Sekertarisku Ibu Susu Putraku

Sekertarisku Ibu Susu Putraku
pemaksaan


__ADS_3

Selama di perjalanan pulang, Lia menggerutu mengenai sikap Bara, yang seolah-olah mempermainkan perasaannya.


"Mas, bisakah kapan-kapan kerumah sakit?"


"Siapa yang sakit?"


"Mas Bara. Biar Lia tahu, mas Bara itu waras atau tidak."


"Kau pikir aku gila apa?"


"Tidak, bukan itu maksudku, aku hanya heran aja sama mas, kok seenak jidat mas meminta ku melakukan apapun ke mauan mas. Mas pikir aku ini bonekanya mas."


Bara menepikan mobilnya ke pinggir jalan. Dia menatap lekat Lia, membuat Lia memalingkan wajahnya tak ingin di tatap.


"Sudah ku katakan, aku ingin menikahimu dan menjadikanmu ibu sambung Alfin, dan juga aku bisa melindungimu dengan sepenuhnya. Tidak ada larangan kan kalau kita menikah, kamu janda dan aku duda tak ada penghalang antara kita."


"Tapi bukan begitu caranya, aku gak mencintai mas, dan aku sudah berjanji pada diriku lagi untuk tidak menikah."


"Omong kosong, aku tak percaya kau tak mencintaiku, dan kamu tidak bisa memungkiri takdir jika kamu sudah di takdir untuk menjadi mendampingiku dan ibu sambung Alfin."


"Bukan hanya itu saja alasannya, masih banyak alasan lain yang gak mungkin aku bisa katakan pada mas."


"Aku gak peduli, iya atau tidak kamu akan tetap menikah denganku. Aku akan segera menyiapkan semuanya untuk pernikahan kita. jika kamu tatap tidak mau, akan tetap aku paksa. Yang jelas aku harus bisa menikahimu." Bara pun melanjutkan perjalanannya pulang.


"Egois." Lia melipat kedua tangannya ke dada sambil memalingkan wajahnya dari Bara.


Sesampainya di rumah, Akas sudah membom bardir pertanyaan pada Bara.


"Kalian darimana saja, aku hubungi tidak ada yang bisa?"


"Tanya saja pada mas Bara, dia membawaku ke mana? aku mau istirahat." Lia pun melangkahkan kakinya untuk segera kembali ke kamar. saat sampai di pertengahan anak tangga, suara munggil untuk pertama kalinya mengucapkan kata.


"Ma. . ." Alfin memanggil Lia untuk pertama kalinya .Jantung Lia seakan terhenti mendengar kata ma di telinganya. Lia segera membalikkan tubuhnya kearah suara mungil itu. Alfin yang ada di gendongan Ayu mengulurkan tangannya seperti ingin minta di gendong Lia.

__ADS_1


"Alfin, manggil mama? coba sayang ulang sekali lagi mama ingin dengar, apa Alfin benar-benar memanggil mama?" Alfin yang sudah ingin di gendong Lia tak mau bicara lagi hanya mengulurkan tangannya agar Lia segera mengambilnya.


Lia pun segera mengambil Alfin, begitu bahagia Alfin berada di gendongan Lia.


Sedangkan Bara masih sibuk, menjawab pertanyaan dari Akas.


"Apa kamu sudah gila, membawa Lia menemui kakekku, kamu tahu sendiri Lia belum tentu mau menikah denganmu. Apa lagi Bunga tadi membuat kehebohan di kantor."


"Apa, yang dia lakukan?"


"Dia membuat pengumuman, kalau kamu akan menikahi bunga dua Minggu lagi."


"Apa. .!!! " Bara yang kaget langsung berdiri dari sofa yang sempat ia duduki.


"Kenapa kamu tidak bisa mencegahnya, sampai kapanpun aku tidak akan menikahi Bunga."


"Bagaimana aku bisa mencegahnya, aku sendiri saat itu tidak tahu, dan mendengar kabar itu dari para karyawan yang heboh membicarakan dirimu."


"Aku ingin kamu urus kehebohan di kantor, tutup mulut semua karyawan, yang masih membicarakan tentang diriku. Urus semua berkas yang di perlukan aku akan secepatnya menikahi Lia. Aku sendiri akan menemui Bunga. dan satu hal lagi, jangan sampai kehebohan ini terdengar di telinga Lia, aku gak mau rencanaku sampai gagal."


