
Lia keluar dari kamar Bara dan mendapati Akas dan Ayu yang baru pulang. Mereka terlihat begitu bahagia.
Lia mengacuhkan mereka dan pergi ke kamar Alfin. Ia menghampiri Alfin yang tertidur pulas dengan posisi miring.
"Nak, kenapa papamu tiba-tiba berubah, apa bunda sudah membuat kesalahan besar sampai papamu bersikap dingin pada bunda. Bunda sangat asing dengan papamu sekarang." Lia menumpahkan isi hatinya pada Alfin yang masih belum paham.
Tanpa di sadari Lia. Bara mendengarkan curhatan yang ia sampaikan pada Alfin. Bara berdiri di depan pintu dan memperhatikan kedua insan yang berbeda generasi sedang bertemu.
Bara segera kembali ke kamarnya sebelum Lia menyadari kehadirannya.
"Mungkin ini yang terbaik, sebelum terlalu jauh." Gumam Bara dan berlalu pergi.
Keesokan harinya saat semua berkumpul untuk sarapan.
"Mas, Lia sudah putuskan untuk kembali bekerja di kantor mas. Setidaknya Lia kembali ada kesibukan."
"Kabar bagus. Setelah sarapan kamu bersiap dan mulai kerja hari ini."
"Hari ini! Lia pikir mulai besok."
"Jangan bantah. Sekarang aku ini bos mu dan ingat bila di kantor kamu tahu kan harus manggil aku apa."
"Iya mas, Lia paham."
"Dan kamu Akas. Mulai sekarang selama di kantor bersikaplah selayaknya atasan dan bawahan. Hargai aku sebagai atasanmu dan selalu jaga ucapanmu." jelas Bara pada Akas.
"Iya, aku paham."
Lia dan Akas sesekali saling menatap heran.
Selesai sarapan Lia langsung bersiap. Lia menghampiri Bara dan masuk dalam mobil, dan mereka pun pergi ke kantor BARA grup tempat dimana beberapa bulan lalu Lia bekerja di sana.
Alia pun mengikuti Bara dari belakang menuju lift yang di peruntukan untuk Bara dan beberapa karyawan yang memegang jabatan tinggi di kantor.
__ADS_1
Di dalam lift hanya ada Bara dan Lia yang menuju lantai 10. Selama menunggu lift sampai Bara hanya menatap Lia dan membuat Lia salah tingkah.
"Maaf pak, kenapa menatap saya begitu? apa ada yang salah dengan pakaian saya?" tanya Lia sambil memperhatikan kembali penampilannya.
"Tidak ada yang salah. Aku hanya melihatmu sedikit berbeda. Sudahlah jangan dibahas. Aku harap kinerjamu tidak berubah dan masih bagus seperti saat kamu pertama kali kerja di sini."
"Saya akan berusaha sebaik mungkin dan tidak mengecewakan bapak."
Tak terasa pintu lift sudah terbuka dan Bara lebih dulu keluar di susul Lia. Di sana sudah ada Akas yang menunggu mereka. Ruang Bara dan Akas saling berhadapan dan meja kerja Lia satu ruangan dengan Bara.
"Selamat datang kembali Lia, di kantor BARA grup semoga kamu tetap betah." Ucap Akas pad Lia.
"Makasih pak, semoga kita bisa saling kerja sama." Balas Lia
"Basi." Saut Bara dan masuk ke dalam ruangan meninggalkan Lia dan Akas, "Lia cepat masuk, pekerjaanmu sudah menumpuk." Teriak Bara dari dalam ruangan.
" Tu, bos balok es sudah meneriakkan perintahnya, buruan sana. Jangan buat dia lebih dingin dari yang sekarang oke. Aku akan cari tahu penyebabnya kenapa dia kembali ke asal usulnya" ucap akas dan Lia pun mengangguk sebelum meninggalkan Akas dan masuk dalam ruangan.
Bara masih berdiri di depan meja kerjanya menunggu Lia. Sambil memainkan ponsel.
Lia menatap tumpukan berkas yang tinggi di mejanya. membuat Lia sedikit mengelus dada.
"Baru saja aku masuk kerja, sudah di siapkan sarapan setumpuk." Gumam Lia sambil berjalan menghampiri meja kerjanya.
Belum saja Lia meletakan pantatnya di kursi panas, Bara kembali memerintah Lia.
