
Tangan pria itu terangkat diudara. Bersiap hendak menampar Li Jihyun yang berada didepannya. "Kamu pantas mati. Gara gara kamu anakku tewas," ucap pria itu menggeran marah. Tangannya bersiap menampar Li Jihyun. Tapi sedikit pun Li Jihyun tak menghindar.
Plak!
Satu tamparan pelak mengenai pipinya. Bekas cap kemerahan terlihat dipipinya. Sudut bibir gadis itu mengeluarkan darah. "Satu tamparan atas kematian putriku," ucap pria itu mengangkat tangannya lagi. Hendak menampar pipinya lagi.
Mata pria itu memerah saking geram. Tapi sebelum tamparan kedua itu mengenai Li Jihyun. Gadis itu menangkap tangannya terlebih dulu. Membuat tubuh pria itu membeku. "Hei pak tua!" ucap Li Jihyun menyeringai lebar. "Kamu penasaran kan bagaimana aku membunuh anakmu atau ..." gadis itu menjeda kalimatnya. Seringaiannya tampak semakin melebar. Kepalanya dicondongkan ke telinga pria itu. "... alat politik anda?" bisik Li Jihyun membuat mata pria itu terbelalak.
Pria itu berusaha melepaskan paksa genggaman Li Jihyun tapi gagal. "Wanita brengsek! Beraninya kamu menghina putriku! Lepaskan aku perempuan jahannam," makinya sambil terus berusaha melepaskan pegangan Li Jihyun.
Alis mata Li Jihyun terangkat sebelah. "Tsk!" decaknya sambil memutar bola mata malas. Membuat wajah pria itu merah padam. Dia masih berusaha melepaskan diri dari cengkraman Li Jihyun. "Sepertinya aku terpaksa harus mengirimmu ke tempat putrimu berada," ucap Li Jihyun membuat tubuh pria itu menegang. Tak tinggal diam tangan satunya yang tak dipegang Li Jihyun bergerak ke arahnya. Tapi gadis itu tak berkelit justru menggunakan tangan satunya menangkap tangan pria itu. Membuat kedua tangan itu dipegang olehnya.
Li Jihyun tersenyum lebar. Lalu memelintir kedua tangan itu bersamaan. Hingga terdengar suara pekikan kesakitan dari mulutnya. Li Jihyun tergelak melepaskan pegangan kedua tangannya. Pria itu mengaduh sambil menatap ke arahnya. Kini dia tak bisa menampar lagi. "Sialan! Kamu akan merasakan akibatnya," ancam pria itu. Pria itu mundur selangkah dan hendak membuka mulut lagi. Tapi Li Jihyun dengan cepat menyingkap bagian bawah hanfunya. Mengeluarkan belati dari balik roknya. Dia bergerak cepat ke arah pria itu berdiri.
__ADS_1
Sebelum pria itu mengeluarkan suara. Belati itu sudah melesat menikam leher pria itu. Darah merembes keluar. Mata pria itu terbelalak lebar. "Menurutmu berapa orang yang akan mati hari ini?" bisik Li Jihyun ditelinga pria itu. Alis matanya bergerak naik turun. Dia menarik belati itu hingga darah terciprat. Tak sampai disitu belati yang tajam itu kini menyabet lehernya hingga terputus.
Dia tersenyum lalu berjalan ke arah kediaman. Siapapun yang ditemuinya semua habis tak bersisa. Kediaman Xu berubah menjadi lautan darah. Gadis itu membuang napas kasar menatap tumpukan mayat didepannya.
Sekarang dia berada di tengah aula kediaman Xu. Matanya bergerak liar mencari seseorang yang mungkin tertinggal. Hari ini dia menghabisi keluarga Xu yang sudah membuatnya kesulitan. "Ck! Kamu lihat selir Hai. Kamu pikir aku tak bisa mengatasinya? Cih! Kamu terlalu meremehkanku selir Hai. Sekarang tak ada alasan lagi untukmu merendahkanku lagi," gumamnya menyibak anak rambut yang terjuntai menutupi dahi. Bercak darah berserakan di hanfu dan wajahnya.
Krek!
