
Li Jihyun melenggang pergi menuju kamarnya sendirian. Dayang yang berpapasan dengannya membungkuk hormat. Mereka tampak ketakutan saat berhadapan dengan Li Jihyun. Tidak sia sia juga tadi aku memamerkan kekuasaan selir agung, batin Li Jihyun tersenyum bangga. Gadis itu terus berjalan hingga tiba didepan pintu kamarnya. Hela napas terdengar.
Pandangannya berubah sayu sambil mengusap pintu. Ada perasaan aneh menyelimuti hatinya. Yang tidak bisa diungkapkan dengan perkataan. Ada perasaan sesak yang dirasakan. Hela napas terdengar lagi. Dia menggeser pintu dan memasuki kamarnya. Tekadnya semakin bulat membalaskan dendam orang terdekatnya.
Sementara itu ditempat lain Zhang Liu mendatangi rumah Gong Jihon. Sepanjang perjalanan wajah pria itu tampak kusut. Dia masih tak terima pimpinan faksi barat tidak bertindak membela Li Jihyun. Bukankah selama ini mereka menyokong Li Jihyun? itulah yang dipikir oleh Zhang Liu.
Kereta kuda yang dinaiki Zhang Liu terhenti. Pria itu segera turun dan berdiri tepat didepan pintu rumah Gong Jihon. Ada dua orang penjaga yang berdiri disana. Kedua orang itu dengan tergopoh menghampiri Zhang Liu. "Kami menyapa tuan perdana menteri Zhang Liu," sapa mereka serempak sambil membungkuk hormat.
"Apa tuan Gong Jihon ada dirumah?" tanyanya menatap mereka bergantian.
"Tuan Gong Jihon sedang tidak dirumah. Barusan tuan pergi membawa tuan muda berobat," jawab salah satu kedua orang itu. Zhang Liu berdecik. Dia mengusap wajah kasar.
"Sial!" umpatnya. "Jika tuan Gong sudah pulang kirimkan kabar padaku. Ada sesuatu penting yang harus dibicarakan," ujarnya yang diangguki kedua orang itu serempak. Dia menatap sejenak pagar tinggi rumah itu sebelum kembali ke istana. Dengan menaiki kereta kuda, Zhang Liu tiba diistana lebih cepat.
Wajahnya semakin kusut. Hatinya diselimuti kekesalan. Dia berjalan menuju ruangan kaisar. Dengan langkah melebar dia pun tiba didepan pintu ruangan itu. Ada dua orang prajurit yang tengah berjaga. "Tuan Zhang Liu ada keperluan apa anda datang kemari?" tanya salah satu prajurit setelah menyapanya sopan. Zhang Liu mengembuskan napas.
"Apa yang mulia kaisar ada?" tanya Zhang Liu.
__ADS_1
"Maaf tuan Zhang Liu barusan yang mulia pergi ke kediaman keluarga Xu," jawab prajurit itu membuat Zhang Liu keheranan.
"Ada urusan apa yang mulia kesana? Bukankah keluarga Xu menolak kunjungan yang mulia kaisar?"
"Untuk masalah itu saya kurang tau tuan Zhang." Zhang Liu mengembuskan napas kasar. Hari ini tak ada satu pun situasi yang berpihak padanya. Terpaksa Zhang Liu kembali ke rumahnya dengan tangan kosong. Padahal dia harus segera membebaskan Li Jihyun dari penjara.
"Kalian sudah dengar?" celetuk salah satu dayang yang bergerombol. Ada lima dayang yang tengah berkerumun di sudut lorong istana. Zhang Liu yang sedang lewat pun berhenti. Dia bersembunyi dibalik tembok sambil memasang indra pendengarannya dengan tajam. Keempat dayang lain menatapnya dengan penasaran. Mereka saling merapat. "Katanya yang mulia selir agung dibebaskan dari hukuman yang mulia kaisar," lanjutnya mengagetkan semua orang disana. Termasuk salah satunya Zhang Liu. Keempat orang itu berseru heboh. Tapi buru buru dayang yang bercerita itu meletakkan jari telunjuknya dibibir. Suara desisan terdengar pelan membuat keempat orang itu serempak menutup mulut. "Kalian ini kenapa berisik? Kalau ketahuan kepala dayang kita bisa kena marah," ujarnya kesal. Keempat orang itu mangut mangut.
