Selir Tawanan Kaisar

Selir Tawanan Kaisar
Episode 58


__ADS_3

"Sebenarnya ada banyak hal yang ingin saya ceritakan pada anda," ucap Li Jihyun merendahkan nada suaranya. Alis mata Long Jian naik sebelah.


Apa ini trik baru wanita ini? pikir Long Jian menatap lekat Li Jihyun. Tapi gadis itu tersenyum lebar. "Baiklah. Ceritakan padaku semua yang terjadi selama aku tak sadarkan diri." Li Jihyun mulai menceritakan semua kejadian tanpa ada kebohongan sedikit pun. Bahkan keluarga Xu yang memintanya datang ke kediaman mereka pun tak urung diceritakan. Long Jian mangut mangut. "Jadi selama ini Zhang Liu yang membantumu?" tanya Long Jian.


"Iya yang mulia."


"Tsk! Kamu banyak berubah Li Jihyun. Tidak seperti biasanya," ejek Long Jian menimbulkan percikan api kecil di kepala Li Jihyun. Tapi gadis itu menahan amarah yang siap meledak kapanpun. Dia harus bersikap semanis dan sebaik mungkin didepan Long Jian. Hanya ini satu cara tersisa yang bisa dia lakukan. Selagi Zhi Shen masih berkeliaran di sekitarnya pasti sulit baginya untuk membunuh Long Jian. Karena pria itu pasti takkan membiarkan Long Jian mati begitu saja.


"Mungkin anda merasa aneh dengan perubahan sifat saya. Tapi selama anda jatuh sakit. Saya memutuskan intropeksi diri," ucap Li Jihyun menarik napas. "Saya rasa tak ada gunanya melawan anda. Anda adalah orang nomor satu di kekaisaran ini. Saya yang salah sudah membuat masalah dengan anda," lanjut Li Jihyun.


Long Jian tersenyum tipis. Tangannya yang penuh bekas luka meraih rambut Li Jihyun. Rambutnya terjuntai sedikit. Li Jihyun sedikit kaget saat tangan itu memegang rambut itu. Lalu mengecupnya membuat Li Jihyun bergidik. Tapi saat sorot mata pria itu ke arahnya buru buru Li Jihyun mengulaskan senyuman.


"Kamu pikir aku tidak tau trik yang kamu mainkan?" kata Long Jian dingin. Matanya menatap tajam Li Jihyun. Bukannya takut gadis itu malah tertawa pelan membuat Long Jian keheranan.


"Saya rasa anda salah paham yang mulia," ucap Li Jihyun santai. "Anda tau kan saya tidak punya kekuatan apapun sekarang. Saya mengaku kalah," lanjut Li Jihyun.


Long Jian melepaskan pegangannya. Dia menatap Li Jihyun tak percaya. "Kamu pikir aku akan percaya?" tanya Long Jian penuh penekanan. Gadis itu mengedikkan bahu santai. Lalu berdiri dari duduknya. Tangannya masih memegang mangkuk kosong.

__ADS_1


"Semua itu tergantung anda yang mulia. Mau percaya atau tidak itu hak anda," ujar Li Jihyun membuat Long Jian terperangah. "Saya permisi dulu yang mulia. Selamat menikmati waktu istirahat anda," pamit Li Jihyun membungkuk hormat lalu berbalik. Gadis itu melangkah pergi meninggalkan Long Jian dikamarnya.


Begitu langkah Li Jihyun tak terdengar. Dia mengacak rambutnya frustasi. Bangsat! Gadis itu pasti merencanakan sesuatu, rutuk Long Jian dalam hati. Wajahnya tampak kesal. Dia mengertakkan gigi gerahamnya lalu melemparkan selimut yang dipakainya ke lantai. Pria itu beranjak duduk meski susah payah. Setelah minum obat tubuhnya tidak selemas sebelumnya. Tapi dia masih butuh waktu untuk istirahat sampai tenaganya pulih seperti sedia kala. Kecurigaannya pada Li Jihyun semakin bulat. Bahwa gadis itu yang meracuninya sampai tidak sadarkan diri. Bahkan hampir meninggal dunia.


