
Yona terkesiap buru buru menutup mulutnya rapat. Kepalanya tertunduk dalam. "Yona sejak kapan kamu menjadi bisu?" tanya Li Jihyun jengkel. Alis matanya menukik tajam. Yona tampak enggan bicara membuat Li Jihyun berang. "Yona!" bentaknya mengejutkan Yona.
Tubuh dayang itu tersentak. Dayang itu gemetaran ketakutan. Nyalinya menciut merasakan aura pembunuh yang menguar dari tubuh Li Jihyun.
"Apa kamu akan terus membisu, Yona?!"
"Ti-Tidak yang mulia selir agung. Sa-Saya tidak berani," jawabnya dengan tergagap.
"Sekarang jawab pertanyaanku! Dimana kaisar?" tanya Li Jihyun dengan nada tinggi. Yona memilin jemari saking gelisah. Dia ingin bicara tapi lidahnya kelu. Firasatnya mengatakan jika dia menjawab pertanyaan Li Jihyun akan terjadi sesuatu yang buruk. Gadis itu selalu merencanakan sesuatu diluar nalar dan yang paling berbahaya dibanding itu adalah kenekatannya dalam melakukan sesuatu. Dia tak peduli meski itu sesuatu yang berbahaya. "Yona! Apa aku membayarmu cuma melihatmu diam terus? Jawab pertanyaanku sekarang! Atau kamu kupecat!" tukas Li Jihyun dengan amarah membuncah. Bahunya naik turun dan napas menderu kencang.
Tok! Tok! Tok!
Kepala keduanya mengarah ke pintu. "Yang mulia kaisar memasuki kamar yang mulia selir agung," ucap Kasim Bo dari balik pintu. Wajah Yona langsung memucat. Kepalanya kembali tertunduk lebih dalam. Sementara Li Jihyun tersenyum sinis. Orang yang dia cari justru mendatanginya ke kamar.
Bukankah ini sebuah keberuntungan untuk balas dendam? pikir Li Jihyun dengan semangat berkobar. Suara langkah kaki terdengar memasuki kamar.
Long Jian menatap Li Jihyun dingin. Namun gadis itu tak menunjukkan rasa takut. Justru menatapnya dengan penuh keberanian. Dia bahkan tak menundukkan kepala meski Long Jian berdiri tepat dihadapannya.
"Yang mulia selir agung harap jaga pandangan anda. Beliau adalah kaisar yang paling dihormati di seluruh kekaisaran Qing Long," ujar Kasim Bo memperingatkan Li Jihyun. Gadis itu melihat sekilas Kasim Bo dengan tatapan tajam. Kasim Bo langsung menundukkan pandangan. Bulu kuduknya meremang. Dia menelan ludah susah payah.
Li Jihyun beralih menatap Long Jian. Tatapannya sangat tajam seperti elang yang siap memburu mangsa. Long Jian tersenyum mengejek membuat mata Li Jihyun terbelalak. Dia hendak bangkit dari kasur dan menampar wajah Long Jian tapi sekujur tubuhnya tidak bisa bergerak leluasa. Meski rasa sakitnya sudah menghilang.
__ADS_1
Long Jian berjalan mendekati ranjang Li Jihyun. Gadis itu terus memperhatikannya tanpa bersuara sedikit pun. Dia sudah tau biang kerok tubuhnya menjadi dipenuhi luka adalah ulah Long Jian. Juga tentang ingatan dimasa lalunya yang muncul dalam mimpi.
Long Jian berhenti tepat didepan hadapan Li Jihyun. Gadis itu memasang wajah galak pada Long Jian. Long Jian mencodongkan wajahnya membuat deru napas hangatnya menerpa kulit Li Jihyun. Gadis itu tampak terkejut. Dia hendak mendorong tubuh Long Jian. Tapi sebuah suara ditelinga mengurungkan gerakannya. "Bagaimana Li Jihyun? Pelacur kecilku? Apa kamu menikmatinya?" bisiknya membuat tubuh gadis itu membeku.
Long Jian menjauhkan wajahnya dari Li Jihyun. Dia memperhatikan ekspresi Li Jihyun yang berubah tegang.
Plak!
Yona berseru kaget melihat pipi Li Jihyun merah. "Ya-Yang mulia selir agung," panggil Yona dengan suara tercekat saat melihat darah keluar dari hidungnya. Long Jian membalikkan badannya dan melangkah pergi. Tetesan darah jatuh membasahi selimut putihnya.