Mata Li Jihyun bergerak cepat ke arah suaranya. Matanya tajam menatap seseorang berpakaian prajurit berdiri diambang pintu. Wajahnya pucat dan tangannya gemetaran memegang tombak. "Sepertinya ada tikus kecil yang tertinggal," gumamnya mengangkat belati itu. Dia berjalan mendekati prajurit itu yang ketakutan. Dahinya mengerut melihat wajah prajurit itu. Langsung teringat dengan prajurit yang tadi terkena jurus totoknya.
Dia masih bersikap waspada pada Li Jihyun yang mendadak berhenti. "Kamu ingin melaporkanku?" gumamnya menatap dingin prajurit didepan mata. Prajurit itu berjengkit kaget. Dia membalikkan badan hendak melarikan diri. "Cih! Dasar pengecut!" maki Li Jihyun melemparkan belati yang telak mengenai kaki prajurit itu.
Prajurit itu langsung jatuh. Kakinya berlumuran darah. Pekikan kesakitan terdengar. Li Jihyun berjalan menghampirinya. Melihat Li Jihyun yang semakin dekat membuat prajurit itu dengan cepat mencabut belati yang tertancap di kakinya. Dia pun berdiri dengan susah payah. Tombak yang tadi ditangannya terpelanting entah kemana. Situasi ini membuatnya bertindak kalap. Tapi sebelum itu Li Jihyun yang berada dibelakangnya menendang punggung pria itu hingga jatuh terjungkal.
__ADS_1
Sekali lagi suara jeritan kesakitan terdengar. Dia berusaha bangkit lagi. Tapi Li Jihyun tak memberinya kesempatan. Berulang kali Li Jihyun menendangnya hingga kesakitan. Sekujur tubuh prajurit itu semakin lama tidak bisa digerakkan. Li Jihyun tak membiarkan prajurit itu bernapas atau memikirkan rencana lain. Dia memungut belati yang tadi dibuang prajurit itu.
Suara terbatuk terdengar sampai keluar darah dari mulutnya. Wajahnya dipenuhi lebam. "Untuk setingkat prajurit tubuhmu lebih terlatih dari yang kukira," ucap Li Jihyun memegang belati. Menatap pantulan dirinya dari benda pipih dan tajam itu.
"A-Ampuni saya yang mulia," pinta pria itu langsung bersimpuh. Diabaikannya rasa sakit yang menjalar ke sekujur tubuh. Li Jihyun mengembuskan napas.
"Seharusnya aku tadi menyiksa kepala keluarga Xu. Tapi dia mati terlalu cepat," ujar Li Jihyun santai. Dia yang berdiri tiga langkah dari prajurit itu berjalan mendekat.
Jantung prajurit itu berdetak cepat. Rasa takut menjalar ke sekujur tubuh. Dengan susah payah dia berusaha berdiri lagi. Tapi sebelum kaki prajurit itu berdiri tegak. Li Jihyun menendang kakinya membuat tubuh prajurit itu limbung kemudian terjatuh.
Li Jihyun menginjak kuat kakinya hingga suara derakan tulang terdengar ngilu. Senyuman tersungging dibibir. Kali ini prajurit itu tak bisa kemana pun lagi. Dia menatap pasrah Li Jihyun yang berdiri didepannya. Li Jihyun mengangkat belatinya dan melayangkannya tepat dileher prajurit itu. Membuat kepalanya terpisah dari leher. Darah terciprat mengenai wajah dan hanfunya. Gadis itu mengusap dengan punggung tangannya.
Ah! Sial! Hanfu dan tubuhku sekarang berlumuran darah, rutuk Li Jihyun mengendus ujung hanfunya. Hidungnya berkedut. Aku harus mandi dulu baru pulang, batinnya lagi membalikkan badan.
__ADS_1
Suasana kediaman Xu tampak sangat sepi. Li Jihyun dengan santai berjalan memasuki kediaman Xu. Tujuannya hanya satu mandi dan berganti pakaian. Gadis itu tampak menikmati fasilitas di kediaman Xu tanpa sedikit pun rasa bersalah. Padahal dia baru saja membantai keluarga Xu hingga habis tak bersisa. Apa ini yang dirasakan si gila itu? batin Li Jihyun menatap langit langit kamar. Dia masih berendam dalam air bak.