
Pagi-pagi sekali Lia terbangun, rasa mual di perutnya sudah tak dapat di tahan. Lia pun bergegas ke kamar mandi mengeluarkan apa yang bisa di keluarkan dari dalam perut.
Bara ikut terbangun saat mendengar Lia sedang muntah-muntah. Ia segera bangun dan menghampiri Lia, mengusap punggung agar Lia lebih enakan, Bara pun tak merasa jijik saat melihat Lia.
Lia roboh di pelukan Bara, tubuhnya tak mampu lagi bertahan. Bara segera mengangkat tubuh Lia dan segera melarikannya ke rumah sakit karena Lia terlalu pucat.
Sesampainya di rumah sakit Lia langsung di tangani dokter dan Bara harus menunggu beberapa waktu sebelum dokter selesai memeriksa Lia.
"Gimana keadaan istri saya dok?" Bara langsung mencecar pertanyaan pada dokter yang memeriksa Lia.
"Bapak bisa ikut saya sebentar, akan saya jelaskan diruang kerja saya." Bara pun segera mengikuti dokter tersebut.
Dokter tersebut menjelaskan panjang lebar mengenai kondisi Lia yang sedang menderita kanker rahim stadium 3 dan kemungkinan berhasilnya di bawah 60%, dan membuat Bara syok karena Lia tak pernah cerita.
"Apakah yang sering di keluhkan para penderita kanker rahim ini dok" tanya Bara.
Kanker ini jika baru stadium awal, jarang di ketahui penderitanya, hanya saja biasanya nafsu makan berkurang, mudah lelah, dan sering mual." jelas dokter kembali dan membuat Bara paham dengan kondisi Lia saat ini.
Bara mengusap wajahnya, menghilangkan kesedihannya, agar tak terlihat Lia saat ia terbangun. Saat ini Bara hanya bisa menguatkan dan juga mendorong Lia agar mau melakukan operasi, demi kesembuhannya.
Bara pun menemui Lia yang berada di kamar rawat, Bara mengusap rambut Lia yang terurai lalu mengecup keningnya.
"Kamu memang keras kepala dan egois tak pernah memikirkan diri sendiri, kenapa kamu gak pernah mau cerita penyakitmu padaku. Aku akan menyalahkan diriku seumur hidup kalau sampai kamu kenapa-kenapa. Disini aku yang salah, aku yang menghancurkan hidupmu, tapi kenapa kamu tak mau membiarkan aku menebus semuanya dengan menjagamu dan kamu malah menyembunyikan ini semua dari aku suamimu." ingin rasanya Bara marah mengetahui Lia yang memilih diam daripada kesembuhannya dan membiarkannya.
Tiba-tiba Akas muncul dan menghampiri Bara yang masih berdiri di samping Lia yang belum sadar.
"Gimana keadaan Lia? apa dia baik-baik saja?" tanya Akas yang kuatir.
__ADS_1
"Sepertinya tidak baik, dokter menyarankan Lia untuk di operasi." jawab Bara tanpa menoleh.
"Memangnya Lia sakit apa? kenapa harus di operasi?" tanya Akas penasaran.
"Lia... Lia terkena kanker rahim, yang terjadi karena mengkonsumsi obat keras untuk penyembuhan komplikasi rahimnya sebelumnya" jelasnya.
"Tunggu sebentar, jadi maksudnya sebelumnya rahim Lia mengalami komplikasi pasca melahirkan Raihan karena kecelakaan waktu itu, dan dia mengkonsumsi obat-obatan untuk menghilangkan rasa sakit dan untuk kesembuhannya, namun Lia gak sadar, akibat obat yang ia konsumsi menyebabkan Lia mengalami kanker rahim. Lalu dokternya menyarankan agar melakukan operasi untuk mengangkat rahim Lia dan akhirnya selamanya tidak akan bisa memiliki anak." Akas mencoba menjabarkan penjelasan Bara. Bara hanya bisa mengangguk membenarkan penjabaran Akas.
"Kasihan sekali Lia harus mengalami hal seperti ini. Lia tak akan lagi menjadi wanita sempurna." jawab Akas namun di benak Bara.