"Tapi bagaimana caranya yang mulia selir agung bisa bebas? Bukankah biasanya yang mulia kaisar tidak semudah itu memaafkan?" tanya salah satunya penasaran. Zhang Liu merapatkan lebih dekat telinganya di tembok.
"Kalian mendekatlah," ucapnya membuat keempat orang itu semakin dekat. Bahkan merapat. "Dari rumor yang kudengar selir Hai juga terlibat. Dia yang memberikan tawaran pada yang mulia kaisar agar yang mulia selir agung bisa bebas," lanjutnya.
Jadi selir Hai yang membantu membebaskan yang mulia selir agung? Sebenarnya kedua orang itu punya hubungan apa? pikir Zhang Liu mengusap dagu.
"Terus dari yang kudengar imbalan yang diberikan selir Hai termasuk besar," ujar dayang itu menaik turunkan alis matanya membuat keempat dayang lain semakin penasaran. Begitu juga Zhang Liu yang masih bersembunyi dibalik tembok. Telinganya dipasang setajam mungkin menguping obrolan kelima dayang itu. "Selir Hai ..."
Pluk!
__ADS_1
"Aduh," pekik Zhang Liu kesakitan membuat kelima dayang itu langsung bungkam. Pria berkacamata itu mengusap kepalanya yang terasa sakit terkena lemparan batu kerikil. Matanya mengedarkam sekitar tapi tidak terlihat siapapun. Hanya pepohonan yang bergoyang ditiup angin. Sebagian lorong istana dibangun terbuka. Tak ada tembok yang menghalangi. Ditepi lorong ini ditanam pepohonan dan bunga. Seperti lorong yang dilewati Zhang Liu. Dia meringis kesakitan.
"Kalian dengar suara tadi?" tanya salah satu dayang dengan wajah memucat. Mereka saling tatap dan mengangguk serempak.
"Ki-Kita sebaiknya pergi dari sini. Aku tak mau sampai ketahuan kepala dayang," ucapnya bergegas pergi diikuti oleh keempat temannya. Kepala Zhang Liu menyembul dari balik tembok. Dia berdecak sebal saat tak melihat kelima dayang itu disana.
"Sial!" umpatnya masih mengusap kepalanya yang sakit. Dia menatap sekali lagi ke kiri dan kanan. Tapi tetap saja tidak terlihat apapun. Dia mendengus sebal dan kembali melanjutkan perjalanan.
"Li Jihyun kali ini banyak orang yang peduli padamu," gumam seseorang diatas dahan pohon. Dia menyeringai lebar. "Aku semakin tak sabar ingin bertemu denganmu," lanjutnya. Dia melompat pergi dari dahan ke dahan lain. Kemudian menghilang tanpa jejak.
Jantung Li Jihyun berdetak cepat. Dia terbangun dengan napas tak karuan. Dipijatnya pelipis yang terasa nyeri. Peluh mengucur membasahi dahi. "Sepertinya aku tertidur," gumamnya saat melihat kamarnya yang remang. Dia mengembuskan napas kasar. "Yona! Yona! Yo ..." gadis itu seketika berhenti berteriak. Dia terdiam sambil menghela napas berat. Dia kan sudah pergi, batin Li Jihyun lesu. "Lian!" panggil Li Jihyun.
"Saya disini yang mulia selir agung," ucap dayang yang dipanggil Lian. Gadis itu masih duduk dikursi menatap Lian.
"Bereskan kamarku," ujarnya yang diangguki Lian. Lian pun bergerak dengan cekatan membereskan kamar Li Jihyun. Dari mulai menutup jendela sampai menyalakan lilin dikamar.
"Apa anda butuh makan malam sekarang?" tanya Lian sopan yang disahut deheman Li Jihyun. "Baiklah. Mohon ditunggu sebentar yang mulia selir agung," pamit Lian pergi meninggalkan kamar Li Jihyun.
__ADS_1
Li Jihyun menyandarkan punggungnya di kursi. Pikirannya menerawang jauh. Kenapa aku selemah ini? Padahal dulu aku pembunuh bayaran yang hebat, batinnya. Masih segar diingatannya saat dia berhasil membunuh banyak orang dengan kemampuannya. Bahkan namanya pun disegani orang. Tak ada yang berani meremehkan Li Jihyun. Mengingat itu membuat Li Jihyun tersenyum tipis. Dibanding dengan kehidupannya sekarang kemampuannya jauh berkurang drastis. Meski ada sedikit yang bisa digunakan.