Sekertarisku Ibu Susu Putraku

Sekertarisku Ibu Susu Putraku
Pesan terakhir


__ADS_3

Suara ayam berkokok bersautan menyambut terbitnya fajar di ufuk timur, membuat orang yang mendengar pun terbangun begitu juga Lia yang terusik tidurnya saat tubuhnya di goyang-goyang agar terbangun


Bukannya bangun Lia malah, membalikan badannya dan kembali meraih mimpi yang belum selesai.


"Lia bangun, sudah pagi. Apa kamu gak malu dengan ayam yang sudah berkokok di luar dan sudah sibuk mencari makan." ucap Bara yang sudah bangun namun masih di ranjang.


"Aku masih ngantuk, 5 menit lagi aku bangun." saut Lia dengan mata terpejam.


"Mau bangun sekarang atau mau aku buat kamu gak bisa bangun." Bisik Bara di telinga Lia.


Lia baru sadar bahwa dirinya tidur seranjang dengan seorang laki-laki . Saat itu juga di langsung duduk dan menoleh pada Bara yang sedang duduk sambil menyandarkan tubuhnya dan telanjang dada.


"Mas Bara dari kapan tidur di sini, dan kenapa gak pakai baju, gak mungkin mas habis anu sama Lia kan." Lia meraba tubuhnya dan meresa lega masih lengkap pakaiannya.


"Anu apa?" Bara mendekati Lia


"Jangan mendekat, Lia pikir mas sudah berbuat tidak-tidak pada Lia."


"Apa kamu lupa, yang terjadi tadi malam? Begitu cepatnya kau melupakan itu apa kau tidak menikmatinya sama sekali, sangat di sayangkan momen yang jarang terjadi ini begitu saja kamu lupakan." Bara terus saja mendekati Lia hingga mereka saling berhadapan. Jantung Lia berdetak kencang seolah-olah habis berlari sejauh puluhan kilometer.


"Aaapaaa maksudmu mas? jangan katakan sesuatu sudah terjadi." Bara meniup wajah Lia yang tegang.


Bara tertawa terbahak-bahak, melihat ekspresi wajah Lia yang sangat pucat dan kembali pada posisi awal duduk bersandar.


"Kamu lucu Lia, baru kali ini aku melihatmu sangat tegang sampai pucat, apa yang ada di pikiranmu, kau pikir aku sudah menikmati tubuhmu." Bara kembali tertawa lepas.


Lia hanya menatap Bara yang tak hentinya tertawa, di satu sisi dia sangat jengkel dengan Bara yang sudah mengerjainya di sisi lain dia begitu bahagia melihat pria yang jarang tertawa di depannya kini ia tertawa lepas seperti tak ada beban.

__ADS_1


"Puas. . . sudah ngerjain Lia, gak lucu tau." Lia pura-pura ngambek dan melempar bantal ke arah Bara.


"Hai jangan marah. Aku hanya bercanda, aku kepanasan saat mati lampu makanya aku lepas baju. Aku gak ada niatan sedikitpun untuk menyentuhmu kecuali kamu yang rela memberikannya."


Saat sedang sibuk berdebat, suara ketokan di luar pintu menghentikan perdebatan mereka.


Bara segera membuka pintu dan Lia pergi ke kamar mandi.


"Maaf tuan mengganggu, kakek menunggu tuan di bawah." ucap pembantu kakek Bromo.


"Baiklah, sebentar lagi saya kesana." Bara kembali menutup pintu dan berjalan menuju pintu kamar mandi.


"Lia cepat mandinya, kakek sudah menunggu di bawah, jangan lama-lama kakek gak suka menunggu terlalu lama." ucap bara di balik pintu kamar mandi.


"Iya sebentar lagi selesai." saut Lia dari dalam kamar mandi.


"Ada apa kek, memanggil kami kemari?" tanya Bara.


"Cucuku Lia kemarilah, kakek ingin memberikan sesuatu padamu." Lia pun segera menghampiri kakek Bromo.


"Ada apa kek?" tanya Lia dan kakek Bromo mengambil sesuatu dari dalam saku bajunya dan menunjukkan pada Lia.


