Selir Tawanan Kaisar

Selir Tawanan Kaisar
Episode 32


__ADS_3

Jleb!


Satu tusukan pedang telak menembus jantung panglima itu. Suara sorakan penonton seketika terhenti. Mata mereka tak berkedip menyaksikannya.


Mata panglima itu terbelalak. Selain rasa sakit yang tiba tiba menyergap juga terkejut dengan serangan tak terduga. Ekor matanya melirik Li Jihyun dibelakangnya. Tubuh berlumuran darah itu masih berdiri tegak bahkan terkekeh. "Bagaimana rasanya ditusuk dari belakang?" ucapnya menusukkan lebih dalam pedangnya. Membuat panglima itu memuntahkan darah.


Long Jian yang sempat malas kini menatapnya dengan tertarik. Matanya berbinar senang. Kasim Bo yang sejak tadi menonton tercengang melihat Li Jihyun. Apa dia sungguh manusia? batin kasim Bo keheranan sekaligus merinding.


"Kasim Bo bukankah manusia sepertinya lebih menarik? Seberapa tangguh dan hebat dia sampai bertahan sejauh itu," kata Long Jian dengan penuh kekaguman. Matanya tak lepas menatap Li Jihyun.


"Ka...Kamu ..." ucap panglima itu terbata. Napasnya tersendat. Sebelah sudut bibir Li Jihyun terangkat.


"Kenapa? Apa ada pesan terakhir pak tua?" bisik Li Jihyun ditelinga panglima itu. Panglima itu hendak bicara tapi Li Jihyun menendang punggungnya. Membuat panglima itu tak sempat bicara. Tubuhnya pun terjerambab ke tanah. Bahkan pedang yang menancap dipunggungnya pun tercabut paksa. Darah muncrat keluar mengotori hanfu dan wajah Li Jihyun. Dia terkikik geli melihat wajah kesakitan panglima itu. Tangan panglima itu terangkat dengan gemetar. Pandangannya samar menatap Li Jihyun didepan mata. Tapi Li Jihyun melayangkan pedangnya tepat mengarah tangan panglima itu. Suara erangan terdengar membelah kesunyian.


Tangan panglima itu terpotong. Semua orang menahan napas. Tak ada yang bersorak ataupun bersuara. Mata mereka sampai tak berkedip. Li Jihyun tersenyum sumringah. Tapi tersembunyi karena tertutupi rambut yang tergerai panjang. Rambut yang menutupi separuh wajahnya. Dia menatap lawannya yang masih bergerak meski jantungnya sudah ditusuk. Li Jihyun mengarahkan mata pedangnya tepat diatas kepala panglima itu. Lalu dalam sekejap menusuknya hingga tembus. Sepersekian detik panglima itu langsung mengembuskan napas terakhir.

__ADS_1


Wasit yang sejak tadi menonton tersentak. Dia segera menatap ke arah penonton yang membisu. "Pe-Pemenangnya Jin," kata wasit itu dengan tergagap. Tak ada suara sorakan dari penonton. Hanya dalam waktu sekejap prajurit itu kehilangan dua orang berpengaruh dalam pasukan istana.


Li Jihyun menatap ke arah penonton. Matanya menangkap pria renta yang terduduk lemas. Mata mereka saling bertatapan sekilas. Tapi tidak bertahan lama tubuh Li Jihyun terjatuh ke tanah. Matanya terpejam rapat. Darah terus mengalir dari sayatan luka ditubuhnya.


"Bawa dia ke tabib yang terbaik," titah Long Jian yang diangguki kasim Bo. Pria paruh baya itu berlari dengan tergopoh mendatangi arena pertarungan. Begitu juga pria renta yang di kerumunan penonton. Mereka berdua muncul bersamaan. "Biar saya yang membawanya," ucap pria renta itu mengendong tubuh Li Jihyun. Bisa gawat jika gadis itu ketahuan menyamar. Apalagi tertangkap basah oleh kaisar. Tak bisa terbayang hukuman yang diterima Li Jihyun sendiri.


"Tapi menteri Gong, yang mulia kaisar sendiri yang meminta saya membawanya ke tabib istana," ucap kasim Bo yang diangguki dua prajurit dibelakangnya. Entah sejak kapan kedua prajurit itu mengikutinya.


"Tidak apa. Anak ini bisa kutangani sendiri. Katakan pada yang mulia kaisar aku yang akan merawatnya," ucap Gong Jihon bersikukuh.


