
Lia memutuskan untuk kembali bersama Bara dan membawa Reihan bersamanya.
Namun semuanya telah berubah, walaupun mereka masih terikat pernikahan, namun cinta mereka sudah tidak sama lagi, terutama Lia, kenyataan pahit yang ia ketahui membuatnya harus membenci suaminya sendiri.
Benci hanya itu yang ada di hati Lia setiap ia melihat Bara. Ingin rasanya ia pergi sejauh mungkin agar tak melihat Bara lagi.
Namun Bara tak ingin melepaskan Lia, dirinya memilih untuk membangun pondasi yang sudah rapuh, dengan memulainya dari awal, walaupun rasa sakit akan ia rasakan saat orang yang ia sayang membencinya.
Mungkin inilah hukum untuk Bara yang telah menutupi kesalahannya, hingga kebenaran terungkap lewat orang lain.
Saat malam tiba, Bara terkejut dan hanya bisa menghela nafas, melihat apa yang di lakukan istrinya.
Bara hanya bisa menatap tak percaya, dan hanya bisa pasrah, saat Lia menyekat kasur king size-nya dengan guling hingga terbagi menjadi dua bagian. Bahkan Alia tidak mengizinkan Bara menyentuh dirinya.
Untuk saat ini, bagi Bara itu tak jadi masalah. Selama masih bisa bersama Lia, dan berharap berlahan semuanya akan bisa membaik hanya butuh waktu dan sabar sampai wanita yang ia cintai mau memaafkan dirinya.
Bara duduk di sisi ranjang yang berada di sebelah kiri dan Lia di sebelah kanan. Bara sedang bermain ponsel yang sedari tadi ia pegang.
"Jangan lupa matikan lampunya kalau mau tidur." ucap Lia di balik selimut yang menutupi tubuhnya.
"Ini baru pukul delapan, apa kamu sudah sangat ngantuk? apa kamu sudah makan?" tanya Bara, kepalanya menoleh ke arah Lia yang ada dalam selimut.
"Aku capek. Aku belum makan. Perutku masih sakit." jawab Lia singkat dan padat.
"Apa kamu sudah minum obat?"
"Belum, saat ini yang sedang ingin aku lakukan hanya ingin tidur. Jadi matikan lampunya. aku gak bisa tidur kalau terlalu terang." saut Lia ketus.
"Baiklah, akan aku matikan lampunya, aku keluar dulu, kalau kamu perlu apa-apa panggil aku." Bara pun mematikan lampu kamar dan menyisakan lampu tidur. Ia pun keluar dari kamar.
__ADS_1
Dengan langkah tak bergairah seperti tak memiliki bertenaga Bara menuruni anak tangga. Dengan mengenakan kaos putih polos dan celana pendek membuat Bara sudah seperti orang yang di usir.
Akas yang ada di bawah menyambutnya dengan tawa, melihat raut wajah Bara yang kusut.
"Kelihatannya ada yang lagi di usir istrinya dari kamar." sindir Akas yang baru kembali dari dapur.
"Jangan ngomong sembarangan," Bara merampas minuman soda dari tangan Akas dan meminumnya sambil berjalan menuju sofa.
Bara menyalahkan tv, untuk menghibur dirinya. Akas pun menghampiri setelah mengambil minuman soda yang baru.
"Kenapa kelihatan loyo, bukannya kalau laki-laki sudah punya istri itu bawaannya happy."
"Gimana mau happy, Di suruh puasa entah sampai kenapa."
"Makan itu akibatnya, kamu tahu sendiri kan resikonya kalau sampai ketahuan, dan ini buktinya saat Lia tahu kebenarannya, ditambah lagi Lia yang sifatnya keras kepala, siap-siap menderita lahir dan batin kamu," ledek Akas dengan nada canda. Seakan penderitaan Bos sekaligus sahabatnya adalah hal yang lucu.
"Ya, aku akui aku salah, dan sudah siap dengan semua konsekuensinya. Tapi setidaknya kamu kasih saran atau ajari caranya buat Lia maafin aku, bukan malah menertawakan aku, ini sama sekali gak lucu." jawab Bara yang nampak serius, lalu kembali menunggak minuman soda-nya.
