
Lagi-lagi Lia harus berputar ke dunia masa lalu lagi dan lagi. Entah sampai kapan perjalanannya akan berhenti. Orang-orang yang ingin ia lupakan selalu hadir bagai bayangan yang selalu membuntuti kemanapun Lia melangkah. Apakah ini sudah garis takdir Lia atau semua sudah direncanakan. Entahlah mana yang benar, yang jelas Lia sekarang tak bisa lari lagi dari kenyataan. Pria itu datang kembali menemui dirinya.
'Apa mungkin dia adalah jodoh Lia?' sebuah tanda tanya yang akan terjawab suatu hari nanti.
"Lia sayang, kenapa diam saja dari tadi. Gak suka mas datang menemui dirimu." tanya Toni sambil menyetir mobilnya.
"Maaf, Lia masih kaget aja, ternyata mas kenal dengan papa, atau jangan-jangan mas Toni memang sudah tahu kalau Alia ini anak pak Sata Halilintar." Toni hanya tertawa mendengar jawaban Lia.
"Dari awal aku juga sudah tahu. Saat aku ingin berkenalan denganmu eh, kamunya sudah menghilang. Dan gak sengaja kita bertemu lagi saat kamu melamar kerja di kantor ku."
Tak lama mereka pun sampai ke sebuah hotel berbintang yang terkenal dengan fasilitasnya lengkap dan sangat mewah.
"Ngapain kita kesini, bukannya tadi mas bilang mau pulang kerumah yang sudah lama mas tinggal?"
"Ini rumahku, ini hotel peninggalan papaku dan karena aku anak tunggal jadi semua harta kekayaan jatuh padaku. Ayo ikut mas masuk." Toni pun menarik tangan Lia agar mau ikut bersamanya. Resepsionis yang tahu pemilik hotel datang tanpa di minta langsung memberikan Cardlock pada Toni.
Toni membawa Lia ke salah satu kamar hotel VVIP di khususkan untuk pemilik hotel.
Saat sudah sampai, tangan Lia langsung di tarik masuk ke dalam kamar tersebut hingga Lia jatuh dalam pelukan Toni.
"Aku sangat merindukanmu sayang." ucap Toni dan memeluk erat Lia.
"Lepaskan aku mas." berontak Lia dan Toni pun melepaskan pelukannya. Lia pun menjauh dari Toni.
"Maafkan aku sayang, aku gak ada maksud apa-apa, aku hanya merindukanmu." Lia terdiam dan menitikkan air mata, teringat kembali bagaimana Toni merenggut kehormatannya saat itu.
"Aku mau pulang, aku gak mau disini." ucap Lia lalu tiba-tiba pandangannya kabur dan pingsan. Toni sempat menangkap tubuh Lia hingga Lia tak sampai jatuh kelantai.
"Lia bangun, Lia. . ." panggil Toni. Dengan segera Toni membawa Lia ke rumah sakit dan menghubungi keluarganya.
__ADS_1
Sata dan Sekar pun segera kerumah sakit di mana putrinya di rawat sedangkan Toni menunggu di luar selagi Lia di periksa.
Setelah dokter selesai memeriksa, Sekar langsung mencecar pertanyaan mengenai putrinya.
"Dok, bagaimana keadaan putri saya, apa dia baik-baik saja?" tanya Sekar
"Pasien baik-baik, dia hanya kelelahan dan stress. Dia butuh di rawat di sini beberapa hari untuk memulihkan keadaannya."Jelas dokter.
"Apa kami bisa menjenguknya?"
"Silahkan, pasien juga sudah sadar." dokter itu pun pergi.
Lia di rawat di kamar VIP, wajahnya nampak pucat dan lemah.
Saat melihat wajah kedua orangtuanya dan Toni Lia malah memalingkan wajahnya. Sekar menggenggam tangan Lia yang terpasang infus.
"Lebih baik kalian pergi dari sini, aku mau istirahat dan jangan menggaguku." ucap Lia.