"Lia tolong buatkan saya kopi, dan itu adalah tugas tambahan untukmu dan satu hal lagi, mulai besok sebelum pulang kerja kamu harus bersihkan ruangan ini, mengerti."
" Iya pak, "Jawab Lia
Lia menggerutu sendiri sambil berjalan keluar menuju dapur untuk membuat kopi.
"Kenapa sih mas Bara jadi kaya gitu, dan apa ini aku bekerja sebagai sekretaris atau OG atau aku kerja rangkap. Kalau tahu gini mending aku merawat Alfin aja di rumah dan gak ngadepin orang yang mendadak aneh itu dari pagi sampai sore. Aku pikir mas Bara itu orangnya baik, penyayang, menghargai wanita, ternyata aku salah dan aku baru tahu sekarang jati dirinya yang sesungguhnya." Lia terus saja menggerutu sampai selesai membuatkan kopi dan kembali keruang kerja.
__ADS_1
"Ini pak kopinya," Lia meletakan kopinya di atas meja, sedangkan Bara sibuk dengan laptopnya.
Lia kembali menatap tumpukan berkas dan mulai bekerja, Lia menyibukkan diri dengan pekerjaannya dan tanpa ia sadari Bara sesekali melirik Lia yang sedang sibuk.
Waktu begitu cepat berlalu dan jam kerja pun selesai, Lia bersiap diri untuk pulang, namun harus menunggu Bara selesai dengan pekerjaannya.
Sambil menunggu Bara selesai, Lia memilih membersihkan ruangan yang bisa di bersihkan tanpa mengganggu pekerjaan bosnya.
Bara selesai pukul 18.00. Lia yang sudah lelah menunggu malah tertidur di sofa. Bara tak membangunkan Lia dan langsung menggendong tubuh Lia untuk di bawa pulang. Mungkin Lia terlalu lelah hingga ia tak terbangun saat Bara mengangkat tubuhnya.
Sepanjang perjalanan Lia masih tertidur dengan tubuh di selimuti jas milik Bara. Bara kembali mengangkat tubuh Lia saat sudah sampai rumah dan membawa Lia kembali menuju kamar Lia dan meletakan tubuhnya di kasur.
" Kenapa dia perlakuanku dingin, apa salahku padanya sampai dia lakukan itu." Lia mengigau di sela tidurnya.
"Kamu gak salah Lia, aku hanya ingin kamu lebih memahami segala kekuranganku akan sikapku, dan aku juga tak ingin kamu tergantung atas sikap dan kepura-puraanku menjadi laki-laki baik." Ucap Bara sambil menyelimuti tubuh Lia.
Bara keluar dari kamar Lia dan sudah di tunggu oleh Akas.
"Aku ingin mengajakmu minum. Sudah lama kita tidak minum bersama." Ajak Akas dan Bara pun menyetujuinya.
Mereka berdua menuju ruang mini bar yang memang didesain untuk menikmati suasana yang tak menentu, di dalam terdapat minuman beralkohol dengan berbagai merk terkenal dan juga dengan harga fantastis untuk perbotolnya.
Akas menuangkan minuman itu ke dalam dua gelas mereka berdua. Dan seketika langsung mereka teguk hingga menghabiskan beberapa gelas mini, di awal nya mereka hanya saling diam dan menikmati minuman.
"Apa sebenarnya yang terjadi padamu, sampai sikapmu berubah begitu? kasian Lia, dia pasti kaget dengan perubahan mu yang mendadak itu." ucap akas
"Aku hanya ingin Lia tahu jati diriku sebenarnya, sebelum terlambat. Aku gak mau hidup dalam kebohongan yang membuat Lia tergantung pada kebaikanku yang hanya pura-pura."
"Aku paham, tapi jika kamu ingin Lia memahami dirimu yang seperti ini mungkin butuh waktu, dan kamu harus fikirkan kembali apakah Lia akan bisa jatuh cinta padamu, ingat kamu punya saingan yang sama-sama menginginkan Lia."
"Aku tahu itu, dan aku punya cara sendiri untuk mendapatkan hati Lia, jangan kuatirkan aku. Jika memang dia jodohku, dia akan tetap bersamaku."
"Jika tidak? apa kau siap melepaskannya?" saut akas, dan bara terdiam sejenak.
__ADS_1
"Aku yakin bisa meluluhkan hatinya dengan caraku sendiri." Bara pun bangkit berdiri dan keluar dari ruangan mini bar, meninggalkan Akas nya yang masih melanjutkan minumnya.