Selir Tawanan Kaisar

Selir Tawanan Kaisar
Episode 29


__ADS_3

Pedang ditangan Li Jihyun terayun mengarah wajah wakil itu. Pria bertubuh tegap dan tinggi itu menangkisnya dengan pedang. Pedang Li Jihyun berdengung. Tangannya sedikit gemetar. Dia melompat mundur dan menatap galak lawan didepannya. "Terlalu lemah," ejek pria itu terkekeh pelan. Li Jihyun mengertakkan giginya sambil tangannya memegang erat pedang. Belum sempat dia bersiap tiba tiba pria itu merangsek maju.


"Sial!" umpatnya saat pria itu sudah muncul didepan mata. Dia mengangkat pedang berusaha menahan serangan dari pria itu. Suara gesekan benda tajam terdengar lagi. Keduanya menatap satu sama lain dengan sengit. Tubuh Li Jihyun semakin terdorong oleh pedang wakil itu. Kekuatan wakil itu lebih kuat darinya.


Wakil itu memutar pedangnya lagi membuat Li Jihyun dengan sigap memasang posisi bertahan. Pedangnya diangkat menahan sabetan wakil itu. Walau ada sedikit goresan pada lehernya. Hampir saja, batinnya mengeratkan pegangan. Wakil itu sepertinya bertekad ingin membunuhnya.


"Kamu takkan bisa melawanku anak muda," ucap wakil itu dengan nada meremehkan. Gigi Li Jihyun bergemulutuk. Suasana menjadi menegangkan.


"Jangan terlalu bergembira dulu pak tua. Kita takkan tau siapa yang bertahan diakhir. Apakah aku atau pak tua?" tantang Li Jihyun tersenyum miring.


"Kamu akan menyesal anak muda!" seru pak tua memutar pedangnya dan hendak memotong pedang ditangan Li Jihyun. Dengan cekatan Li Jihyun melompat mundur. Lalu kembali merangsek maju. Pedang ditangannya teracung ke depan. Pria itu sudah bersiap menerima serangannya. Li Jihyun tersenyum tipis.


Begitu tiba didepan pria itu dan sudah bersiap akan balas menyerang. Li Jihyun melompat setinggi rata rata orang dewasa. Dengan cepat kepala pria itu mendongak. Sinar matahari yang menyilaukan terhalang kibaran hanfu Li Jihyun. Dia mengayunkan pedang ke arah leher pria itu.


Tapi wakil itu justru ikut mengayunkan pedang secara bersamaan. Membuat kedua pedang mereka saling beradu lagi. Lagi mereka saling bertatapan. "Kamu pikir aku tidak tau trik murahan itu?" ucap wakil itu tersenyum remeh. Li Jihyun berdecak. Dia sekali lagi melompat mundur. Otaknya berpikir cepat.

__ADS_1


Lawannya sangat sulit dihadapi. Dia tak bisa secara terus menerus menghindar maupun bertahan. Cara satu satunya adalah menyerang. Tapi melihat dari pergerakan lawannya tak ada celah yang terlihat. Justru gerakan berpedang miliknya terbilang sempurna. Berbeda dengan Li Jihyun yang berusaha mengimbangi kekuatan wakil itu.


Sial! Seharusnya aku mendengarkan nasihat paman Gong. Tapi aku tak boleh menyerah. Aku harus bisa! tekad Li Jihyun dalam hati. Dia menarik napas. Sekali lati dia merangsek maju. Pedang ditangannya berkilat ditimpa cahaya matahari.


Gerakannya sangat cepat sampai suara langkah kakinya tak terdengar. Wakil itu menatap waspada. Tangannya yang sudah memegang pedang erat. Dia menyeringai lebar saat melihat Li Jihyun mengikis jarak diantara mereka. Pedang wakil itu bergerak lurus mengincar organ vital ditubuh Li Jihyun. Tapi dia justru menundukkan tubuhnya. Pria itu terkejut, belum sempat dia menghindar. Sabetan pedang Li Jihyun tepat mengenai paha pria itu. Darah merembes keluar.


Suara rintihan kesakitan terdengar. Tak mau menghilangkan kesempatan. Li Jihyun terus maju. Pedangnya berayun cepat membuat pria itu pun ikut menangkis dengan cepat. Penonton bersorak menyaksikan pertandingan yang sengit. Bahkan panglima yang semula tak tertarik kini menonton dengan mata tak berkedip.


Dia lebih hebat dari yang kuduga, batin panglima itu mengusap dagu. Matanya masih terus memperhatikan pertandingan keduanya.