Yona segera mendekatinya dan mengusap darah dihidung Li Jihyun. Matanya berkaca kaca menatap Li Jihyun yang tak bergerak. "Yang mulia anda baik baik saja?" tanya Yona lagi dengan suara bergetar. Li Jihyun masih diam. Otaknya kembali teringat kehidupan di masa lalunya. Kehidupan yang penuh kegelapan dan suram bagi perempuan sepertinya. Dia memejamkan mata rapat dan mengabaikan suara Yona yang panik.
......................
Plak!
Buru buru pria itu memakai kemeja yang jatuh berserakan dilantai. Dia berjalan dengan tergesa gesa keluar dari kamar. Sementara gadis yang masih terduduk di kasur memandangi cahaya matahari yang menerobos dari celah jendela. Hela napas terdengar.
"Li Jihyun! Kamu didalam?" seru seseorang di balik pintu yang mengalihkan atensi Li Jihyun. Dia berdehem pelan. Lalu suara derit pintu terdengar. "Aku masuk ya," ujarnya lagi memasuki kamar. Namun langkahnya terhenti saat melihat keadaan kamar kacau balau. Pakaian luar maupun dalam berserakan dilantai. Dia termangu saat menatap Li Jihyun yang hanya tertutupi selimut.
"Ada apa kamu kemari?" tanya Li Jihyun dingin.
__ADS_1
"Eh? Aku tadi disuruh memanggilmu keluar. Katanya ada tugas terbaru," ujarnya sedikit terkesiap menatap Li Jihyun yang separuh tubuhnya tertutupi selimut. Lekuk tubuhnya masih terlihat dimatanya. Meski cahaya dikamarnya remang remang. Dia menelan ludah susah payah. Sebagai laki laki normal melihat lekuk tubuh perenpuan yang sedikit terbuka membuatnya tergoda.
"Keluar!" usir Li Jihyun mengejutkannya. Namun buru buru pemuda berusia 20 tahun itu menganggukkan kepala dan melangkah pergi. Dia tak mau berurusan lebih lama lagi dengan Li Jihyun.
"Apa kamu menikmatinya pelacur kecilku?" pertanyaan itu kembali tergiang ditelinganya. Dia berdecak dan segera turun dari kasur. Memunguti pakaian yang berserakan dilantai dan membawanya ke kamar mandi. Sebelumnya dia mandi terlebih dulu.
Guyuran air shower membasahi tubuhnya. Ada banyak bekas kemerahan di sekujur tubuhnya. Dia menatap pantulan dirinya dengan wajah jijik. Tinju Li Jihyun melayang telak mengenai cermin.
Prang!
Serpihan kaca berjatuhan di lantai. Darah mengalir deras ke lantai. Gadis itu mencebikkan bibir kasar. Wajah pria itu kembali muncul dikepalanya. Pria berwajah tampan dan memiliki suara rendah yang kerap datang menikmati tubuhnya. Lalu setelah dia puas, tubuhnya akan digilir kepada pria lain yang merupakan anggota pembunuh bayaran. Mereka bergantian mencumbui tubuh Li Jihyun sampai gadis itu lemah tak berdaya.
"Aku pasti akan membunuhmu," umpat Li Jihyun menggigit bibir bawah. Dia mengosok tubuhnya dengan cepat dan kuat. Agar bekas kemerahan yang menempel pada tubuhnya bisa menghilang. Tapi seberapa keras dia menggosoknya bekas itu tak kunjung hilang.
......................
"Yang mulia apakah anda barusan mendatangi selir agung?" tanya Zhang Liu penasaran. Long Jian menatapnya tajam membuat pria berkacamata tebal itu mengatupkan mulutnya rapat. Tatapan Long Jian yang dingin membuat siapapun takut.
"Bukan urusanmu," ketus Long Jian. Pandangannya beralih pada menteri pertahanan Gong Jihon yang datang memberikan laporan terkait masalah wilayah perbatasan. "Apa kamu yang menulis laporan ini?" tanya Long Jian menaikkan sebelah alis matanya. Kertas ditangannya diempaskan ke meja. Gong Jihon sedikit terkejut. Janggut putihnya sampai bergoyang pelan.
"I-Iya yang mulia kaisar," sahut Gong Jihon dengan tergagap. Long Jian tersenyum tipis membuat suasana berubah mencekam.
__ADS_1