
"Pa,... lihatlah putri kita sudah kembali. Doa mama di kabulkan, putri kita pulang." Kebahagiaan terpancar dari raut wajah Sekar.
"Pak Sata, kedatangan saya ke sini, memang bermaksud untuk mempertemukan kalian pada Alia, bukan maksud saya menyembunyikan Alia. Sejujurnya saya juga baru tahu bahwa Lia adalah anak anda. Awalnya Alia menolak untuk bertemu dengan kalian, karena dia takut kalian belum bisa menerimanya kembali." jelas Bara.
"Terimakasih banyak nak Bara, sudah Sudi mengantarkan putri kami kembali, sudah bertahun-tahun kami mencarinya. Kami sebagai orang tua sadar telah memperlakukan Alia dengan salah hingga membuat dirinya pergi meninggalkan kami. Tuhan masih memberikan kami sebagi orang tua untuk menebus kesalahan yang telah kami lakukan. Mama janji nak, mulai sekarang tak akan pernah membedakan kalian lagi, mama yang salah mama yang tak becus menjadi seorang ibu, yang tak bisa membela dan melindungimu dari keluarga yang mengucilkanmu."
"Pa, ... " panggil Alia, "Apakah papa masih membenciku hingga tak ada satu patah katapun keluar dari mulut papa. Jika tak menginginkan Lia atau mengagap Lia udah mati. Katakan agar Lia bisa keluar dari tempat ini Bersama calon suami Lia." Tatapan Lia yang masih di penuhi amarah meminta jawaban.
"Calon suami?" tanya Sekar kaget
"Iya nyonya, kedatangan saya kemarin untuk meminta restu kalian, karena sebentar lagi kami akan menikah."
"Menikah." Sekar kaget mendengar ucapan Bara yang meminta restu.
"Pa ... lihatlah putri kita sudah dewasa, dan dia sudah membawa calon suaminya untuk di perkenalkan pada kita."
Pak Sata menarik nafas dalam-dalam dan melirik jam yang ada di tangannya.
"Bara Brawijaya, menginaplah malam ini di sini, kita bahas semuanya nanti malam, aku harus pergi, ada rapat yang harus aku hadiri. Dan mama minta supir untuk menjemput ibu dan bawa kemari. kita akan bicara nanti malam." Pak Seta pun pergi tanpa memandang ke arah Lia.
"Nak Bara, maafkan sikap suami Tante. Memang seperti itulah sikapnya."
"Saya faham tente. Dan saya sudah terbiasa dengan hal seperti itu. Tante sudah mau menerima Lia itu sudah lebih dari cukup untuk saat ini."
"Nak Bara istirahat saja, di kamar tamu biar di antar bibi. Dan kamu sayang ikut mama, ada yang ingin mama bicarakan." Lia dan Bara pun mengangguk.
Bara pun di antar kekamar tamu. Tak lupa Bara meminta Akas untuk mencari penginapan terdekat untuk dirinya bermalam.
__ADS_1
Lia berjalan mengikuti mama Sekar ke salah satu kamar.
"Nak ini kamarmu, mama sendiri yang mendesain kamar ini. Maaf jika banyak bonekanya mama gak sadar kalau anak mama sudah dewasa dan sudah mau menikah." Kamar dengan nuansa biru dan begitu banyak boneka Doraemon tersusun rapi di kamar.
"Ma ... Maafin Lia yang pergi meninggalkan mama tanpa pamit. Lia sangat kecewa ma saat itu, Lia merasa tak mendapatkan kasih sayang mama."
"Mama yang salah nak, mama yang egois. Seharusnya mama bisa menerima kehadiran mu dalam keluarga tak peduli kamu adalah seorang wanita. Tapi di dalam keluarga Halilintar seorang wanita dalam keluarga memiliki kedudukan lebih rendah dari pria dan memandang rendah statusnya." Mama Sekar pun kembali menangis menyesali dirinya yang tak mampu menjadi ibu yang adil.
"Sudahlah ma, ini mungkin sudah takdir Lia, tapi bukan berarti Lia lemah. Lia sudah banyak belajar dari kehidupan di luar sana. Lia akan buktikan bahwa penilaian mereka terhadap Lia salah besar."
"Iya nak, mama percaya dan mulai sekarang mama akan mendukung semua keputusanmu. Mama gak mau kehilangan kamu untuk yang kedua kalinya, mama ingin membayar waktu mama yang terbuang dengan menyia-nyiakan kamu sayang. Lebih baik istirahat dulu, dan persiapan diri mendengar keputusan papamu. Biar mama meminta seseorang mengantarkan pakaian untukmu dari butik."