"Kek bukannya itu punya ibu?" tanya Bara yang mengenal barang itu.


"Ini milik nenekmu yang di berikan pada ibumu saat akan menikah. Namun saat ibumu sekarat ibumu memberikan ini kembali ke pada kakek agar di berikan pada calon istrimu. Maka hari ini kakek akan menyerahkan ini kepada Lia calon istrimu. Dia berhak mendapatkan harta yang sudah turun temurun ini. Kakek harap Lia bisa merawat dan menjaganya baik-baik." Kakek Bromo memberikan sebuah gelang emas dengan permata ungu.


"Tidak kek, Lia tidak bisa menerimanya" tolak Lia yang merasa tak pantas mendapatkan peninggalan keluarga Bara.

__ADS_1


Bara mendekati Lia dan meraih lengannya hingga membuat Lia berdiri dan membawa Lia agak menjauh untuk berbicara sebentar.


"Lia aku mohon tolong terima pemberian kakek jangan kamu tolak, jangan buat kakekku sedih dia hanya menyerahkan amanat dari ibu."


"Tapi aku gak bisa terima, aku bukan calon istrimu."


"Setidaknya berpura-puralah di hadapan kakek, jika kamu tidak mau kau bisa kembalikan padaku setelah kita pulang nanti."


Dengan kesal Lia pun menyetujui permintaan Bara dan kembali menghampiri Kakek Bromo yang masih menggenggam gelang itu.


"Maafkan aku kek, bukan maksudku membuat kakek sedih, baiklah Lia akan terima pemberian kakek ini, akan aku jaga dan ku simpan baik-baik gelang ini. Bisakah kakek memakaikannya buat Lia."


Dengan tersenyum kakek Bromo pun mengangguk dan memasangkan gelang itu di tangan kiri Lia.


"Gelang yang begitu indah, dan bersejarah semoga ini bisa memberikan aura ke baikan buat Lia."


"Kakek Titip cucu kakek yang nakal itu padamu, tolong jaga dia, dan jangan pernah meninggalkannya di saat senang maupun susah. Maafkanlah saat dia sering melakukan kesalahan dan ingatkan dia agar tak mementingkan diri sendiri."


"Iya kek, Lia janji akan selalu ada buat mas Bara, dan tak akan ku biarkan mas Bara menjadi laki-laki keras kepala dan arogan."


"Cucuku Bara, kakek mungkin tak akan bertahan lama, Sebelum kamu kembali tolong ingat pesan kakek mungkin ini yang terakhir kalinya kakek berpesan dan menasehatimu.


"Jaga calon istrimu dengan baik, jangan membuatnya menangis, ingat jangan pernah mengikuti jejak ayahmu yang begitu kasar pada ibumu, kakek yakin hatimu seperti ibumu yang penuh kasih dan sayang, hapus memori mu Tetang ayahmu yang kasar pada ibumu. Jadilah anak yang baik."


Bara menghampiri kakeknya dan memeluknya, "iya kek, Bara akan ingat semua pesan kakek, Bara juga gak mau membuat mama kecewa. Bara juga sudah memaafkan papa. Bara gak ingin apa yang pernah Bara alami dengan ibu kembali terulang pada anak dan istri Bara. Maafkan Bara yang terkadang masih labil dan suka berubah-ubah membuat orang lain merasa asing dengan Bara." Tak terasa bara menitikan air mata seorang penyesalan, rasa sedih bercampur aduk menjadi satu.


Sebuah momen yang tak akan pernah terlupakan untuk semuanya. Lia begitu bahagia melihat Bara yang sikapnya begitu lembut pada kakeknya, momen yang sangat jarang terjadi dan jarang di perlihatkan oleh Bara.

__ADS_1


Sore harinya Lia dan Bara pun pamit untuk pulang, Lia begitu sedih harus meninggalkan kakek Bromo yang terasa sudah begitu dekat walaupun hanya sehari mereka bertemu, tapi sudah terasa berbulan-bulan bersama kakek Bromo.


__ADS_2