Selir Tawanan Kaisar

Selir Tawanan Kaisar
Episode 30


__ADS_3

Pertarungan kembali dilanjutkan. Suara sorakan penonton semakin riuh mengelukan masing masing pihak. Kali ini lawan Li Jihyun adalah panglima istana. Pria paruh baya itu menatap dingin Li Jihyun. "Hei anak muda!" panggil panglima itu dengan nada tinggi. Kepala Li Jihyun tertoleh ke arahnya. Sejak tadi pandangannya tak lepas menatap panglima itu. Selain ukuran tubuh yang lebih besar darinya. Juga kilatan kebencian yang berkilat dimatanya. Tapi, Li Jihyun tak takut sama sekali. Justru tersenyum lebar memancing amarah dari panglima itu. "Siapa namamu?" tanya pria itu lagi mengacungkan pedang ke arahnya.


"Jin," jawab Li Jihyun singkat.


"Jin hari ini kita akan bertarung hidup dan mati. Siapapun yang bisa bertahan lebih dulu dia pemenangnya," tantang panglima yang diangguki Li Jihyun.


"Baiklah panglima. Aku terima tantanganmu. Jadi diantara kita siapa kira kira yang akan hidup?" tanya Li Jihyun menyeringai. Dia sudah memasang kuda kuda sambil memegang erat pedang. Begitu juga panglima yang juga bersiap. Dia takkan memberikan kesempatan Li Jihyun menyerangnya. Dia harus menang dan membalaskan dendam wakilnya.


Tekadnya membunuh Li Jihyun sangat kuat. "Hmph! Kamu pikir aku akan mengalah pada anak kecil sepertimu? Kamu salah besar, nak. Justru aku akan membuatmu jatuh ke neraka," ujar panglima melesat maju terlebih dulu. Gerakannya yang sangat cepat membuat Li Jihyun tak bisa melihat jelas bayangannya. Tiba tiba panglima itu sudah muncul tepat dihadapannya.


Li Jihyun menelan ludah. Matanya terbelalak kaget menatap panglima didepan. Pedang ditangan panglima bergerak cepat menyabet dada Li Jihyun. Sabetan itu berhasil merobek bajunya membuat Li Jihyun terpekik kaget. Pedang ditangan panglima bergerak lagi mengincar robekan di pakaiannya. Li Jihyun melompat mundur.


Jantungnya berpacu cepat dan napas menderu cepat. Belum sempat hilang rasa kagetnya pedang panglima itu sekali lagi menyerangnya. Kali ini melukai lengannya hingga darah merembes keluar. Long Jian yang sejak tadi menyaksikan hampir berdiri. Pasalnya, sejak pertarungan berlangsung Li Jihyun tak menunjukkan celah yang bisa membuatnya diserang. Tapi begitu panglima itu menjadi lawannya membuat Li Jihyun kelabakan.


Panglima itu mengatupkan rahang. Merangsek maju lagi dengan pedang ditangan. Setiap kali Li Jihyun menghindari serangannya, panglima itu semakin cepat mendekat dan menyerangnya. Li Jihyun juga menderita banyak luka ditubuh. Sejak tadi sabetan pedang itu kerap melukainya. Bahkan dia tak punya kesempatan menyerang.

__ADS_1


Panglima itu seolah tak kehabisan stamina melawannya. Kali ini posisi lawan diatas Li Jihyun. Li Jihyun meski tak merasakan sakit pada luka ditubuhnya. Tetap saja gadis itu kelelahan. Staminanya terkuras habis. Lawan yang dihadapi berbeda dengan lawan sebelumnya. Tingkat perbedaan kekuatan tampak sangat jelas. Posisi Li Jihyun saat ini terjepit.


"Menyerahlah anak muda," ucap panglima itu disaat pedang keduanya bertemu. Mata mereka saling bertatapan. Dia menatap lawannya yang tak menderita luka sedikit pun. Berulang kali Li Jihyun menyerang lawannya tapi sedikit pun tak mengenai tubuh panglima. Pria itu begitu mudah menghindari serangannya dan balas menyerang Li Jihyun. Membuat Li Jihyun terluka lagi. Darahnya pun sudah berceceran ditanah. Hanfu yang dipakai pun robek sana sini.


"Aku tidak akan menyerah!" balas Li Jihyun lantang. Kakinya sudah merosot ke tanah. Dia mendorong pedang panglima itu sekuat tenaga. Lantas mengayunkan pedang ke arah panglima itu. Panglima itu tersenyum mengejek. Dalam sekali putaran pedang itu berhasil mematahkan pedang Li Jihyun.


