
Tiba tiba Long Jian menarik pedang dari sarungnya. Dengan cepat dia melayangkan pedang ke arah pria berjubah hitam itu. Pria berjubah itu berkelit dengan cepat. Ayunan pedangnya mengenai udara kosong. Senyuman tersungging di bibirnya. "Anda akan menyesal yang mulia," kata pria itu mengeluarkan sesuatu dari saku dan menjatuhkannya ke tanah. Tepat sebelum Long Jian menyerangnya.
BUM!
Asap mengepul saat ledakan terdengar. Long Jian melompat mundur sambil menutupi hidungnya dengan ujung hanfu. "Sial!" umpatnya berdecak. Kepulan asap berwarna kehitaman itu menghalangi jarak pandang. Membuat pria berjubah hitam itu langsung menghilang. Long Jian mengenggam pedangnya dengan erat saking kesal. Dia tak menduga lawannya lebih licik dari yang dikira. Biasanya siapapun yang berhadapan dengannya tidak akan berani melawan. Terkecuali Li Jihyun.
Dia mengusap dagu teringat sebentar lagi akan bertemu Li Jihyun. Pria itu sudah mempersiapkan sesuatu untuk membalas perbuatan Li Jihyun. Dia memasukkan pedang ke dalam sarung kembali dan berjalan keluar dari halaman belakang istana. Sementara pria berjubah itu mengintip Long Jian dari atas pohon. Dia bersembunyi dibalik dedaunan rimbun. "Sayang sekali aku melewatkan pertunjukan yang seru. Tapi bagaimana jika aku melakukannya dengan cara lain?" gumam pria itu menoleh ke arah paviliun selir yang bangunannya terlihat lebih dekat.
Untuk menuju ke arah paviliun selir biasanya melewati halaman belakang istana utama. Tempat para kaisar dan permaisuri tinggal, termasuk anak-anaknya. Cuma mereka yang boleh tinggal di istana utama.
Sedangkan untuk selir agung tinggal dihalaman depan paviliun selir. Karena posisinya yang lebih tinggi dari para selir. Itu sebabnya mereka diperlakukan istimewa. Apalagi ditambah kaisar saat ini tidak mempunyai permaisuri membuat posisi selir agung semakin tinggi. Itulah alasan Li Jihyun mengejar posisi ini walau harus mempertaruhkan nyawa sekalipun. Dengan wewenang yang tinggi dia bisa menyelamatkan para pendukungnya dari ancaman kaisar serta pendukungnya.
Pria itu tersenyum lagi dan melompat dari dahan ke dahan. Hingga tiba terlebih dulu dipaviliun selir. Matanya bergerak liar memperhatikan sekitar. Hingga dia menangkap sesuatu menarik. Seorang selir yang memakai hanfu cantik dan memikat tengah berjalan mondar mandir dengan gelisah. Wanita cantik dan bertubuh berisi itu menggigit ibu jari. Pria itu memiringkan wajah dan tersenyum semakin lebar. "Ketemu," gumamnya sumringah.
...
__ADS_1
Sesuai perkataannya tadi siang Long Jian datang ke paviliun selir. Sebelumnya, dia sempat singgah di salah satu kamar selir. "Kamu yakin obat ini akan bekerja?" tanya Long Jian menimang botol berisi cairan putih bening. Wanita cantik dengan tubuh berisi bergelayut manja di lengan kekar Long Jian. Hanfu yang dipakainya pun tipis hingga menampilkan lekuk tubuhnya. Tubuhnya terus menempel pada Long Jian. Dia bahkan meraba dada bidang pria itu. Tapi Long Jian tidak menunjukkan kerisihan justru tampak menikmatinya. Dia mengecup pipi wanita itu. Wanita itu tersenyum senang.
"Yang mulia saya jamin obat itu berkhasiat. Tapi apa yang ingin yang mulia lakukan dengan obat itu?" tanya wanita itu penasaran.