Tanpa bicara Lia pergi ke dapur untuk mengambil air minum.
"Samperin tu istrimu, beri perhatian lebih padanya, pasti nanti lama kelamaan bisa luluh lagi hatinya." Akas mendorong tubuh Bara untuk menghampiri Lia.
Bara buru-buru menghampiri Lia yang masih ada di dapur.
"Tunggu Lia, mumpung kamu di dapur, sekalian makan dulu, nanti kamu sakit kalau gak makan."
"Aku gak lapar." jawab singkat Lia. Bara pun menghadang langkahnya hingga Lia tak bisa pergi.
"Aku akan tak akan mengizinkan mu kembali ke kamar sebelum kamu makan, setidaknya isi sedikit saja." Baru berusaha memaksa Lia.
__ADS_1
Tanpa bicara Lia membalikan badannya lalu duduk di meja makan. Bara nampak lega, setidaknya Lia masih mau menurutinya.
Bara harus memulai kembali dari nol, untuk mendapatkan hati Lia kembali, setelah semuanya hancur akibat kebohongan yang Bara lakukan. Mungkin Bara harus mencari 1001 cara agar Lia mau memaafkan dirinya dan memulai kehidupan yang baru tanpa perceraian.
Sedangkan Lia sendiri, mau kembali bersama dengan Bara, semata-mata demi anak-anak mereka. Jika tidak perceraian lah yang akan di ambilnya.
Diam itu salah satu cara untuk menutupi rasa sakit yang masih ia rasakan, Perjuangannya selama ini seakan-akan menjadi sebuah penyesalan bagi Lia.
Bara mengambilkan nasi dan lauk pauk yang ada dimeja untuk Lia dan menuangkan segelas air minum untuknya.
"Apa kamu sudah minum obat?" tanya bara yang duduk di seberang Lia. Lia hanya menggelengkan kepalanya. Bara menghembuskan nafas dengan kasar. Ia tahu Lia sangat keras kepala sama seperti papanya juga sangat nekat, bahkan bisa melakukan apa saja sekehendak hatinya.
Bara menatap Lia yang sedang menyuap nasi, walaupun sedikit demi sedikit, terlihat sangat jelas bahwa Lia tak memiliki nafsu untuk makan malam.
Hanya beberapa suapan Lia berhenti, mengambil air yang di sediakan Bara lalu dengan segera meminumnya.
"Aku akan kembali ke kamar, tolong lihat anak-anak sebelum istirahat." Setiap ucapan Lia terasa dingin seperti air yang membeku.
Bara hanya dapat menatap punggung Lia yang mengenakan piyama ungu motif bunga, yang sedang menaiki anak tangga tanpa bisa berkata apa-apa lagi.
"Sungguh serba salah sekarang, mudah-mudahan aku sanggup menghadapi ujian ini, bagiku didiamkan Lia ini lebih berat dari pada harus bersaing untuk mendapatkannya."
"Buat apa pusing mikirin orang yang lagi marah, lebih baik kita nikmati apa yang ada." Akas meletakkan sebotol Vodka dan sebungkus rokok di hadapan Bara.
"Kamu habiskan sendiri. Aku ingin melihat anak-anak dulu." Bara meninggalkan Akas yang baru saja menghampiri dirinya.
Lia duduk di sisi ranjang mengambil obat di laci nakas. ia menatap tanpa berkedip sebuah botol yang berisi pil berwarna hijau.
"Aku hampir menyerah, aku sudah gak kuat terus menerus harus mengonsumsi dirimu hanya untuk bertahan. Aku sudah siap dengan apapun yang terjadi. Aku tak ingin mengandalkan ini lagi untuk bertahan." air mata ia membasahi pipi, namun tiba-tiba pintu terbuka hingga membuat Lia buru-buru merebahkan tubuhnya dan memasukan tubuhnya dalam selimut.
__ADS_1
Bara kembali ke kamar, dan langsung beranjak merebahkan diri di ranjang, mencoba memejamkan matanya tanpa bicara.
To be continued ☺️