"Kamu tega mengusir kami Lia. Oke tak masalah kau mengusirku tapi janganlah kamu mengusir orang tuamu." saut Toni.
"Tega katamu mas, lebih tega mana aku dari kalian semua yang tega membohongiku. Aku ini bukan anak kecil yang dengan mudah bisa kalian tipu, aku tahu permainan kalian di belakang ku setelah aku tahu mas Toni mengenal papa. Ya semuanya sudah bisa di tebak sekarang. Lebih baik kalian keluar dari sini, aku gak ingin melihat kalian lagi." bentak Lia.
"Lia ..." bentak balik Sata. Begitukah perolehan mu Selama kamu berkeliaran di luar sana, berani membentak kedua orang tuamu dan calon suamimu"
"Calon suami kata papa, tidak aku tidak mau menikah dengannya, laki-laki yang sudah merusak semuanya. Ya memang aku sempat memaafkannya tapi tidak kali ini setelah dia tega berbohong padaku. Sekarang kalian keluar dari sini atau aku yang keluar." ucap Lia sambil menutupi tubuhnya dengan selimut.
Sekar mencoba menahan amarah suaminya atas sikap anaknya, dan memilih pergi meninggalkan Lia sendiri.
"Maafkan aku Tante, ini semua salahku. Jika dari awal aku jujur padanya mungkin dia tak akan semarah ini." ucap Toni
__ADS_1
"Tidak sayang, ini bukan salahmu, ini adalah buah hasil dari sikap kami yang egois sebagai orang tua. Tante paham dengan perasaan Lia saat ini. Mungkin dia butuh waktu untuk menerima kenyataan dan Tante harap nak Toni mau bersabar sedikit lagi dan memberikan waktu untuk Lia lebih tenang."
"Dasar anak gak tahu sopan santun, kalau bukan karena Alia anakku sudah ku cincang-cincang mulutnya yang gak bisa menghargai orang tuanya."
"Sudah lah pa, jangan memperkeruh suasa, ini juga akibat papa yang memperlakukan Alia seperti Boneka yang harus mau menuruti semua perintah papa, ingat Alia sudah besar. dia tahu jalannya sendiri jangan mengekang dirinya, mama takut dia akan kabur lagi seperti dulu."
Mereka pun memilih pulang dan meninggalkan Alia sendirian, istirahat di rumah sakit.
ponsel Alia berdering, mengusik Lia yang sedang terisak-isak dalam tangisnya.
Bara menghubungi Lia, saat Lia mengetahui dirinya buru-buru mengangkat panggilan dari Bara.
"Mas Bara!!" jawab Lia.
"Apa kabar Lia, apa kamu baik-baik saja?, entah ada apa perasaan mas sangat gelisah merasa seperti ada sesuatu terjadi padamu. Kamu baik-baik saja kan?" tanya Bara.
"Aku baik-baik saja mas, aku kangen sama Alfin, Apa aku bisa mendengar suaranya?" tanya Lia.
"Maaf Lia, Aku sedang di kantor jadi aku tidak bisa mendengarkanmu dengan suara Alfin."
"Ooohhhh, mas... Apa kau mencintaiku? apa kau benar-benar ingin menikahiku? dan apa benar mas akan melindungiku? apa semua yang mas ucapkan waktu itu tulus dari hati?"
"Apa maksud pertanyaanmu itu Lia? Mas sudah berani datang menemui orang tuamu dan meminta restu padanya, apa bukti itu masih kurang. Mas di sini selalu terbayang kamu di sana, dan di benak mas selalu bertanya-tanya, apa kamu masih setia menunggu sampai mas datang menjemputmu."
"Tunggu aku mas, sebentar lagi aku akan datang menagih janjimu." ucap Lia
"Apa maksudmu Lia?" tiba-tiba ponsel Lia pun mati.
"Apa maksud perkataan Lia, tidak mungkin tidak mungkin dia melakukannya lagi." gumam Bara sambil menatap layar ponselnya yang sudah terputus dari panggilannya dengan Lia..
__ADS_1