Selir Tawanan Kaisar

Selir Tawanan Kaisar
Episode 15


__ADS_3

"Kenapa kalian diam?" tanya Li Jihyun menatap mereka dengan polos. Dia meletakkan jemarinya yang berlumuran darah ke pipinya. "Atau kalian merasa bosan?" seketika bulu kuduk mereka bergidik.


"Ti-Tidak yang mulia selir agung," jawab salah satu selir dengan gugup sekaligus gemetaran ketakutan. Li Jihyun terdiam masih menatap mereka yang berdiri dihadapannya. Dia melirik ke arah kedua mayat yang tergeletak dilantai. Kedua prajurit yang tadinya disuruh menyeret tubuh dayang itu masih membeku. Mereka terpukul menyaksikan kesadisan Li Jihyun menghabisi dayang itu dalam sekejap.


Li Jihyun berdecak membalikkan tubuhnya. Kedua prajurit yang menyadari kehadiran Li Jihyun langsung menciut nyalinya. Mereka sekarang sangat ketakutan ketimbang menghadapi musuh di medan perang. Keringat dingin membasahi dahi.


"Apa yang kalian lakukan disini?" tanya Li Jihyun dingin dan datar. Kedua prajurit itu bergidik ngeri merasakan hawa dingin yang mencekam dari tubuh Li Jihyun. "Aku memerintahkan kalian membereskan kedua mayat menjijikkan ini. Tapi kenapa kalian diam disini? Apa kalian tidak mendengar perkataanku?" tanya Li Jihyun menatap tajam.


"Ma-Maafkan kami yang mulia selir agung. Kami akan segera melaksanakan perintah anda," ujar salah satunya dari kedua prajurit itu. Serempak mereka langsung membawa kedua mayat yang sudah terbujur kaku. Kubangan darah mengenang di lantai saat kedua mayat itu diangkat. Semua orang disana menutup mulut saking ngeri. Sebagian lagi memalingkan wajah. Hanya Li Jihyun yang santai menyaksikannya. Seolah genangan darah itu cuma pemandangan biasa.


Li Jihyun, gadis yang dididik menjadi pembunuh bayaran dikehidupan sebelumnya sudah terbiasa dengan darah dan rasa sakit. Sejak kecil dia sudah terlahir tanpa air mata maupun darah. Dia sudah berbeda dengan manusia kebanyakan yang memiliki perasaan. Dia lebih mirip mesin pembunuh ketimbang manusia.


Mungkin hanya dikehidupan keduanya dia mulai mengenal perasaan manusia. Tapi saat hatinya mulai melunak dan menerima kasih sayang antar manusia. Sebuah tragedi menimpa keluarganya. Bukan hanya keluarganya tapi juga seluruh rakyat kekaisaran yang membuatnya kembali menjadi mesin pembunuh seperti dikehidupan sebelumnya. Walau sudah tidak sesadis dulu. Tapi tetap saja mengerikan saat melihatnya.


"Yang mulia selir agung bagaimana jika kita kembali sekarang?" usul Yona sedikit takut.

__ADS_1


Kepala Li Jihyun tertoleh ke belakang. "Baiklah. Aku juga sudah bosan disini," ujarnya membalikkan badan. Dia menatap para selir dan dayang yang mengikuti mereka sedang membungkuk hormat. Melihatnya saja membuat Li Jihyun senang. Seharusnya mereka sejak dulu seperti ini. Heh? Dizaman apapun manusia itu tetap sama. Cuma menindas yang penakut tapi takut pada yang kuat. Menjijikkan, batinnya melewati mereka yang tertunduk. Langkahnya berhenti sejenak membuat mereka tersentak kaget. Keringat dingin sejak tadi sudah mengucur deras. "Mungkin besok aku akan datang kemari. Jadi persiapkan teh yang paling enak," ujarnya tersenyum tipis sebelum meninggalkan mereka. Begitu langkah Li Jihyun menjauh tubuh mereka seketika lemas.


Mata mereka menatap punggung Li Jihyun yang menjauh. "Dia benar benar mirip iblis ketimbang manusia," ujar salah satu selir mengusap peluh didahi. Selir lain mengangguk setuju.


"Tapi bukankah dia digosipkan selir yang pendiam dan naif?" celetuk salah satunya lagi sambil melihat ke arah mereka secara bergantian. Yang lain mengangguk setuju. Meski tersirat keraguan diwajah mereka. "Apalagi dia sampai menolong dayang dari pihak saingannya? Bukankah sudah jelas dia itu perempuan naif dan bodoh?"