Lia yang masih bermain dengan Alfin terlihat begitu bahagia. Nampak jelas terlihat di wajah Lia. Ditambah lagi untuk kali pertamanya Alfin memanggil dirinya. Sungguh kebahagiaan tiada terkira.


Bara yang melihat menghampiri Lia.


"Bersiaplah, kita akan pergi sebentar."


"Pergi lagi?, tidakkah ada waktu buatku untuk menghabiskan waktu bersama Alfin, aku masih merindukannya."


"Kamu bisa membawa Alfin, sekalian mengajaknya jalan-jalan. Sekarang minta Ayu mengganti pakaian Alfin dan kamu juga bersiap. aku tunggu 30 menit, sebelum berangkat."


"Pemaksaan, kalau gak karena Alfin ikut aku gak akan mau ikut. Kalau mau kemana-mana jangan selalu mendadak."


"Sudah sana bersiap, jangan bawel."

__ADS_1


30 menit telah berlalu, Lia dan Alfin sudah siap begitu juga dengan Bara. Ternyata mereka pergi ke toko perhiasan langganan ibunya dulu.


Tanpa bertanya pada Lia dulu, Bara meminta penjaga toko untuk mengukur jari Lia untuk memesan cincin pernikahan.


Lia tak dapat menolak, karena Bara terus memaksa Lia di tambah lagi Alfin yang begitu bahagia melihat Lia dan Bara.


"Lihatlah nak, papamu ini, suka maksa, belum ada status apa-apa sudah begitu apa lagi kalau mama ini jadi istrinya, bisa jadi mama stres di buatnya." Lia mengadu pada Alfin yang di tanggapi ya dengan tawa manisnya.


"Percuma kamu mengadu pada Alfin, dia belum tahu apa-apa, atau bisa jadi dia setuju dengan apa yang di lakukan papanya."


Setelah memesan cincin, Lia dan Bara pun segera pergi dari toko perhiasan. Tanpa sengaja Lia melihat pria yang ia kenal dengan seorang wanita menuju toko tersebut. Hanya Lia yang melihat, pria itu tak melihat keberadaan Lia yang juga ada di sekitar toko perhiasan.


"Lia. . ." panggil Bara yang sudah menunggu dirinya di dalam mobil.


Setelah melihat pria itu masuk, Lia pun segera menghampiri Bara yang sudah menunggu.


"Selama di perjalanan, Lia masih teringat dan benar-benar yakin pria yang ia lihat adalah pria yang benar-benar ia kenal.


"Ternyata, penilaianku selama ini salah, aku kira dia sudah berubah ternyata tidak. Sekarang aku paham alasan dia yang sebelumnya tak aku pahami. Sempat hati ini ingin memilihnya, tapi kini dengan mata dan kepalaku sendiri semua kata maaf nya itu ternyata palsu."


Bara terus memperhatikan sikap Lia yang tiba-tiba melamun seperti ada yang di pikirkan, namun Bara memilih untuk membiarkan Lia.


Setelah ke toko perhiasan, Bara membawa Lia ke salah satu butik yang menyediakan berbagai gaun pernikahan terbaik.


Lia kaget saat Bara membawanya ke tempat itu.


"Kita ngapain kesini mas? siapa yang mau pesan gaun pernikahan?"


"Buat kita. Sudah ku katakan, aku akan menikahimu, mau atau dengan paksaan aku akan tetap menikahimu."


"Tapi, ini namanya pemaksaan. sudah ku katakan aku gak mau menikah dengan mas Bara. aku gak mau menikah dengan laki-laki manapun Sebelum aku benar-benar siap melepaskan almarhum suamiku untuk di gantikan dengan pria lain yang akan menggantikan kewajibannya. Pokoknya Lia gak mau, kalau mas Bara masih ngeyel mau menikah, nikah aja sama patung pengantin itu. Pokoknya Lia gak mau."


"Anggap aja, aku ini pria yang di krim suamimu untuk mengantikan kewajibannya untuk menjagamu. Jangan membantah, aku memaksa. Dan kamu pun tak bisa menolak. jika kamu lakukan itu kamu tak akan pernah bertemu dengan Alfin dan juga anak kandungmu selamanya." Ucap Bara dengan santai.

__ADS_1


"Jadi mas mengancam ku?"


"Anggap saja begitu, silahkan pikirkan sendiri aku tunggu jawabanmu 10 menit. Jika kamu menolak, silahkan keluar dari mobil ini dan pergi dan jangan membawa Alfin."


__ADS_2