"Apa yang kamu katakan, Lia tetaplah wanita sempurna, setidaknya ia sudah memiliki Raihan dan juga Alfin, yang akan selalu ada di sampingnya dan akan terus memanggilnya mama."
" Maafkan aku dengan kata-kata ku tadi. Kamu benar, seharusnya kita memberi dukungan padanya."
"Jangan cemaskan aku, aku baik-baik saja, aku bisa melewatinya." saut Lia dengan suara lemah, Lia mendengar ucapan Bara dan Akas, sebenarnya Lia sudah sadar dari tadi. Bara langsung menggenggam tangan Lia dan mengusap-usap dengan jemarinya.
"Apa yang kamu ucapkan, aku gak akan pernah menceraikan kamu, kita sudah punya Alfin dan Raihan, kita akan membesarkan mereka bersama-sama. Jadi jangan pernah berfikir aku akan menceraikan kamu."
"Dokter menyarankan untuk operasi angkat rahim total dan itu harus di lakukan secepatnya, untuk menyelamatkan kamu."
"Aku sudah siap mas, aku sudah lelah bertahan dan berharap masih bisa sembuh, tapi ternyata semuanya sia-sia."
"Baiklah aku akan segera urus prosedur untuk operasi. Tapi sekarang kamu harus makan dulu, izinkan aku menyuapimu, aku tahu kamu melarang aku untuk mendekatimu, tapi kali ini biarkan aku merawat dan menjagamu sampai kamu sembuh." Tak ada kata yang keluar dari mulut Lia selain air mata.
Dengan telaten, Bara menyuapi Lia, walaupun beberapa kali Lia memuntahkannya.
"Sudah mas, aku gak sanggup makan lagi." Lia mendorong sendok di tangan Bara.
__ADS_1
Bara menaruh membeli sendoknya ke dalam piring. "Sekarang kamu istirahat dulu, aku akan menemui dokter, menanyakan kapan akan dilaksanakan operasinya."
"Mas... Sebelum aku menjalani operasi ini, bisakah mas bawa Raihan dan Alfin kesini, aku ingin melihat mereka sebelum aku berjuang di ruang operasi."
"Baiklah akan mas bawa mereka kemari." Bara pun meninggalkan Lia dan pergi keluar, saat dirinya menutup pintu tanpa sengaja Bara hampir bertabrakan badan dengan Dimas.
"Bara... kamu di sini? siapa yang sedang sakit'? tanya Dimas yang sedang menggandeng istrinya yang sedang hamil besar."
"Istriku, Alia dia sedang sakit." jawab Bara singkat. lalu meninggalkan Dimas dan istrinya, merekapun segera pergi dari pintu kamar rawat Lia.
Dimas mengantarkan istrinya cek kandungan, namun ia malah meninggalkannya dan segera datang ke kamar rawat Lia untuk menjenguknya.
Dengan langkah pelan Dimas masuk untuk menemui Lia.
"Mas Bara cepat sekali kembali?" tanya Lia sambil memejamkan mata dan mengira itu Bara.
"Aku Dimas Lia!" ucap Dimas dan membuat Lia langsung membuka matanya.
"Mas Dimas, kenapa mas datang kesini?"
"Maafkan aku Lia, aku menghilang darimu karena aku mendapat masalah besar, aku malu jika menemui kamu lagi saat itu dan meninggalkan kompetisi yang kita buat. Aku senang Bara yang bisa memikat hatimu."
"Aku sudah melupakan itu, aku gak pernah berharap bisa bertemu dengan kamu lagi , setelah dua kali kau menipu menipuku dan berjanji dusta, Lebih baik aku pergi, aku gak butuh simpati dari mu lagi. Cukup sudah aku mengenal Mu, dan anggap saja ini pertemuan terakhir kita." usir Lia.
"Baiklah.aku akan pergi, sesuai permintaanmu, dan gak akan menemui kamu lagi, aku doakan kamu cepat sebuh dan semoga kamu baik-baik saja." Dimas pun pergi meninggalkan Lia dengan kecewa karena Lia tak bisa memaafkan dirinya.
To Be Continued ☺️
__ADS_1