
Dengan ragu-ragu Lia menyetujui permintaan Bara untuk menemui orang Lia, walaupun Lia sendiri ragu apakah dirinya masih di anggap oleh keluarga besarnya yang telah ia tinggalkan begitu lama hingga dirinya dewasa.
Saat sedang mengobrol dan menikmati alkohol, Bara meminta Akas untuk mengantarnya menemui pak Sata Halilintar yang terkenal itu.
"Apa ... kamu ingin menemui pak Halilintar, memangnya apa tujuanmu kesana? bidang pekerjaan kita berbeda dengan beliau lagian beliau bukan orang sembarang yang mau menemui orang seperti kita yang di anggapnya masih kelas bawang walaupun perusahan kita ini juga cukup besar." Akas terus saja bicara pada Bara tanpa memberi kesempatan Bara untuk menjelaskan maksudnya ingin bertemu dengan pak Halilintar.
"Bisa beri aku kesempatan untuk bicara gak sih, jangan nyerocos sendiri kaya burung beo. Aku mau mengantarkan Lia ke tempat orang tuanya Paham, jadi tak ada hubungannya dengan perbedaan bidang bisnis."
"Maksudmu Lia, itu salah satu keluarga Halilintar?" Akas syok mendengar ucapan Bara.
"Iya, Lia itu putri kandung dari pak Sata Halilintar, calon ayah mertuaku. Aku sendiri kaget dengan pengakuan Lia. Tapi setelah mendengar penjelasannya aku jadi paham kenapa ia merahasiakan identitasnya. Aku minta padamu usahakan agar aku dan Lia bisa bertemu besok. Aku yakin kamu bisa." Bara pun kembali meneguk alkohol yang ada di tangannya.
"Serahkan semuanya padaku, aku pastikan besok kita bisa menemuinya."
______
Akas pun menepati janjinya, dan berhasil membuat janji dengan pak Sata Halilintar.
Bukannya bahagia Lia sedikit ragu untuk bertemu dengan keluarganya yang sudah lama tak pernah ia temui, dalam hati Lia di penuhi tanda tanya akankah dirinya bisa di terima atau sama saja seperti yang dulu.
"Mas, apakah kita batalkan saja dulu untuk menemui papa, aku masih ragu."
"Tidak ada kesempatan lagi, selain hari ini. Sebab untuk menemui papa mu itu hal yang sulit." ucap Bara
"Iya Lia, tolong jangan sia-siakan usahaku yang sudah berkerja keras, agar kamu bisa bertemu dengan keluargamu." saut Akas
"Tapi itu kan bukan ke inginan ku!"
__ADS_1
"Lia, sayang dengarkan mas. Apapun yang terjadi, mas akan selalu ada bersamamu, kita akan hadapi bersama."
Mereka pun akhirnya pergi ke kediaman keluarga Halilintar. Dengan menempuh perjalanan yang lumayan jauh, tepatnya di luar kota dari tempat tinggal Bara. Akhirnya mereka pun sampai ke alamat tujuan. Sesampainya di halaman rumah mereka di suguhi dengan halaman yang sangat luas, mobil beberapa mewah terparkir di garansi halaman. Rumah yang megah bak istana berdiri kokoh dengan beberapa tingkat.
Lia masih ingat betul saat dirinya masih kecil sering bermain di halaman, bayangan sosok kecil dirinya hadir di setiap tatapan matanya.
"Akhirnya aku kembali ke rumah di mana diriku yang tak di anggap ada. Ma, Pa, Arjun aku datang untuk mengambil hak ku. Akan ku buktikan, Bukan kesalahan aku terlahir menjadi perempuan, Karena aku bisa melakukan lebih dari yang kalian harapkan." gumam Lia sambil meremas tangannya sendiri.
"Lia ..." panggil Bara membuyarkan lamunan Lia.
"Iya mas, maaf Lia masih gugup, untuk bertemu mereka." ucap Lia. Akas menggedor kaca mobil dan Bara pun membukanya.
"Ayo cepat turun, kita sudah di tunggu di dalam." Kata Akas.