Wakil itu menarik napas dan diembuskan pelan. Matanya fokus menatap ke depan. Sekali lagi dia menarik napas dan melesat maju. Dalam sekali tarikan napas dia berhadapan dengan Li Jihyun.


Li Jihyun terperanjat kaget sampai tubuhnya membeku. Pedang ditangan wakil itu sudah berada didepan mata. Dia menggeser tubuhnya sedikit dan memukul perut pria itu. Tapi itu bukanlah pukulan biasa melainkan jurus totokan yang dipelajarinya dikehidupan sebelumnya.


Mata pria itu terbelalak merasakan sakit pada perutnya. Bukan itu bahkan kaki kanannya seperti kehilangan kendali. Terasa sangat lemas tak berdaya. Gerakannya pun menjadi melambat. Belum sempat Li Jihyun menarik tangannya. Dengan gerakan cepat, wakil itu menusuk lengan Li Jihyun dengan pedang.

__ADS_1


Pedang itu menembus tangannya sampai darah mengalir deras. Wakil itu terkekeh penuh kemenangan. Tapi bukan ringisan yang terlihat diwajahnya. Dia jusru menampilkan wajah datar dan tidak menunjukkan rasa sakit. Wakil itu sampai terpukul melihatnya. "Ka-Kamu ...." Li Jihyun tersenyum lebar.


"Selamat tinggal pecundang," ucapnya dingin dan menusukkan pedang itu ke jantung pria itu. Pria itu pun langsung kehilangan nyawa. Matanya terbelalak lebar. Semua penonton langsung diam. Suasana berubah hening sekaligus mencekam. Begitu juga dengan panglima itu.


Li Jihyun menarik pedangnya dari jantung pria itu. Membuat tubuh pria itu jatuh tersungkur diatas kubangan darah. Dia juga mencabut pedang yang menancap dilengannya. Darah muncrat mengenai wajah dan hanfunya. Dia mengembuskan napas kasar. Mengibaskan darah yang menempel pada hanfu itu. Dia terpekik tertahan melihat ada robekan. Padahal hanfu ini milik Yona. Baru dipakai malah rusak, batinnya kesal.


"Pemenang kali ini tuan Jin," ucap wasit terdengar lantang. Suara sorakan terdengar dari kursi penonton. Li Jihyun mengusap dagunya yang berkeringat bercampur darah. Matanya melirik panglima yang menatapnya penuh amarah. Tapi Li Jihyun tak peduli sekarang dia sudah bisa membuktikannya pada Long Jian. Bahwa dia pantas ikut berperang. "Sekarang mari ikut saya kedalam. Anda harus beristirahat dulu sebelum melanjutkan pertandingan lagi," lanjut wasit yang diangguki Li Jihyun.


Long Jian yang sejak tadi memperhatikan pertarungan itu tersenyum tipis. Kasim Bo yang sejak tadi dibelakangnya bergidik ngeri. Padahal pertarungan itu bukan tentang hidup dan mati. Tapi melihat tatapan Long Jian yang tertarik membuat kasim Bo resah. Yang mulia pasti sengaja membiarkan Zhagyi hendak membunuh Jin. Padahal ini cuma pertandingan biasa. Tapi melihat Jin bisa mengatasinya yang mulia jadi semakin tertarik, batin kasim Bo.


"Kasim Bo berikan dia pakaian baru," titah Long Jian yang mengejutkan kasim Bo. Tapi buru buru kepala pria berusia 50 tahun itu mengangguk.


"Baik yang mulia," dia pun segera pergi meninggalkan Long Jian duduk di kursi atas balkon. Matanya menatap Li Jihyun yang berjalan memasuki istana untuk berganti pakaian. Bahkan Li Jihyun juga menatap ke arahnya. Mata mereka bertemu tapi Li Jihyun justru tersenyum mengejek. Bukannya marah Long Jian justru menyeringai lebar.


Jin entah kenapa kamu sama menariknya dengan selirku. Sayang sekali dia tak bisa menyaksikan pertandingan yang seru ini, batin Long Jian menopang dagu. Tubuh Li Jihyun sudah menghilang memasuki pintu istana. Pandangannya kini beralih menatap panglima itu menghampiri wakilnya yang tergeletak di tanah.

__ADS_1


Para prajurit yang berada disana membawa mayatnya pergi. Wajah mereka menunjukkan kesedihan. Tapi berbeda dengan panglima itu yang tampak menaruh dendam pada Li Jihyun. Long Jian tersenyum lebar. Hiburan kali ini lebih menarik dari sebelumnya.


__ADS_2