Sekertarisku Ibu Susu Putraku

Sekertarisku Ibu Susu Putraku
Malam panjang


__ADS_3

Air mata terus membasahi pipi Lia, ia tak menduga harus menikah siri untuk yang kedua kalinya tanpa restu orang tua.


Hati Lia bercampur aduk antara bahagia dan sedih. Bahagia karena perjuangannya untuk bersama Bara kini terwujud namun ia sedih di kali keduanya ia menikah tanpa restu orang tua yang.


Bara menghapus air mata di yang terus mengalir dan mengecup keningnya.


"Aku tahu apa yang ada di hatimu saat ini, berhentilah menangis. Berbahagialah untuk malam ini esok kita akan cari jalan terbaik agar hatimu bisa sepenuhnya bahagia." ucap Bara dan Lia hanya menatap pria yang kini telah sah menjadi suaminya, ia pun segera memeluk dan menumpahkan tangisnya di pundak Bara.


Setelah semuanya selesai, penghulu dan para saksi pun pulang dan menyisakan Akas.


"Selamat atas pernikahan kalian, aku tadi benar-benar kecewa jika yang Bara nikahi bukan Alia." ucap Bara sambil menjabat tangan Lia dan Bara.


"Maaf, kalau aku tak memberitahu. Aku lakukan ini semata-mata agar tak ada yang mencoba menghalangi niatan ku untuk menikahi Alia."


"Ya... aku maklumi alasanmu, sekarang aku harus istirahat, dan buat kalian selamat menikmati malam pengantin kalian, aku sudah gak sabar dengar hasilnya." Akas pun tersenyum sambil menepuk pundak Bara. Alia tak banyak bicara hatinya sedang tak ingin bercanda.


"Mau jalan sendiri atau aku gendong?" tanya Bara pada Alia. Namun pertanyaannya tak perlu di jawab Bara pun langsung menggendong Lia dan berjalan menuju kamar yang di sediakan, Lia hanya melingkarkan tangannya di leher Bara dan menyandarkan kepalanya di dada Bara.


Sesampainya di kamar, Bara meletakkan tubuh Lia di atas ranjang yang bertaburan Bunga. Dan Bara melepas jas dan juga melonggarkan kemejanya. Alia pun kembali duduk dan sisi ranjang dan menuang segelas air yang ada di meja ia pun meminumnya sampai habis.


"Apa kau gugup?" tanya Bara yang menghampirinya dan duduk di sampingnya.


"Aku masih gak percaya mas, kalau aku sekarang sudah sah menjadi istri mas Bara. Rasanya baru kemarin aku datang menjadi seorang pelayan dan kini aku sudah menjadi seorang istri. Satu pertanyaan yang masih mengganjal di benakku, apa mas mau menjawabnya?"


"Katakan, apa yang ingin kamu tanyakan? aku sekarang adalah suamimu dan juga kepala rumah tangga, tak pentas jika harus ada yang di sembunyikan." Bara meraih pundak Lia dan Lia bersandar di pundak Bara.


"Dari mana mas tahu kalau aku Alia?" pertanyaan singkat Lia.

__ADS_1


"Aku... tahu... eeeemmmm, jawab gak ya?" Bara pun menghentikan ucapannya dan dengan reflek Lia mencubit perut suaminya itu.


"Jawab gak? kalau gak akan Lia cubit terus perut mas."


"Iya...iya... akan mas jawab, ampun geli... hentikan dulu cubitannya nanti mas gak bisa cerita." saut Bara sambil menahan tawa dan geli.


"Dari awal mas sudah tahu kalau kamu Lia, yang pertama apa kamu ingat sudah menjatuhkan gelang pemberian kakek waktu itu?"


"Apa mas menemukannya? Lia beberapa hari sibuk mencarinya bahkan Lia sampai nangis karena gelang itu satu-satunya pengobat rindu pada mas?"


"Aku menemukannya di kamar saat terjatuh di lantai dan itu hampir membuatku terjatuh, yang ke dua Alfin mengenali kamu, dia terus saja memanggil kamu dengan sebutan mama dan yang terakhir saat kamu mengigau memanggil namaku. Jadi sudah ku jelaskan semuanya padamu apa kamu masih tak percaya."


