Selir Tawanan Kaisar

Selir Tawanan Kaisar
Episode 43


__ADS_3

"Apa yang kalian tunggu? Cepat bawa mereka!" titah Li Jihyun membuat gerombolan dayang itu terkejut.


"Yang mulia selir agung anda tidak bisa melakukan ini. Anda sudah berani melawan perintah yang mulia kaisar," ucap Fahrani tak mau kalah. Li Jihyun menatap ke arahnya. Sebelah sudut bibirnya terangkat.


"Lalu apa masalahnya? Kenapa aku harus cemas? Sebaiknya kalian pikirkan masalah sendiri dan jangan urus masalahku," ujar Li Jihyun. "Kalian cepat seret mereka!" perintahnya lagi membuat empat orang dayang mendekati mereka.


"Menjauh dari kami! Jika kalian berani membawaku akan kulaporkan pada yang mulia kaisar," ancam Fahrani membuat keempat dayang itu ragu. Mereka saling tatap dengan bimbang. Li Jihyun berdecak.


"Berisik! Cepat bawa mereka sekarang!" usir Li Jihyun mengibaskan tangan diudara. Keempat dayang itu langsung menarik lengan Fahrani. Wanita itu memberontak berusaha melepaskan diri. Membuat kedua lengannya pun ikut dipegang dan dibawa pergi dari hadapan Li Jihyun. Begitu juga Bai yang ikut terseret pergi.


Pandangan Li Jihyun beralih menatap kerumunan dayang. Kepala dayang itu tertunduk dalam. Tubuh mereka gemetaran ketakutan. "Selir Hai memberi salam pada yang mulia selir agung," sapa Hai Rong dibelakang Li Jihyun. Sontak saja kepala Li Jihyun tertoleh. Gadis itu menyunggingkan senyuman. Hai Rong membungkuk hormat padanya.


"Selir Hai angkat kepalamu," ucap Li Jihyun membuat kepala Hai Rong terangkat. "Apakah aku menganggu waktu istirahatmu?" tanya Li Jihyun ramah.


"Tidak yang mulia. Justru saya senang anda mau berkunjung ke kamar saya," ucap Hai Rong. Matanya melirik kerumunan dayang dibelakang Li Jihyun. "Yang mulia izinkan saya mengundang anda ke dalam kamar saya. Saya sudah menyiapkan teh hangat dan cemilan utnuk anda."


Li Jihyun menaikkan tangannya membuat ujung hanfu menutupi separuh wajah. "Terimakasih atas undangannya. Dengan senang hati saya berkunjung," sahut Li Jihyun.


"Silakan yang mulia selir agung ikuti saya," ajak Hai Rong berjalan terlebih dulu diikuti Li Jihyun. Sekilas kepala Li Jihyun tertoleh ke belakang sebelum memasuki kamar Hai Rong. "Fen siapkan teh hangat untuk yang mulia selir agung. Juga cemilan," titah Hai Rong yang diangguki patuh Fen. Dayang itu secepat kilat pergi menuju dapur.


Li Jihyun memperhatikan kamar Hai Rong yang terbilang cukup luas. Ada banyak perabotan yang disusun rapi dan bersih. Bahkan ada banyak lukisan terpajang didinding. Mata Li Jihyun menatap lekat lukisan pemandangan. Tampak lebih memanjakan mata seolah sedang berada dalam lukisan. "Apa anda tertarik dengan lukisannya?" tanya Hai Rong mengalihkan atensi Li Jihyun. Gadis itu menggelengkan kepala. Dia kembali menatap lukisan itu lagi. Lukisan itu entah kenapa terasa familiar di matanya. Terasa getaran dejavu dihatinya.

__ADS_1


"Fen menyapa yang mulia selir agung," sapa Fen mengalihkan atensi keduanya. Kepala Fen menunduk hormat. "Yang mulia selir agung dan selir Hai teh dan cemilannya sudah terhidang," lanjutnya.


"Yang mulia mari nikmati teh dan cemilannya," ajak Hai Rong yang diangguki Li Jihyun. Kedua perempuan berparas cantik itu pergi menjauhi tempat lukisan itu dipajang. Fen mengikuti langkah mereka. Mereka menuju sisi kamar Hai Rong yang dekat jendela. Teh dan cemilan sudah terhidang di meja. "Silakan yang mulia," kata Hai Rong menyodorkan kue kering pada Li Jihyun. Gadis itu mengambilnya dan dimakan. Fen menuangkan teh digelas keduanya. Tercium wangi melati dari kepulan asap teko teh itu. Membuat Li Jihyun tersenyum senang.