Lia pun merebahkan tubuhnya di ranjang, untuk pertama kalinya setelah 18 tahun tak pernah menginjakkan kaki di kamar ini saat dirinya di kirim ke luar negeri dan di asrama kan sejak dirinya duduk di bangku SD.
Sedangkan mama Sekar hanya beberapa kali menjenguknya hingga Lia menyelesaikan pendidikannya. Sedangkan papanya hanya sekali menjenguknya. Tak heran jika ia telah melupakan wajah putrinya namun berbeda dengan mama Sekar yang langsung mengenali dirinya.
_____
Tak terasa malam pun tiba, keluarga sudah berkumpul di ruang makan tinggal Lia dan Bara saja yang belum ada.
Setelah mereka di panggil, mereka pun datang dan duduk bersebelahan di meja makan.
"Makan malam dulu nak Bara, Tante harap kamu menyukai masakan yang di sajikan." Lia pun melayani makan malam Bara, hal yang tak pernah Lia lakukan sebelumnya.
Tak ada suara saat makan malam, hanya suara sendok yang beradu dengan piring mengiringi makan malam tersebut.
Saat selesai, pak Sata pun angkat bicara dan langsung bertanya pada Bara tanpa basa basi.
__ADS_1
"Nak Bara, apakah kamu benar-benar yakin mau menikahi Alia?"
"Iya pak, saya sudah benar-benar yakin mau menikahi Alia."
"Apa kamu tahu tradisi dalam keluarga Halilintar. Dalam keluarga anak pertama haruslah laki-laki yang akan menjadi penerus keluarga. Dan bapak memberikan satu syarat padamu dan itu adalah keputusan keluarga. Kamu bisa menikahi Alia tapi dalam waktu satu tahun kalian harus memiliki anak laki-laki, jika tidak kalian harus bercerai." Syarat itu sangat memberatkan Alia yang sadar bahwa dirinya tidak akan bisa memiliki anak.
Lia memukul meja, dan berdiri emosinya naik. Tak terima dengan Persyaratan yang pastinya akan menjadi sebuah perceraian.
"Apa-apaan ini pa, aku ini anak papa, bukan pabrik pencetak anak laki-laki. Jangan menindas ku dengan hal yang konyol, jika memang papa tak suka Lia kembali kerumah ini tinggal bilang saja, dengan senang hati Lia keluar." Ucap Lia dengan nada tinggi sambil mengepalkan tangannya.
"Lia, jaga ucapanmu, dia itu papamu, bukan musuh mu." bentak neneknya yang juga ada.
"Papa macam apa, yang tega memperlakukan Alia seperti ini. Apa salahnya anak perempuan, dan apa salahnya memiliki cucu perempuan. Semua itu sama saja."
"Itu sudah tradisi keluarga, jadi kamu jangan coba-coba untuk merubahnya. Jika kalian masih mengharapkan restu dariku maka terima persyaratan atau aku akan coret namamu dari daftar warisan." bentak pak Sata.
"Silahkan, coret nama Lia dari anggota keluarga, Lia tak bermasalah, tapi jangan harap kalian akan melihat cucu laki-laki kalian sampai habis umur kalian." Lia pun pergi meninggalkan meja makan dan berlari kekamar dengan air mata yang mulai jatuh.
"Apa maksud Lia? Jelaskan padaku nak Bara, kamu mengenal dekat putri ku kamu pasti tahu apa yang di maksud Lia." Desak Sekar pada Bara.
"Sebelumnya saya minta maaf pada keluarga besar Alia. Karena saya kelurga kalian bertengkar. Saya bersedia memenuhi persyaratan bapak ajukan. Yang jadi permasalahannya sekarang adalah, Alia tidak bisa memiliki anak jika tidak menjalani pengobatan untuk memulihkan kandungan, itu terjadi akibat kecelakaan yang menimpa dirinya. Itulah sebabnya Lia tak mau menerima persyaratan itu." jelas Bara
Sekar dan Sata pun terdiam mendengar penjelasan Bara.
"Apakah yang kamu katakan itu benar?" " tanya Pak Sata yang merasa tak percaya.
"Iya, apa yang saya katakan adalah benar adanya. jika pak Sata dan Tante tak percaya bisa tanyakan langsung pada Lia.
__ADS_1