"Yang mulia apa anda baik baik saja?" tanya kasim Bo dengan cemas. Atensi Long Jian beralih menatap kasim Bo membuat kepala kasim Bo langsung tertunduk.


"Bukan urusanmu!" ketus Long Jian menatap sinis kasim Bo.


"Ma-Maafkan saya yang mulia," ucap kasim Bo dengan suara bergetar. Tapi disahut Long Jian decakan dari bibirnya.


"Baik yang mulia," jawabnya patuh. Pria paruh baya itu berbalik dan berlari tergopoh meninggalkan Long Jian sendirian di kasur. Long Jian mengembuskan napas kasar. Matanya menatap pemandangan diluar jendela.


"Apapun rencanamu Li Jihyun. Aku pasti akan menggagalkannya," gumam Long Jian lirih. Sangat lirih sampai tak terdengar. Tapi tidak bagi seseorang yang tengah bersembunyi dibalik dedauanan rimbunnya pepohonan.


Seseorang berjubah hitam itu tak berhenti tersenyum. "Sepertinya akan ada pertunjukan menarik," gumamnya terkekeh pelan. "Jadi begitu caramu bermain Li Jihyun. Semakin dilihat kamu semakin menarik," lanjutnya masih memperhatikan Long Jian yang uring uringan.


...

__ADS_1


Malam sudah menyapa kekaisaran. Ditengah gelapnya langit malam, istana tampak terang benderang. Begitu juga rumah rakyat yang tak jauh dari istana. Ada banyak lentera yang terpasang. Mata Li Jihyun mengerjap memperhatikan kesunyian di halaman paviliun selir.


Para selir sudah berada di kamar masing masing. Setelah lelah melakukan aktifitas seharian. Li Jihyun menopang dagunya di bingkai jendela. Angin bertiup sepoi sepoi memainkan rambut Li Jihyun. Dinginnya angin malam tidak membuat gadis itu menggigil. Gadis itu menghela napas pelan. Pikirannya sejak tadi menerawang jauh. Memikirkan rencana berikutnya untuk hari esok sudah membuatnya pusing.


Ditambah posisinya yang terancam. Membuat gadis itu mau tidak mau harus memutar otaknya guna mencari jalan keluar.


Tap! Tap! Tap!


Suara langkah kaki mengalihkan atensi Li Jihyun. Pandangan gadis itu menurun terarah ke halaman paviliun selir. Matanya menyipit memastikan penglihatannya. Seseorang berjubah hitam tengah berjalan mengendap endap. Kepalanya tampak bergerak kesana kemari. Seolah takut ketahuan oleh orang lain.


Melihat itu menimbulkan rasa penasaran di hati Li Jihyun. Gadis itu menyunggingkan senyuman. Dia mengambil pita lalu mengikat rambutnya. Tanpa pikir panjang dia melompat turun dari jendela kamar. Meski berada dilantai lima bukan hal sulit bagi Li Jihyun turun. Gadis itu tidak punya rasa takut pada apapun.


Perlahan Li Jihyun mengikuti langkah orang itu. Sesekali kepala orang itu tertoleh ke belakang membuat Li Jihyun buru buru bersembunyi. Dia tak mau ketahuan mengikuti seseorang yang tak dikenalnya. Apa dia simpanan salah satu selir di paviliun. Jika benar ini pasti berita menarik, batin Li Jihyun mengintip orang itu. Memastikan dia tak menoleh lagi ke belakang.


Melihat orang itu kembali melanjutkan langkahnya. Li Jihyun mengikuti langkahnya dengan hati hati. Sampai keluar dari gerbang belakang. Gerbang itu tampak kosong melompong tanpa dijaga siapapun. Li Jihyun berdecik pelan. Kesal melihat prajurit yang seharusnya menjaga gerbang belakang justru tidak ada ditempat. Aku harus menegur mereka lain kali, batin Li Jihyun melirik pos jaga yang kosong.


Langit malam semakin gelap. Gumpalan awan hitam menutupi bulan yang tengah bersinar. Tapi tidak menganggu penglihatan Li Jihyun. Langkah orang itu berhenti membuat langkah Li Jihyun ikut terhenti. Buru buru dia bersembunyi di balik tembok. Dia mendekatkan telinganya, menajamkan indera pendengarannya.

__ADS_1


__ADS_2