Sekertarisku Ibu Susu Putraku

Sekertarisku Ibu Susu Putraku
Tegang


__ADS_3

Seperti biasa sebelum berangkat kerja mereka menikmati sarapan. Tak lupa juga Lia menyusui Alfin sebelum berangkat dan menyimpan asi yang sudah ia pompa untuk persiapan saat Alfin membutuhkan dan dirinya masih berkerja.


Hari ini Akas ikut berangkat bersama Bara dan tentunya yang akan menjadi sopir saat dirinya menumpang.


"Akas setelah sampai kantor, aku minta kamu panggil karyawan bagian promosi dan pemasaran." perintah Bara


"siap pak" Jawab Akas, " Sepertinya akan ada perang dunia ke empat dan siap-siap pecah gendang telinga ni." gumam Akas


Tak lama mereka pun sampai kantor. Karyawan yang sudah beraktivitas tak lupa memberikan salam, namun dengan acuhnya Bara berjalan tanpa kembali menyapa, namun Akas yang selalu menutupi ketegangan dengan menyapa kembali para karyawan.


Lia membuntuti Bara dari belakang hingga sampai ke ruangan. Sebelum beraktivitas kerja Lia selalu membuatkan kopi untuk Bara sesuai permintaan.


Saat Lia kembali ke ruangan, peperangan sudah di mulai. Awalnya Lia acuhkan setelah meletakan kopi Lia kembali ke meja kerjanya.


Empat karyawan bagian promosi dan pemasaran mendapat amukan dari Bara. Itu semua terjadi karena kinerja mereka yang menurun selama satu bulan terakhir.


"Kalian masih niat kerja di sini gak sih, apa yang kalian kerjakan selama sebulanan ini. Lihat laporan kinerja kalian sangat menurun drastis, jika kalian sudah bosan lebih baik buat surat pengunduran diri kalian, biar bisa cari pengganti kalian yang lebih baik."


"Beri kami kesempatan pak, kami janji akan bekerja secara maksimal dan tidak mengecewakan bapak." ucap salah satu karyawan.


" kesempatan, berapa kali lagi aku harus memberi kalian kesempatan, jika kerja kalian tidak ada perubahan.." ucap bara sambil tangannya menggebrak meja meluapkan amarah.


Lia memberanikan diri berbicara pada Bara, Lia merasa kasihan pada para karyawan yang pekerjaannya sudah di ujung tanduk.


"Pak, beri mereka kesempatan terakhir untuk membuktikan ucapan mereka, bahwa mereka bisa menepati janji."


"jangan ikut campur, ini bukan tugasmu untuk membela mereka."

__ADS_1


"Tapi pak. . .mungkin mereka memiliki alasan kenapa mereka tidak bisa mencapai target yang di harapkan, atau mungkin memang sekarang peminatnya yang menurun. Ini juga menjadi PR bagi perusahaan untuk membuat trobosan baru agar peminatnya kembali stabil."


Bara menarik nafas." Baiklah aku akan memberi mereka satu kali kesempatan. Itu karena alasanmu yang masuk akal, tapi jika mereka gagal aku pastikan akan mengganti mereka semua."


Akhirnya mereka keluar dengan perasaan lega, setelah tidak jadi di pecat, namun tidak dengan Lia. Hatinya was-was takut ucapannya menyinggung bosnya. Bara berjalan menghampiri Lia yang masih berdiri setelah menutup pintu.


Tatapan Bara yang tajam dan terus mendekati Lia. Membuat Lia mundur menghindari Bara, dan langkah Lia terhenti saat tubuhnya menempel di daun pintu.


Bara meletakan kedua tangannya tepat di samping kiri dan kanan tubuh Lia untuk menahan Lia agar tak bisa menghindar lagi.


Kedua insan saling bertatapan dan wajah mereka begitu dekat, hingga keduanya bisa saling merasakan hembusan nafas yang tak beraturan.


"Apa yang bapak lakukan?" tanya Lia dengan gugup.


"Siapa yang mengajarimu berani padaku, sudah ku katakan semua ucapanku tidak ada yang boleh bantah termasuk kamu." ucap tegas Bara


"Lia berhak menegur bapak, jika sikap bapak sudah kelewatan dan tidak bisa di cerna secara logika, Lia gak mau bapak menjadi orang yang kejam." ucap Lia


"Aku tidak takut dengan ancaman bapak. Kita lihat saja nanti. Bapak sekarang bisa acuh tak acuh padaku, aku juga bisa melakukan itu. Aku tidak peduli lagi dengan bapa, rasa kagum ku dengan bapak sepertinya mulai pudar dan sepertinya itu bagus sebelum terlalu jauh."


