai waktu itu tiba." Bara pun memeluk Lia untuk terakhir kalinya Sebelum Bara kembali dan meninggalkan Lia.


"Mas janji akan menjemput Lia enam bulan lagi, Lia akan menunggu mas disini sampai mas bara datang."


Malam itu adalah malam terakhir antara Lia dan Bara untuk bertemu. pagi-pagi sekali Bara sudah pergi meninggalkan Lia.


Di perjalanan Bara, terus saja melamun. seperti memikirkan sesuatu. Akas terus saja memperhatikan Bara.


"Sebenarnya apa yang terjadi antara kalian?" tanya Akas.

__ADS_1


"Sungguh di luar dugaan ini akan terjadi."


"Maksudmu?"


"Pak Sata, memintaku menunggu 6 bulan baru bisa meminang Lia."


"Apa ... 6 bulan, itu waktu yang lama, apa sebabnya kamu harus menunggu Lia selama itu."


"Ada alasan yang gak bisa aku jelaskan ke kamu, aku sendiri paham dengan keputusan yang di ambil pak Sata, dan itu semua demi kebaikan Lia."


"Terserah aku gak bisa ikut campur dengan urusanmu, setidaknya untuk saat ini kamu masih bisa bebas menjadi duda."


Mereka pun melanjutkan perjalanan yang masih lumayan jauh.


_____


Lia yang baru terbangun, bergegas pergi ke kamar Bara,mencari keberadaan Bara. Lia gak ingin ditinggalkan sendirian di sini. Namun saat sampai kamar Lia sudah tak mendapati Bara.


"Mas ... Bara, mas kamu dimana? kamu gak akan ninggalin aku kan. Mas ...jawab panggilanku." Lia pun Teriak memanggil Bara sampai Sekar pun datang menghampiri.


"Gak ma, gak mungkin mas Bara ninggalin aku. Aku mau ikut bersamanya ma, aku gak mau disini."


"Lia ..." bentak papanya.


"Jangan di cari yang sudah pergi. Kamu itu sudah besar dan kamu juga harus paham dengan keputusan papa." bentak Sata


"Papa jahat, dari dulu papa gak berubah. Alia benci papa." teriak Lia lalu berlari kembali ke kamarnya.


Sekar hanya bisa menenangkan suaminya yang sedang emosi.


"Ini ma, yang gak papa suka dari anak perempuan, bisanya hanya menangis saja, gak mau mengerti keputusan kepala keluarga di rumah ini. Papa lakukan ini padanya bukan karena papa benci, papa hanya ingin melihat dia menjadi wanita yang tangguh seperti laki-laki, bukannya cengeng seperti ini."

__ADS_1


"Sabar pa, anak kita baru saja kembali, jangan buat dia gak betah lagi tinggal bersama kita."


"Papa mau, mama jangan memanjakan dia, papa mau mulai sekarang dia belajar menjadi wanita tangguh karena hanya dialah yang akan menjadi pewaris tunggal keluarga Halilintar. Dan untuk Bara aku sedang menguji kesetiaannya pada anak kita, aku gak mau anak kita sampai dikecewakan. Papa sudah mengirim seseorang untuk mengawasi perilaku Bara."


"Mama, Selalu yakin dengan papa, di balik sikap papa ini, papa Sangat menyayangi Alia. Andai Arjun masih ada, mungkin hidup keluarga kita akan tambah bahagia."


_____


Di kamar Lia melampiaskan amarahnya terhadap Bara dan juga papanya.


"Kalian semua jahat, kalian semua gak sayang sama Lia. kalian egois, apa kalian gak mikirin perasaan Alia ini." Lia membuang batal ke segala arah dan mengacak-acak seisi kamar untuk pelampiasannya.


Sekar dan Sata membiarkan Alia melampiaskan amarahnya. Sata sadar itu terjadi karena dirinya yang tak bisa menunjukkan rasa sayangnya pada Lia. Walaupun dalam hati Sata ingin sekali memeluk dan memanjakan ya.


"Ini berikan pada Lia, didalamnya sudah papa isi uang jajan cukup untuk dia. dan yang ini gunakan untuk membeli semua kebutuhan Alia dan jangan lupa mama temani dia belanja. Ajak di ke showroom untuk memilih mobil baru untuknya nanti biar papa yang bayar."


Setelah memberikan kartu debit, Pak Sata pun berangkat ke kantor.


Sekar masih membiarkan Lia, dan memilih pergi ke taman bunganya yang ada di halaman belakang.


Setelah puas menangis Lia pun turun kelantai bawah dengan mata yang masih sembab, mencari sosok mamanya.


Lia pun menghubungi Sekar di taman belakang setelah di beri tahu pembantu.


"Ma ...." panggil Lia


"Iya sayang ada apa?" jawab Sekar sambil menghampiri putrinya itu.


"Alia gak punya baju ganti." ucap Lia.


"Lo bukannya kemaren sudah di bawakan beberapa baju dari butik."

__ADS_1


"Lia gak suka, memakai pakaian seperti itu."


"Ya udah, pakai baju yang ada saja dulu, nanti kita belanja kebutuhanmu, papa tadi sudah menitipkan kartu debit buat kamu." Lia pun hanya mengangguk, menurut mamanya. Tak ada pilihan lain selama ia tinggal di rumah itu dia harus mematuhi peraturan yang ada walaupun rasa benci masih menyelimuti hati Lia.


__ADS_2