Mata Li Jihyun tak berkedip melihat pedangnya terpotong dan terjatuh ke tanah. Para penonton menahan napas menyaksikannya. Suara sorakan mendadak terhenti. Suasana berubah senyap. Panglima itu tersenyum tipis dan tanpa membuang waktu meletakkan pedang itu dilehernya. "Bagaimana? Apa kamu punya pesan terakhir?" tanya panglima itu menatapnya dingin.


Atensi Li Jihyun beralih menatapnya. Tubuh panglima itu yang lebih besar darinya membuat sinar matahari terhalang. Napas panglima itu sudah tersengal. Selama pertandingan berlangsung cuma dia yang terus menerus menyerang Li Jihyun tanpa jeda. Dia tidak memberikan kesempatan untuk Li Jihyun balas menyerang. Bahkan meski Li Jihyun sekalipun balas menyerangnya, panglima itu akan berusaha mematahkan serangannya. Bahkan membalasnya lebih kuat dari sebelumnya.


Tak lama suara tawa terdengar. Tawa yang menggelegar sampai mengagetkan semua penonton. Mereka saling tatap melihat reaksi Li Jihyun yang diluar dugaan. Alis panglima itu mengerut keheranan. "Kenapa tertawa? Apa yang lucu? Dasar gila," kata panglima itu yang pedangnya sudah mengores leher Li Jihyun. Darah merembes membasahi pedang. "Apa kamu mengejekku sekarang?" tanya panglima itu lagi dengan gigi bergemulutuk. Tapi Li Jihyun tak peduli dan terus tertawa.


Amarah panglima itu terpancing. Dia pun menggerakkan pedangnya hendak memutus leher Li Jihyun. Tapi sebelum pedang itu berhasil memisahkan kepala dari lehernya. Tangan Li Jihyun justru memegang pedang itu. Semua orang terkejut. Bahkan sampai berdiri memastikan penglihatan mereka. Tawa Li Jihyun sudah terhenti. Matanya menatap tajam panglima itu. "Kamu pikir aku semudah itu mati?" tanya Li Jihyun menaikkan sebelah alis matanya.


"Kamu ... bagaimana bisa?" tanya panglima itu mendorong pedangnya kuat. Tangan Li Jihyun yang memegang pedang itu mengeluarkan darah segar. Dia memiringkan kepala dan tersenyum lebar. Lalu suara cekikikan terdengar membuat bulu kuduk meremang. Suasana menjadi mencekam.

__ADS_1


Mata panglima itu terbelalak melihat wajah Li Jihyun yang tak menunjukkan rasa sakit. Dan tampak menikmatinya. Darah mengalir terus membanjiri tanah tempatnya berpijak. "Perhatikan pedangmu pak tua," ucap Li Jihyun membuat atensi pria itu beralih sejenak.


Li Jihyun tersenyum tipis. Secepat kilat pedang sumbang ditangan satunya bergerak mengincar rahang panglima itu. Dia menusuk tepat mengenai rahangnya. Suara erangan kesakitan dan secepatnya tangannya melepaskan pegangan pada pedang panglima itu.


Panglima itu menatapnya berang. Matanya melotot penuh amarah. "Kenapa? Apa kamu menyerah sekarang?" tanya Li Jihyun memainkan pedangnya. Dia menatap remeh panglima dihadapannya. Panglima itu semakin gusar. Dia memegangi luka dirahangnya. Darah terus mengalir deras tanpa henti.


"Sialan!" umpatnya tapi dibalas tawa oleh Li Jihyun. Seolah itu hiburan tersendiri untuknya.


Panglima itu melirik Long Jian yang menatapnya dingin. Membuat kepala panglima itu langsung beralih menatap Li Jihyun didepan. Li Jihyun melesat maju dengan pedang sumbang ditangan. Panglima bersiap menunggu serangan Li Jihyun. Tepat serangan itu hendak mengenai tubuh panglima itu, Li Jihyun tiba tiba bergeser ke sebelahnya mengejutkan panglima itu.


Pedang yang sempat terayun pun diputar cepat mengarah ke Li Jihyun. Kepala Li Jihyun merunduk cepat. Dia menancapkan pedang pada kaki panglima. Suara erangan kembali terdengar lagi. Li Jihyun melompat mundur menghindari tusukan dari panglima itu. "Aku sudah bilang. Tidak semudah itu mengalahkanku," ucap Li Jihyun terkekeh. Suara rintihan kesakitan berubah geraman marah.


"Aku pasti akan membunuhmu!" pekik panglima itu penuh kemarahan.


"Kita lihat saja nanti," balas Li Jihyun tak mau kalah.

__ADS_1


__ADS_2