"Ya, aku terima penjelasan mas, apa mas tahu seberapa besar perjuangan Lia untuk bisa kembali menemui mas?"


"Aku tahu, maafkan aku yang sempat khilaf dan mengabaikanmu, aku janji mulai sekarang tak akan ku biarkan dirimu menderita lagi karena kesalahanku. Akan ku berikan semua kebahagiaan yang ku punya untuk membahagiakan dirimu sebagai penebus kesalahan masa lalu yang membuatmu selalu menangis dan berjuang sendiri." Bara mengusap pucuk rambut Lia.


Setelah berbincang beberapa saat Lia pun pergi kekamar mandi membersihkan diri dan mengganti pakaiannya, sedangkan Bara sudah merebahkan diri di ranjang sambil bermain ponsel.


Bara menyambut kedatangan Lia dengan lembut dan dan dengan penuh cinta. Menghabiskan malam yang tersisa untuk memadu kasih di saat telah sah menjadi miliknya untuk sekarang dan selamanya.


Setelah melewati malam panjang dan panas, Lia pun bangun lebih awal dan sedang menikmati secangkir kopi dengan rambut terurai dan masih setengah basah. Sedangkan Bara masih tertidur lelap di ranjang karena lelah.


Lia menghubungi pamannya. Namun beberapa kali panggilannya tak ada yang di angkat.


"Tumben, paman tak mengangkat panggilan Lia, gak seperti biasanya yang selalu cepat mengangkat panggilan Lia. Apa ada sesuatu di sana? atau apa paman sedang sibuk" gumam Lia yang bertanya-tanya dalam hati.


"Pagi sayang." Bara memeluk Lia dari belakang dan mencium kedua pipi Lia dan juga pucuk rambutnya dari belakang.

__ADS_1


"Pagi mas" Bara pun duduk di samping Lia dan mengambil kopi yang ada di tangan Lia dan di seruputnya.


"Mas, itu kopi mas ada di meja, kenapa ngambil sisa Lia."


"Gak papa, ini lebih nikmat"


"Mas,,, bolehkah Lia minta satu permintaan sama mas, dan semoga mas mau mengabulkannya." ucap Lia dan bara pun mengaguk sambil menyeruput kopi.


"Bisakah saat di rumah, kita pura-pura bukan jadi suami istri." ucap Lia dan membuat Bara tersedak.


"Apa maksudmu?"


"Jangan marah dulu, ini hanya untuk sementara sempai aku bisa mengembalikan semua ke adaan yang sudah salah dalam rumah mas Bara. Please beri Lia waktu satu Minggu saja, jika semuanya sudah kelar, Lia janji akan melayani mas sebagai seorang istri bukan pelayan.


"Baiklah, tapi cuma satu Minggu saja tidak lebih, apa gunanya aku menikahimu jika aku tetap jadi duda lagi." ucap Bara sambil meletakkan cangkir di meja.


"Jangan merajuk mas, ini hanya sebentar."


Siang itu mereka pun cek out dan tanpa sengaja berpapasan dengan Toni yang baru datang ke hotel, Lia yang menyadarinya buru-buru menyelinap pergi mendahului Bara agar tidak bertemu dengan Toni.


Toni pun menegur Bara di lobi taat mereka berpapasan.


"Hai... apa kabar? sudah lama kita tak jumpa, setelah proyek kerjasama kita selesai." sapa Toni.


"Kabar baik. Ya gak terasa sudah lama kita tak jumpa. Apa kabarmu dan sedang apa di sini?" tanya balik Bara.


"Ini kan hotel milikku, jadi aku kesini buat lihat-lihat ke adaan hotel sambil mencari tunangan ku yang hilang di kota ini." jelas Toni.

__ADS_1


"Tunangan hilang?"


"Iya ceritanya panjang lain kali akan ku ceritakan, oke aku ada mitting dengan karyawan dulu, sampai ketemu lain waktu." ucap Toni dan menepuk pundak Bara lalu pergi sedangkan Bara pun segera keluar menghampiri Lia yang sudah menunggu di mobil.


__ADS_2