Li Jihyun mengambil gelas teh dan meneguknya. "Teh dan cemilannya sangat enak," puji Li Jihyun yang disambut senyuman oleh Hai Rong dan Fen.


"Terimakasih atas pujian anda," ucapnya meneguk teh hingga tersisa separuh. Lalu kembali meletakkan gelas di meja.


"Kedatanganku kemari untuk mengucapkan terimakasih atas bantuanmu. Berkatmu aku bisa terbebas dari masalah," ucap Li Jihyun tulus.


"Tidak perlu yang mulia. Sudah sepatutnya saya membalas kebaikan anda yang mulia," ucap Hai Rong meneguk lagi tehnya.


"Tapi apa tebusan yang kamu berikan pada yang mulia kaisar? Sampai yang mulia kaisar sendiri memberikan kebebasan padaku dan membatalkan hukuman?" tanya Li Jihyun menaikkan sebelah alis matanya. Hela napas terdengar. Hai Rong meletakkan gelas teh di meja.


Tidak sia sia aku membuatnya berpihak padaku, batinnya. "Lalu imbalan apa yang anda tawarkan pada keluarga Xu sampai mereka setuju? Bukankah mereka sangat membenciku karena sudah membunuh anaknya?" kata Li Jihyun meneguk sisa teh digelas. Hai Rong memilin jemari gelisah.


"Itu ..." katanya ragu. Dia menatap Li Jihyun yang sudah menghabiskan teh digelas. Dan kembali meletakkan gelas di meja. Fen yang berdiri tak jauh dari mereka pun menuangkan lagi teh ke dalam gelas kosong.


"Kenapa? Apa mereka menginginkan aku menjadi anjingnya?" terka Li Jihyun meneguk teh. Hai Rong dan Fen terperanjat kaget.


Gawat! Sepertinya yang mulia selir agung sudah tau, batin Hai Rong cemas.

__ADS_1


"Apakah itu bayaran atas permintaan mereka?" tanya Li Jihyun lagi membuat kedua orang itu saling tatap dengan ragu.


"Itu ... anda jangan salah paham. Saya tidak bermaksud menjual anda pada keluarga Xu. Saya pun melakukannya dengan terpaksa," ucap Hai Rong membela diri dengan wajah memucat.


"Sudahlah tidak masalah. Lagipula anda pun melakukannya demi kebaikan saya. Justru saya yang harusnya mengucapkan terimakasih pada anda," ujar Li Jihyun tersenyum lebar. Membuat keduanya menghela napas lega. Sifatnya memang tidak berubah. Dia pikir aku tidak tau? Huh! Akan kubuat kamu menyesalinya, batin Li Jihyun.


"Te-Terimakasih atas pengertian anda. Saya kira anda akan marah."


Apa dia pikir aku akan diam saja? Akan kubuat keluarga Xu tunduk dihadapanku, tekad Li Jihyun dalam hati. Otaknya sudah menemukan ide untuk menghadapi keluarga Xu. "Terimakasih atas jamuan makanannya. Saya permisi dulu," pamit Li Jihyun bangkit dari duduk. Li Jihyun melangkah keluar dari kamar Hai Rong.


"Hati hati dijalan," ucap Hai Rong ikut berdiri mengantar kepergian Li Jihyun hingga didepan pintu. "Hampir saja," gumam Hai Rong lirih begitu suara ketukan sepatu Li Jihyun menjauh.


"Selir Hai apa tidak masalah membiarkan yang mulia selir agung kesana?" tanya Fen khawatir. Dia sebenarnya tak tega melihat Li Jihyun menderita. Apalagi Li Jihyun pernah menolongnya di waktu lampau.


"Sudahlah. Tidak usah dipikirkan. Lagipula dia sudah tau resiko yang dihadapi."


"Tapi ..."


"Ck! Sebenarnya majikanmu siapa? Aku atau yang mulia selir agung?" tanya Hai Rong memotong kalimat Fen.


"Itu ... tentu saja selir Hai," jawab Fen yang dibalas senyuman lebar dari Hai Rong.

__ADS_1


"Bagus. Jadi berhentilah mengkhawatirkannya. Dia seharusnya berterimakasih padaku. Berkatku keluarga Xu mau membantunya," ucap Hai Rong dengan bangga.


Padahal baru kemarin dia bersikukuh melarang yang mulia selir agung kesana, batin Fen mengembuskan napas kasar.


__ADS_2