Sekertarisku Ibu Susu Putraku

Sekertarisku Ibu Susu Putraku
jujur atau bohong


__ADS_3

"Pelayan kemari." teriak Bara dari dalam kamar nya. semua pelayan menatap ke arah Lisa.


"Hai Lisa, tu kamu di panggil, itu kan tugasmu mengurus tuan Bara." ucap salah satu pelayan membuat Lisa terkejut.


"Aku?..., baiklah." ucap Lisa lalu berlahan menaiki anak tangga menuju kamar Bara. Sesampainya di depan pintu Lisa pun mengetuk pintu, " Masuk...," ucap Bara dengan nada kasar.


Begitu terkejut Lisa melihat kamar Bara yang berhamburan, beberapa barang pecah di lantai.


"Apa yang terjadi pada mas Bara, selama aku tinggal bersamanya tak pernah aku melihat dirinya seperti ini." gumam Lisa dan masih mematung di depan pintu.


"Hei pelayan, aku memanggilmu bukan untuk menjadi patung. Cepat ambilkan kotak obat dan obati luka di tanganku." perintah Bara. Lisa pun langsung mengambil kotak obat tanpa perlu di beritahu Karena memang ia sudah tahu dimana bisa Bara meletakkan kotak obat.


Bara memperhatikan Lisa, dengan sedikit tanda tanya di kepalanya bagaimana ia bisa tahu tempat biasa ia menaruh kotak obat.


Setelah mendapatkannya Lisa pun bergegas menghampiri Bara yang sedang duduk di tepian ranjang, Lisa pun duduk di lantai tanpa izin ia meraih tangan Bara yang terluka dan segera mengobatinya. Bara hanya terdiam menatap Lisa yang sedang mengobati tangannya dan memperhatikan setiap yang Lisa lakukan.


"Kenapa dia sangat mirip dengannya, apakah dia..., tidak- tidak mungkin itu dia, jika dia kembali dia pasti akan langsung menemui ku. Dimana kamu Lia, kenapa sampai sekarang kamu belum bisa aku temukan." gumam Bara.


Setelah mengobati luka di tangan Bara, Lisa mendongakkan wajahnya melihat luka di sudut bibir Bara, Saat itu Bara masih menatap Lisa hingga membuat mereka saling bertatapan.


"Maaf tuan, apa boleh saya mengobati luka di sudut bibir tuan sebelum darahnya mengering." ucap Lisa membuyarkan lamunan Bara.


"Lakukan dengan hati-hati." Lisa pun mengangguk dan mulai mengobati luka di sudut bibir Bara dan dengan sesekali meniupnya agar tak terasa perih.


Setelah semua selesai Lisa pun membereskan semua serpihan yang berhamburan, sedangkan Bara pergi mengganti pakaiannya yang terkena noda darah.


"Besok, jangan lupa bangunkan aku pukul 7 pagi, jangan sampai telat, soalnya aku ada rapat."

__ADS_1


"Iya tuan, kalau begitu saya permisi dulu." Lisa pun pergi meninggalkan kamar Bara namun sebelum kembali ke kamarnya tak lupa ia singgah ke kamar Alfin.


Lisa menghampiri Alfin yang tertidur pulas. Lisa mengusap kepala Alfin dengan lembut.


"Maafkan bunda sayang, untuk saat ini bunda belum bisa didekat kamu, tapi bunda janji akan menjagamu, tak akan bunda biarkan ada orang menyakitimu." ucap Lisa lalu mengecup kening Alfin dan meninggalkannya.


Waktu sudah menunjukkan pukul 23.00 malam, Mata Lisa belum juga terpejam, pikirannya kemana-mana, memikirkan sesuatu yang sangat sulit ia dapatkan, yaitu putra kandungannya.


Walaupun ia telah melahirkan seorang anak tapi ia sendiri tak tahu bagaimana sekarang wajah anaknya, siapa namanya bagaimana keadaannya. Satu hal yang ia tahu sekarang, bahwa sekarang Anaknya sudah berada di tempat orang tuanya. Setidaknya ia sedikit lega karena putranya ada di tangan kakek neneknya.


