
Setelah kejadian itu, Lia menyendiri sepanjang hari, memikirkan semua yang sudah terjadi yang membuatnya bingung harus mengambil keputusan yang mana. Di satu sisi dia tak ingin kehilangan Alfin yang sudah Lia anggap seperti anak sendiri di sisi lain dirinya belum siap untuk menikah lagi di tambah lagi, saat melihat pria yang pernah ada di hatinya ternyata tak berubah.
Seharian Lia tak makan, dan tak keluar rumah. hal itu di laporkan Ayu pada Bara karena kuatir dengan keadaan Lia.
Sepulang kerja, Bara masih mendapati Lia belum keluar kamar yang terus saja tertutup dan tak ada tanda-tanda, manusia muncul di pintu kamar itu.
Bara mengambil kunci cadangan untuk membuka pintu kamar Lia. Dan tak butuh waktu lama, Bara pun mendapati Lia yang sedang duduk di lantai dan menangis.
"Lia apa yang terjadi padamu, Ayu bilang kamu belum ada keluar seharian ini dan juga belum makan?" tanya Bara sambil melangkahkan kakinya menuju keberadaan Lia.
"Aku, aku bingung. Aku gak tahu apa yang harus aku lakukan. Kau membuat hatiku kacau balau. Kenapa mas memberikan ku sebuah pilihan yang tak bisa aku pilih." Bara memeluk Lia dan berusaha menenangkan Lia.
"Dengarkan aku Lia, aku melakukan ini bukan karena aku egois, ada hal lain yang membuatku harus mengambil keputusan ini. Percayalah padaku aku akan menjagamu dan membuatmu bahagia dan aku juga berjanji akan mempersatukan kamu dengan anak kandungmu. Tapi kamu harus menikah denganku dulu jika tidak aku tak akan bisa membantumu untuk bersatu dengan anakmu."
"Apa harus dengan menikah dengan mas? apa tidak ada cara lain selain pernikahan. Aku belum siap untuk menikah aku masih trauma dengan pernikahan."
"Dengarkan aku, apa lagi yang kau takutkan untuk menikah lagi, tak akan ada yang menyakitimu lagi, aku pastikan hidupmu akan bahagia."
Lia melepaskan dirinya dari pelukan Bara dan memandang lekat wajah Bara, pria yang ingin menikahinya.
"Apakah aku bisa memegang kata-kata mas Bara, dan apa mas Bara bisa menepati janji yang mas katakan." Air mata masih membasahi pipi Lia.
__ADS_1
"Aku janji."
"Ada satu hal lagi yang ingin aku tanyakan sebelum aku memutuskan. Apa mas Bara rela jika selamanya tak akan memiliki keturunan dari pernikahan kita? Lia di vonis dokter tak akan memiliki anak lagi, walaupun rahim Lia masih ada tapi kemungkinannya sangat kecil untuk bisa memiliki anak lagi. Apa mas bersedia menerima kekurangan Lia yang satu ini? jika tidak, maaf Lia tak akan bisa menikah dengan mas jika ini akan membuat hhancurnya pernikahan lagi."
Bara terdiam mendengar penjelasan Lia, " begitu malangnya nasibmu Lia, aku tak tahu jika kejadian itu membuatmu menderita, selamanya." gumam Bara.
"Aku akan menerima semua kekurangan yang ada dalam dirimu, akan aku terima dengan lapang dada, setidaknya kita bisa membesarkan anak-anak yang sudah ada untuk." jawab Bara membuat hati Lia puas dan kembali memeluk Bara dengan erat dan air mata membasahi kemeja yang bara kenakan.
"Baiklah, aku mau menikah denganmu, tapi aku minta mas segera menepati janji mas setelah kita menikah." jawaban Karin membuat hati Bara puas dan lega. setelah sekian lama membujuk Lia akhirnya kini dia mau menerima dirinya tanpa paksaan.
Bara berkali-kali mengecup pucuk rambut Lia.
______
Kabar akan adanya pernikahan sudah terdengar di mana-mana hingga terdengar di telinga Bunga. Dengan api cemburu yang membara Bunga mencari kesempatan untuk bisa membuat pernikahan itu batal.
Ternyata Bunga sudah mengincar Lia beberapa hari sejak pengumuman pernikahan Bara akan di laksanakan.
Namun tak pernah ada kesempatan untuk bisa menemukan Lia pergi keluar rumah. Bara sengaja meminta Lia agar tak keluar sendirian sebab banyak wartawan yang ingin menggali informasi lebih dalam tentang Lia untuk di muat dalam majalah dan koran.