"Tetap saja menteri Gong ini adalah perintah yang mulia kaisar. Jika anda melanggar akan menerima hukuman darinya," ucap kasim Bo yang digelengkan Gong Jihon.


"Astaga! Sebenarnya apa yang terjadi?" gumam kasim Bo frustasi. Matanya melirik Long Jian yang kesal melihat Gong Jihon membawa Li Jihyun. Giginya bergemulutuk. Pandangannya setajam elang yang siap memburu mangsa.


"Cih! Dasar orangtua merepotkan," umpatnya bangkit dari duduk. Dia segera pergi meninggalkan balkon. Sementara kasim Bo mengaduh tertahan melihat sikap Long Jian.

__ADS_1


Semoga tidak ada pertumpahan darah lagi, harapnya dalam hati. Bisa gawat jika ada pembantaian lagi di istana. Padahal istana sudah cukup tenang selama beberapa pekan belakangan ini.


....


Li Jihyun dibawa dengan cepat oleh Gong Jihon ke kediamannya. Dengan menaiki kereta kuda mereka tiba lebih cepat. Dia juga mengendong tubuh Li Jihyun. Meski tubuhnya yang sudah menua tapi tenaganya masih ada. Dengan tergopoh dia memasuki pintu gerbang kediaman. Pelayan yang tengah sibuk bekerja terkejut melihat kehadiran majikannya. Apalagi dengan seseorang berlumuran darah.


"CEPAT PANGGILKAN TABIB!" teriaknya dengan suara lantang mengejutkan pelayan dirumah itu. Salah satu pelayan itu dengan tergopoh pergi keluar mendatangi rumah tabib. Gong Jihon membawa Li Jihyun ke kamar tamu. Dia meletakkan tubuh Li Jihyun dengan hati hati. Matanya menatap ke ambang pintu. Lebih tepatnya ke arah pelayan yang berkerumun. Mereka terperanjat kaget dan menundukkan pandangan. Mengintip tamu majikan adalah bentuk ketidak sopanan. Mereka bisa dijatuhi hukuman berat karena tindakan kurang ajar. "Cepat ganti pakaian anak ini," titah Gong Jihon yang diangguki patuh oleh pelayan. Satu per satu pelayan memasuki kamar dan membantu Li Jihyun melepaskan hanfunya yang robek dan berlumuran darah.


Baru saja pelayan itu bernapas lega. Tatapan tajam yang terasa menusuk membuat nyali mereka ciut. "Apapun yang kalian lihat jangan sampai bocor keluar. Jika aku dengar ada gosip diluar. Aku akan menghukum berat kalian," ancam Gong Jihon yang diangguki mereka dengan takut.


Setelah itu Gong Jihon keluar kamar. Dia menunggu di ruang tamu dengan cemas. Matanya sesekali menatap ke arah pintu. Pelayan yang disuruh memanggil tabib tak kunjung terlihat. "Kakek, sedang apa disini?" tanya pemuda seumuran Li Jihyun. Pemuda itu duduk di kursi sebelah ayahnya duduk. Kepala pria renta itu menatap ke arahnya. Hela napas terdengar berat.


Dahi pemuda itu mengerut melihat raut wajah ayahnya yang khawatir. "Gong Heng apa kamu kenal Li Jihyun?" tanya Gong Jihon yang diangguki cepat cucunya.


"Tentu saja. Mana mungkin aku tak mengenalnya. Tapi apa yang terjadi sampai kakek sekhawatir ini?" tanya Gong Heng penasaran diiringi suara batuk terdengar. Sekali lagi hela napas terdengar berat.

__ADS_1


"Anak itu terluka parah," ucap Gong Jihon dengan kepala tertunduk. Mata Gong Heng terbelalak kaget. Dia sampai terbatuk batuk mendengarnya.


"Kakek serius? Bagaimana perempuan tangguh itu terluka? Kakek tau kan dia adalah perempuan terkuat dan pintar," ujar Gong Heng tak percaya. Dalam ingatannya gadis itu tak pernah terluka sedikit pun. Bahkan walau dia terluka gadis itu tak pernah menangis maupun mengeluh. Wajahnya sangat santai. Sehingga banyak yang bilang kalau Li Jihyun adalah titisan iblis. Gadis yang tak bisa merasakan sakit walau terluka berulang kali.


__ADS_2