Mereka pun melangkah menuju depan pintu rumah Halilintar dan sudah di tunggu pelayan untuk mengarahkan mereka ke ruang tamu.
"Silahkan duduk, Tuan Sata sebentar lagi akan turun." ucap pelayan.
"Selamat datang Bara Brawijaya, ada perlu apa jauh-jauh datang kesini. Tidak mungkin masalah bisnis, karena bidang kita sangat berbeda." tanya pak Halilintar yang sudah duduk di sofa sambil menghisap cerutu.
Dengan gagah berwibawa, Bara menjawab pertanyaan pak Sata.
"Benar, saya datang kemari memang tidak untuk membahas bisnis tapi maksud kedatangan saya ke sini membawa seseorang yang mungkin Anda kenal untuk bertemu dengan anda." Lia yang masih tertunduk menyembunyikan wajahnya dari hadapan papanya.
"Seseorang... ?" tanya balik pak Sata.
"Iya. " Bara meminta Lia untuk menunjukkan dirinya pada papanya dengan mengusap pundaknya agar berani bertatapan dengan papanya. Dengan ragu-ragu Lia mulai mengangkat wajahnya dan memandang ke arah pak Sata. Namun kemudian terdengar gelas pecah, membuat serpihan gelas berhamburan. Mereka yang sedang duduk di ruang tamu menoleh ke arah suara pecahan kaca itu.
__ADS_1
Seorang pembantu yang ingin mengantarkan minuman, terkejut dengan apa yang baru ia lihat tangannya gemetar hingga tak mampu menahan nampan yang berisi gelas.
Nyonya rumah yang awalnya berada di halaman belakang sedang merawat tanaman hiasnya pun muncul menghampiri Pembantu itu.
"Apa yang kamu lakukan Bu Ningsih gak seperti biasanya bibi ceroboh seperti itu?" tanya Sekar wanita yang berusia kurang lebih 48 tahun.
"Maafkan saya nyonya, saya benar-benar tidak sengaja ini kelalaian saya. Tapi nyonya sa-Saya melihatnya nyonya." tanya bi Ningsih dengan suara agak gugup sedangkan yang lain hanya memperhatikan.
"Maksudmu siapa? siapa yang kamu lihat bi. katakan?" Sekar mengguncang pundak bi Ningsih yang masih gagap.
"Anu nya, wanita ... wanita itu sangat mirip dan bibi yakin itu nona muda nya."
Mendengar kata nona muda, Sekar langsung tertuju yang di maksud bi Ningsih adalah Alia putri sulungnya. Sekar langsung mencecar pertanyaan pada bi Ningsih.
"Dimana bi? dimana bibi dimana bibi melihat putriku katakan bi." Suasana tegang langsung pecah dengan tangisan Sekar yang pecah saat itu juga. Wanita yang sudah bertahun-tahun kehilangan putrinya.
Bi Ningsih menunjuk ke arah Alia yang sedang duduk di samping Bara sambil menundukkan wajahnya.
Sekar menatap arah tangan Bu Ningsih yang menunjuk ke arah seorang wanita begitu juga pak Sata.
Dengan langkah lunglai Sekar menghampiri Alia hingga sampai di depannya.
"Tengadahkan wajahmu!" perintah Sekar dan Alia pun dengan pelan-pelan mulai menunjukkan wajahnya lagi.
"Ma ..." panggil Alia saat menatap Sekar. Sekar langsung terduduk di lantai kakinya tak mampu lagi menopang tubuhnya. Sekar menyentuh pipi wanita yang ada di depannya itu.
"Apa kamu benar-benar Alia, putri mama yang pergi meninggalkan mama tanpa pamit. Dimana saja kamu nak." Sekarang langsung memeluk Lia dengan erat dan menumpahkan tangisnya. Begitu juga dengan Alia yang membalas pelukan mamanya yang ia rindukan selama ini.
__ADS_1
"Dimana saja kamu selama ini nak, Mama bertahun-tahun mencariku dan menunggu setiap waktu berharap kau kembali pulang nak." Ucap Sekar di sela tangisnya.
Sedangkan pak Sata hanya terdiam melihat salah satu keluarganya kembali. Yang selama ini telah menghilang bagai di telan bumi.