Tanpa mengetuk pintu, Akas langsung mendorong pintu hingga Lia terdorong dalam pelukan Bara secara mendadak dan reflek Bara melindungi kepala Lia dari pintu menggunakan tangannya


Tanpa sengaja Bara dan Lia kini dalam posisi berpelukan di belakang pintu yang terbuka. Lia dapat merasakan detak jantung Bara secara jelas di dada Bara, Lia mendengar detak jantung Bara seperti irama yang mengalun.


Bara tanpa terasa memeluk erat tubuh Lia yang kini ada dalam dekapannya, seolah sedang merindukan wanita yang ia cintai.


Pelukan mereka buyar setelah Akas menegurnya mendadak saat mendapati mereka di belakang pintu.

__ADS_1


"Apa yang kalian lakukan di belakang pintu? memang tidak ada tempat lain apa untuk bermesraan."


"Apa yang kamu lakukan masuk keruanganku tanpa mengetuk pintu dulu?" tanya balik Bara tanpa menjawab pertanyaan yang di lontarkan Akas.


Lia kembali ke meja kerjanya dan merasa lega, akhirnya ketegangan mereka bisa segera buyar.


"Aku hanya menyampaikan kabar kalau pak Toni mau datang kemari satu jam lagi dan mau bertemu bapak, asistennya baru saja mengabari aku." jelas Akas


"Kenapa tidak membuat janji dulu, emangnya ini perusahaannya bisa seenaknya datang tanpa janji." Saut Bara yang sedikit kesal sambil kembali duduk di kursi kerjanya.


"Bapak tahu sendiri kan pak Toni seperti apa? apa lagi dia juga tahu Lia kembali bekerja di sini, mungkin sekalian bertemu Lia." Akas menambah panas situasi.


Bara yang paham dengan kedatangan Toni ke kantornya tak lain untuk Lia, hatinya akan makin panas jika keduanya bertemu.


"Apa sih yang kamu bicarakan Akas, kalau mas Toni kesini itu semata-mata untuk kepentingan pekerjaan . Jika masalah pribadi kan bisa bertemu di luar jam kerja." sanggah Lia


"Kita lihat saja, apa keinginannya datang ke sini. Ya sudah aku kembali, lanjutkan apa yang belum kalian selesaikan, dan maaf sudah mengganggu." Akas pun keluar kembali dan meninggalkan mereka.


Bara dan Lia kembali tegang dan saling bertatapan dengan penuh tanda tanya mengenai tujuan kedatangan Toni.


"Ini kesempatan buatku untuk mengetahui seberapa dia peduli padaku. Jangan meremehkan aku jika sudah beraksi. Kita lihat saja siapa yang akan kalah dalam keegoisan." gumam Lia sambil tersenyum setelah mendapatkan ide cemerlang untuk membuat Bara sedikit menurunkan egonya kalau sebenarnya Bara gak sepenuhnya berubah padanya.


"Aku tahu jalan pikiranmu Lia, kamu pasti akan mencoba membuatku cemburu. Itu tak akan mempan karena itu hanya kepura-puraan mu saja, jangan anggap IQ ku rendah yang tak bisa menebak dengan mudah jalan pikiranmu" Gumam Bara sambil senyum khasnya tersungging di bibirnya.


Tak beberapa lama kemudian Toni datang bersama asistennya menghampiri ruangan kerja Toni.


Dengan sopan Bara menyambut kliennya sekaligus saingannya, begitu juga Lia yang menyambut Toni, namun Toni segera mengecup kening kesayangannya itu dan langsung memeluknya tanpa peduli ada Bara yang masih berdiri di sebelahnya.

__ADS_1


MAKASIH YANG SUDAH MAMPIR BACA, MAAF TELAT UPDATE. HPNYA GAK MAU DI AJAK Kompromi TAPI TENANG AJA SUDAH TAK SIAPIN SETOK UNTUK BEBERAPA EPISODE Kedepannya. DI GUNGGU AJA KELANJUTANNYA.


JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK LIKE, VOTE, HADIAH , KOMENTAR DAN TENTUNYA DI FAVORITKANYA. DI TUNGGU SELALU.


__ADS_2