
Li Jihyun menatap tajam Long Jian. Dia mendesis marah. "Lepaskan mereka yang mulia kaisar," pinta Li Jihyun. Alis mata Long Jian terangkat sebelah. Dia tersenyum miring. Jemarinya dijentikkan diudara.
Buk!
Dua orang pria berbaju prajurit menarik seorang wanita. Lalu wanita itu didorong dan terjatuh tepat didekatnya. "Yang mulia selir agung?" gumamnya lirih membuat mata Li Jihyun melirik ke arahnya. Wajah Li Jihyun memucat saat menatapnya.
Yona? Kenapa dia ada disini? batin Li Jihyun terkejut. Sebelah sudut bibir Long Jian terangkat. Dia memutar paksa Li Jihyun tepat mengarah Yona. Mereka saling bertatapan dalam diam.
"Apa kamu mengenalnya?" bisik Long Jian ditelinga Li Jihyun. Gadis itu termangu melihat keadaan Yona yang berantakan. Rambut yang kusut, pakaian yang hampir robek dan pipinya lebam. Dayang itu tepat terduduk dihadapab Li Jihyun. Sungguh pemandangan memprihatinkan. Dia mengatupkan rahang kuat tak dipedulikannya darah yang keluar dari mulutnya.
"Lepaskan mereka! Mereka tak ada hubungannya dengan masalah kita," kata Li Jihyun tegas.
"Hm, baiklah." Dia melepaskan pegangan dari rahang Li Jihyun dengan kasar. Gadis itu segera beringsut mendekati Gong Jihon terlebih dulu.
"Kalian berdua berdirilah," pintanya lembut sambil menarik tangan keduanya. Tapi keduanya masih ragu dan saling lirik. Lalu menganggukkan kepala. Keduanya pun mengangkat kepala yang terus tertunduk dilantai yang dingin. Sementara Long Jian juga bangkit dari duduk dan pergi. Li Jihyun tidak memperhatikan kepergian Long Jian. Dia fokus melihat keadaan kedua pria bermarga Gong itu. Tapi tidak ada terluka maupun lecet. Dia bernapas lega meski suara batuk Gong Heng terdengar. Baru saja kepala Li Jihyun menoleh ke arah Yona.
Tubuh Li Jihyun tiba tiba membeku melihat kepala Yona bergelinding. Tubuhnya pun terjatuh ke lantai. Dari bekas sayatan pedang mencucur darah yang banyak. Membanjiri lantai yang mereka pijak. Matanya nanar dengan bibir kelu.
Long Jian mengusap bercak darah di pipinya lalu menjilatnya. Hanfu yang dipakainya terciprat darah. Makan siang yang seharusnya penuh harmonis berubah menjadi suram. Bahkan kasim Bo dan Zhang Liu terdiam dengan kepala tertunduk. Meskipun sering melihat Long Jian membunuh didepan mata tapi tetap saja itu pemandangan yang menakutkan.
__ADS_1
"Yo-Yona," panggil Li Jihyun dengan bibir bergetar. Dia merangkak ke arah tubuh Yona tergeletak. Deru napasnya berpacu cepat. Jantungnya berdegup kencang. Semua orang menatap dalam diam. Tatapan iba tampak jelas dimata. Tapi tak ada yang berani bersuara didepan Long Jian.
Maafkan aku Li Jihyun. Seharusnya aku tidak menyuruh pelayanku membawa Yona, batin Gong Jihon dengan rasa bersalah. Dia memalingkan wajah tak berani menatap Li Jihyun. Gadis itu masih diam menatap tubuh Yona yang terpisah. Tangannya meraih kepala Yona dan memeluknya erat. Tak dipedulikannya darah yang mengotori hanfu.
"Yona maafkan aku. Maaf. Maaf. Maaf," ucapnya dengan suara bergetar. "Maafkan aku Yona," lanjutnya sambil membekap kepala Yona.
Long Jian mendekatinya dan mengacungkan pedang ke arahnya. Tapi Li Jihyun tak peduli dan masih memeluk kepala Yona. Pandangannya pun tertunduk. Long Jian berdecak sebal.
Semua orang yang melihat menahan napas. Tak cukup menghabisi dayang pribadinya kini dia berencana membunuh Li Jihyun. Orang orang didera ketakutan. Nyawa gadis itu diujung tanduk sekarang.
"Sudah cukup kan?" tanya Li Jihyun mengangkat kepalanya. Gong Jihon yang hendak buka mulut pun seketika bungkam. Suara Li Jihyun yang bergetar tapi terdengar tegas. Matanya berkilat penuh amarah.