Keesokan harinya, Sesuai permintaan Bara, Lisa pun membangunkan Bara. Namun sebelum ia membangunkan terlebih dahulu ia menyiapkan semua keperluan Bara. Matahari pagi langsung menyisip di sela-sela jendela saat Lisa membuka gorden jendela yang membuat Bara terbangun karena silaunya matahari pagi.


"Selamat pagi tuan, sekarang sudah pukul 06.30 waktunya bangun dan bersiap untuk mandi, sudah saya siapkan juga pakai tuan dan air hangat juga sudah siap." ucap Lisa.


"Apa kau tak mendengar ucapan ku tadi malam? aku memintamu membangunkan ku jam 07.00 pagi bukan jam 06. 30."


"Belajarlah patuhi perintah majikanmu, bukan membantah. Sudahlah, gak ada gunanya berdebat denganmu. Pergi sana." usir Bara yang masih duduk di ranjangnya. Lisa pun tanpa membantah langsung pergi meninggalkan Bara.


Lisa pun turun keluar dari kamar Bara dan turun ke lantai bawah ingin membantu pelayan yang lain menyiapkan sarapan, Namun saat sampai di ujung anak tangga namanya kembali di panggil Bara membuatnya harus kembali naik ke atas menuju kamarnya.


"Apalagi yang kurang, kan sudah disiapkan semuanya?" tanya Lisa dalam hati.


Sesampainya di kamar Bara, ternyata Bara belum bergerak dari tempat tidurnya dan masih duduk bersandar sambil memainkan ponselnya.


"Ada apa lagi tuan memanggil saya? bukannya tadi saya di suruh pergi."


"Apa ketampananku hilang, gara-gara lebam di wajahku?" tanya Bara.

__ADS_1


"Pertanyaan konyol macam apa ini?" gumam Lisa seraya heran dan bingung, " butuh jawaban jujur atau bohong tuan?" saut Lisa.


"Jawaban jujur saja."


"Baik akan saya katakan jujur dari dalam hati, anda orangnya tak begitu tampan tapi sekarang terlihat sangat jelek akibat luka lebam di wajah tuan membuat tuan seperti xxxx" ucap Lisa dengan berani.


"Beraninya kau, menghinaku, kau pikir pantas berkata seperti itu, dasar pelayan rendahan"


"Tuan yang meminta saya mengatakan itu dengan jujur, coba tuan bercermin apakan saya menghina tuan atau memang itu kenyataan." Jawab Lisa lalu pergi meninggalkan Bara.


Tanpa Lisa sadari ia tanpa sengaja menjatuhkan sesuatu di kamar Bara dan tanpa sengaja Bara menginjaknya hingga membuatnya hampir jatuh tergelincir benda tersebut.


"Aaauuuhhhh" teriak Bara seorang diri, dasar pelayan. Apa dia ingin membuatku celaka." gumam Bara lalu memperhatikan benda yang ia injak dan ternyata itu adalah sesuatu yang bara sangat kenal.


"ini...., bukankah ini miliknya, kenapa ada di sini siapa yang membawanya? gak mungkin dia kan." Bara pun mengambil dan menyimpannya.


Lisa menggerutu sendiri karena Bara yang memberikan pertanyaan konyol pada dirinya.


"Mas Bara nie aneh-aneh aja, memberi pertanyaan yang anak kecil pun bisa jawab. Dasar laki-laki aneh."


Ponsel Lisa berdering dan itu dari paman Lisa yang memberi kabar pada Lisa bahwa mamanya sedang kritis dan meminta Lisa untuk kembali.


"Apa yang harus aku lakukan, aku bingung mana yang harus aku pilih, disisi lain mama sedang kritis dan di sisi lain lagi baru saja aku memulai perjalanan yang harus ku perjuangan. Ya Tuhan tolong aku ini, pilihan mana yang harus aku pilih kedua-duanya sangat berharga bagiku." Lisa pun duduk di anak tangga dekat kamar Bara, sambil memikirkan satu keputusan.


______


"Alia... Alia... kamu di mana nak, jangan tinggalkan mama lagi, pulang nak." ucap Sekar ditengah kondisinya yang memburuk.

__ADS_1


"Sabar ma, papa sudah berusaha mencari keberadaan Lia, tapi sampai sekarang belum ada tanda-tanda keberadaannya." Sata memegang erat tangan Sekar yang sangat ia cintai.


__ADS_2