Semua persiapan sudah selesai namun ada satu hal lagi yang masih menjadi masalah, yaitu wali dari Lia. Lia yang tak pernah menceritakan latar belakangnya membuat dirinya harus bersedia memberitahu siapa yang akan menikahkannya.
__ADS_1
Bara beberapa kali menanyakan tentang ayah kandungnya atau wali yang bisa menjadi wali Lia. tapi setiap Bara tanya Lia selalu diam tak mau memberitahu. Hingga pertanyaan terakhir Bara, mampu membuat Lia membuka suara tentang latar belakangnya.
Saat sedang bersantai, Bara kembali bertanya hal yang sama pada Lia yang sedang duduk di sampingnya.
"Apakah, sayang masih tak mau cerita tentang keluarga sayang yang sebenarnya?" tanya Bara dan Lia menarik nafas dalam-dalam dan membulatkan tekat untuk bercerita.
"Aku lahir dari keluarga Halilintar, Ayahku bernama Sata Halilintar dan ibuku bernama Sekar Arum Halilintar, adikku bernama Arjun Halilintar sedangkan aku adalah Alia Sekar Halilintar. Dari kecil Ayah tak pernah menyukai kehadiran ku karena aku terlahir perempuan sedangkan yang di inginkan ayah adalah anak laki-laki sebagai keturunan pertama. Aku hidup bersama orang tuaku dan juga keluarga besar, namun mereka semua seperti tak menggapku. Sampai ibu melahirkan adik laki-laki yang membuat hidupku tambah menderita seperti orang asing dalam keluarga. perhatian dan kasih sayang semua di berikan pada adikku. aku tak tahu, salahkah diriku terlahir sebagai perempuan di keluarga itu. Suatu hari
Ayah mengirimku sekolah jauh dari rumah sejak aku duduk di bangku SD dan jauh dari keluarga selama bertahun-tahun hingga aku selesai kuliah. Ayah membiayai sekolah ku tapi tak pernah menjengukku. Hingga aku sadari saat aku kembali tanpa memberitahu mereka, seseorang yang tahu tentang diriku menceritakan tujuan Ayah mengirimku sekolah jauh hanya untuk menghilangkan identitasku sebagai keluarga Halilintar, seperti mematikan kehadiranku. Saat itu aku yang masih labil memutuskan untuk pergi dan tak kembali lagi tanpa memberitahu keluarga ku dan membuang identitas ku diri keluarga Halilintar dan aku hidup seperti anak yatim piatu hingga sekarang aku tak tahu kabar dari keluargaku sendiri."
"Jadi sayang adalah keturunan dari keluarga Halilintar yang merupakan pengusaha dan pemilik pabrik minuman yang sangat terkenal itu." Lia pun mengangguk karena itu memang benar dan membuat Bara kaget dengan fakta yang sangat mengejutkan bahwa wanita yang akan ia nikahi adalah seorang putri dari keluarga Halilintar orang terkaya dan masuk 10 besar kekayaan.
"Iya, aku tak pernah lagi mencari tahu informasi tentang keluargaku, karena memang mereka tak menginginkan aku lagi. Sungguh ironis, wanita seperti diriku yang di pandang rendah orang lain mempunyai cerita pilu yang mengenaskan."
"Tapi walau bagaimanapun dia adalah keluarga mu, kita akan bertemu dengannya dan meminta restu padanya."
"Tidak aku tidak mau, tidak bisakah kita menikah tanpa meminta restu orang tuaku. Aku tak ingin melihat wajahnya lagi. Kita bisa memakai wali hakim untuk pernikahan kita kan seperti saat aku menikah dengan mas Rian." Lia bersikeras tak ingin bertemu orang tua kandungnya. Namun Bara tak mau menyerah membujuk Lia.
"Lia sayang dengarkan mas Bara, jangan egois cukup mas saja yang tak bisa merasakan kasih sayang orang tua. Jangan sampai kamu menyesal seperti apa yang pernah mas sesali, Jangan keraskan hatimu. Mas akan menemanimu menemui orang tuamu dan mas akan datang langsung meminta restu untuk meminang mu. Kita akan cari jalan keluarnya yang terbaik jika ada hal tak terduga yang terjadi. percayalah pada ku kamu akan baik-baik saja."
"Aku takut mas, jika kedatanganku di tolak langsung oleh kedua orang tuaku."
__ADS_1