"Permulaan?" ulang Li Jihyun memegang bilah pedang itu erat. Membuat tangannya tergores dan mengeluarkan darah. Tetesan darah pun terjatuh ke lantai menyatu dengan genangan darah Yona.
Alis mata Long Jian terangkat sedikit terkejut. Gadis itu berani memegang pedangnya dengan tangan kosong. Bahkan luka ditangannya pun diabaikan. Gadis itu tidak menunjukkan sekalipun rasa sakit. Membuat Long Jian tersenyum sumringah. Dia mendorong pedangnya lebih kuat membuat pegangan Li Jihyun semakin mengerat.
Darah semakin banyak keluar. Kedua orang itu saling bertatapan dengan tajam. "Yang mulia kaisar aku takkan memaafkan perbuatanmu kali ini," ucap Li Jihyun dengan gigi bergemulutuk. Matanya melotot.
Long Jian tertawa pelan dan menarik pedang paksa dari genggaman Li Jihyun. Membuat goresan ditangan gadis itu kian melebar. Tapi Long Jian tak peduli dan berbalik. "Kita pergi sekarang," ujarnya dingin lalu melangkah pergi.
__ADS_1
Kasim Bo dan Zhang Liu bergerak cepat meninggalkan kediaman Gong. Mereka tidak mau terlibat masalah lagi. Sementara Long Jian tersenyum tipis. Dia sudah menaiki kereta kuda terlebih dulu. Tangannya merogoh saku hanfu dan mengeluarkan gumpalan kertas. "Zhang Liu," ujar Long Jian sebelum kereta kuda berangkat. Zhang Liu yang hendak menaiki kuda pun urung. Dia mendekati kereta kuda tempat Long Jian berada. "Selidiki siapa pengirim surat ini," titahnya mengulurkan gumpalan kertas dari jendela. Zhang Liu mengangguk patuh dan menerima kertas itu.
"Baik yang mulia," sahutnya memasukkan gumpalan kertas itu disaku hanfunya.
"Sekarang kita berangkat," ujar Long Jian menutup tirai kereta kuda. Kereta pun langsung berangkat membelah jalanan kota. Zhang Liu dan prajurit istana mengikuti dari belakang.
Kenapa yang mulia menyuruhku menyelidiki surat ini? Apa ada hubungannya dengan masalah selir agung? batin Zhang Liu penasaran. Sebaiknya kuselidiki setelah sampai di istana, batinnya mengeratkan pegangan pelana.
...
"Maafkan saya yang mulia selir agung," pinta Gong Jihon bersujud. Tapi gadis itu diam dan tak bergeming. Dia masih memeluk kepala Yona. Gadis itu terpukul menyaksikan kematian dayang yang dianggap sebagai saudaranya sendiri. Lagi dan lagi dia ditinggalkan oleh orang yang dicintainya. Perasaan frustasi membuatnya termenung.
"Paman apakah aku tak pantas merasakan cinta?" gumamnya yang terdengar oleh Gong Jihon dan Gong Heng. Suara batuk pemuda itu mengalihkan atensi Li Jihyun.
Mata mereka saling bertatapan. Meski tak ada air mata yang keluar tapi tatapan sayu gadis itu membuat siapapun bisa merasakan perasaan pilu. Sejak dia dilahirkan ibunya meninggal dunia. Lalu saat usianya 17 tahun keluarganya tewas di medan perang. Bahkan orang disekitarnya pun habis dibantai kaisar baru. Hanya ada satu dua orang yang bertahan dan membentuk faksi barat. Dia pun menjadi tawanan kaisar akibat kekalahan perang sekaligus jaminan rakyat dan sisa bangsawan di kekaisaran.
Gong Heng menghela napas berat. Tekanan yang dialami Li Jihyun lebih berat dari yang dikira. Dia harus bertahan hidup sendirian di istana yang dingin dan suram. Apalagi setelah kematian dayang pribadinya. Pasti itu bukanlah sesuatu yang mudah untuk dilewati. Gong Heng mengerti perasaan yang dialami Li Jihyun.
"Selir agung semua orang menyayangi anda. Anda tidak boleh terus terpuruk. Lepaskan dia. Dia sudah pergi yang mulia. Anda tidak bisa terus menahannya seperti ini," ucap Gong Heng lembut diiringi suara batuk. Li Jihyun beralih menatap kepala Yona dipangkuannya.
__ADS_1