"Pokoknya kita jangan mencari masalah dengannya. Aku sampai mual melihat dia begitu santai menebas kepala dayang Ai Na," ujarnya mengusap lengan yang mendadak bulu kuduknya meremang.


"Tapi tentang dibesarkan dengan kasih sayang itu bukan semata gosip. Karena katanya perdana menteri terdahulu sangat menyayangi putrinya," ujar selir itu yang diangguki selir lain.


Sementara Li Jihyun berjalan santai melewati dayang yang sibuk bekerja. Hanfu yang dipakainya terdapat banyak bercak darah. Membuat mata dayang tidak lepas menatapnya. Meski tidak berani secara langsung, mereka hanya bisa meliriknya. Setiap langkah Li Jihyun menjauh suara bisikan para dayang akan terdengar. Yona yang menyaksikan itu semua cuma bisa gelisah. Sesekali matanya melirik ke arah dayang yang sibuk bergosip sambil berbisik lirih.


Semoga selir agung tidak mendengarnya dan berita itu tidak menyebar. Aku tidak mau jika nama selir agung memburuk. Walaupun tindakan selir agung salah dan sudah melewati batas. Pasti selir agung punya alasan melakukannya. Seharusnya sebagai dayangnya aku memperingatkan bahwa itu salah. Tapi aku terlalu pengecut, batin Yona dengan pandangan tertunduk.


"Apa yang kamu pikirkan Yona?" tanya Li Jihyun menghentikan langkahnya dan berbalik. Membuat Yona tak sengaja menabrak tubuh Li Jihyun didepannya. Yona langsung mundur dengan tubuh gemetaran.

__ADS_1


"Ti-Tidak ada yang mulia selir agung," jawabnya dengan suara bergetar. Hela napas terdengar. Gadis itu menyilangkan tangan diatas dada.


"Jangan terlalu memikirkan hal tidak perlu. Aku baik baik saja. Jadi jangan khawatir," ucap Li Jihyun berbalik dan melangkah lebih dulu. "Ayo sekarang kita harus kembali. Aku sudah lapar," katanya menolehkan kepalanya ke belakang sekilas.


"I-Iya yang mulia selir agung," jawab Yona berjalan dengan cepat mengikuti langkah Li Jihyun.


Tanpa disadari Li Jihyun ada seseorang memperhatikannya. Senyuman tersungging dibibirnya. "Kita akan segera bertemu lagi Li Jihyun," ujarny sebelum menghilang bersamaan embusan angin. Li Jihyun yang melewati jendela menoleh keluar. Embusan angin barusan membuat insting Li Jihyun menyala. Dia memperhatikan cukup lama. Tapi tidak ada apapun disana. Hanya pepohonan yang bergoyang mengikuti ritme angin.


"Ada apa yang mulia selir agung?" tanya Yona mengikuti arah tatapan Li Jihyun. Yona memiringkan wajah kebingungan. Tidak ada apapun disana. Selain pepohonan yang bergoyang. Apa yang dilihat selir agung sampai sefokus itu? batin Yona melirik Li Jihyun yang diam mematung.


"Mungkin cuma perasaanku saja," gumam Li Jihyun memecah keheningan. Dia kembali berjalan. Kenapa tadi aku merasakan kehadirannya? Kami tidak mungkin bertemu lagi, kan? batinnya resah. Rasanya mustahil bertemu orang yang dikenalnya dikehidupan sekarang. Dia pikir mungkin dirinya sedang sensitif karena menghadapi banyak masalah. Jadi sekarang dia tak ambil pusing dan kembali memikirkan berbagai rencana balas dendam lainnya.


....


"Apa yang dilakukan gadis itu?" tanya Long Jian sambil memeriksa dokumen yang berserakan dimeja. Ada banyak pengajuan penolakan peperangan dilakukan. Tapi Long Jian tak peduli. Baginya perang adalah kesenangannya memperluas wilayah kekuasaan. Dia tinggal mengabaikan pendapat pejabat dan menteri yang menolak. Lagipula semakin luas wilayahnya lawan pun akan semakin segan dan takut padanya.

__ADS_1


"Maksud anda yang mulia selir agung?" tanya Zhang Liu.


__ADS_2