"Bukan urusanmu," ketus Long Jian membuat wanita itu terdiam. Dia menepis tubuh wanita itu dengan kasar membuatnya jatuh terpental ke lantai. Ringisan kesakitan terdengar dari mulutnya. Lutut dan sikunya tergores yang mengeluarkan sedikit darah.
"Maafkan saya yang mulia," ucap wanita itu gemetar ketakutan. Long Jian berdecik dan menatap tajam wanita itu. Dia bangkit dari duduk dan mengeluarkan pedang dari sarung. Benda pipih dan tajam itu mengarah tepat dileher selir itu.
Tubuhnya langsung melemas dengan kepala tertunduk. Dia tau jika Long Jian adalah pria kejam dan tidak punya hati nurani. Dia takkan segan membunuh siapapun yang tak disenanginya. Tapi anehnya pria itu hobi mengoleksi banyak wanita untuk mencari kesenangan. Entah itu membunuhnya atau menyiksanya hingga tewas.
Selir lain yang melihat meski ketakutan tapi tetap berusaha menggoda pria itu. Karena itu satu satunya cara agar bertahan hidup dan menjamin masa depan cerah. Istana yang terlihat gemerlap dan indah tersimpan kegelapan dan kebusukan. Cuma orang diistana yang tau seberapa busuknya tempat yang mirip dengan sangkar emas tersebut. Termasuk menduduki singasana yang berlumuran darah.
Long Jian menyeringai. Dia menggores pedangnya pada leher wanita itu. Suara jeritan kesakitan memecah keheningan malam. Long Jian tertawa puas. Darah menetes membasahi lantai. Wanita itu menangis sambil memegangi lehernya yang terluka. Kaki Long Jian terangkat menyentuh dagu wanita itu dan mengangkatnya. Mata mereka pun saling bertemu. Napas wanita itu menderu cepat. Pupil matanya pun bergetar. Air mata terus mengalir dengan cepat.
"Ya-Yang mulia ampuni saya," pinta wanita itu dengan memelas. Berharap Long Jian membiarkannya hidup. Long Jian menyunggingkan senyuman. Membuat bulu kuduk wanita itu meremang. Dia menatap botol obat pada tangan satunya. Lalu atensinya beralih pada wanita itu.
__ADS_1
Wanita itu hendak berdiri dan langsung melarikan diri. Tatapan Long Jian membuatnya nyalinya ciut. Tapi kedua lututnya sudah melemas. Bahkan berdiri saja pun susah. Hanya air mata yang terus mengalir membasahi pipi.
"Selir yang menyimpan obat berbahaya sesuai hukum kekaisaran yang berlaku harus dibunuh," ucapnya dingin.
"Ya-Yang mulia saya bisa .... ARGH!"
Leher wanita itu bergelinding jatuh sebelum mengakhiri kalimatnya. Darah berceceran di lantai. Pedang yang berlumuran darah itu dikibaskan dengan santai.
"Cih!" decak Long Jian saat melihat percikan darah di hanfunya. Padahal sebentar lagi aku akan menemui gadis itu, batin Long Jian mengembuskan napas kasar. Pedangnya dimasukkan kedalam sarung. Dia memperhatikan obat ditangan satunya. Sebuah ide terbesit di otak. Sebelah sudut bibirnya terangkat.
...
Long Jian terus berjalan hingga berhenti tepat didepan pintu paviliun selir. Dibelakangnya ada dayang istana yang membawakan nampan berisi hidangan teh. "Yang mulia kaisar Long Jian sudah tiba," ujar dayang itu dengan suara keras membuat pintu yang tertutup rapat langsung terbuka.
Li Jihyun yang berada diambang pintu membungkuk hormat. "Selamat malam yang mulia kaisar," sapa Li Jihyun sopan. Long Jian melangkah masuk diikuti dayang dibelakangnya. Dia melewati Li Jihyun dengan bersikap cuek.
__ADS_1
Long Jian langsung duduk di kursi yang tersedia dikamar Li Jihyun. Gadis itu dengan perasaan jengkel membalikkan badannya dan menghampiri Long Jian yang sudah duduk terlebih dulu. Dayang yang mengikuti Long Jian pun sudah meracik teh.