Selir Tawanan Kaisar

Selir Tawanan Kaisar
Episode 60


__ADS_3

Suara langkah ketukan kuda berhenti. Hanya suara ringkikan dari kuda yang terdengar. Li Jihyun menyibak sedikit tirai yang menutupi jendela kereta kuda. Tampak didepan matanya bangunan menjulang tinggi. Ada banyak tangga yang tersusun rapi ke arah gerbang. Gerbang itu dijaga dua orang pria bertubuh besar dan tinggi. Mereka berdiri ditepi gerbang yang cat kehitamannya tampak luntur. Tsk! Jika bukan terpaksa aku juga tidak mau kemari, batinnya menutup kembali tirai.


"Yang mulia selir agung kita sudah sampai. Perlukah saya beritahukan pada keluarga Xu anda sudah tiba?" tanya kusir yang duduk didepan. Li Jihyun menghela napas pelan.


"Tidak usah. Aku bisa sendiri," ucapnya turun dari kereta kuda mengejutkan kusir didepan.


"Yang mulia. Maafkan saya yang tidak cekatan menyambut anda," kata kusir turun dari kursinya. Dia langsung membungkuk dengan tubuh gemetaran ketakutan. Seharusnya aku lebih memperhatikan yang mulia selir, batin kusir itu dengan rasa bersalah. Tapi digelengkan Li Jihyun.


"Kamu pergilah. Aku akan masuk sendirian," ucap Li Jihyun menaiki satu tangga. Tapi kusir itu masih diam ditempatnya. Keraguan menyelimuti hatinya. Dia tampak kebingungan. "Apa kamu tidak mendengar perintahku?" tanya Li Jihyun yang menghentikan langkahnya di tangga kedua. Kusir itu tersentak kaget. Buru buru menggelengkan kepalanya.


"Maafkan saya yang mulia. Saya akan segera pergi," ucap kusir itu segera kembali ke kereta kuda. Dalam sekejap meninggalkan halaman keluarga Xu menyisakan Li Jihyun sendirian. Sekali lagi Li Jihyun menghela napas pelan.


Dia menatap gerbang raksasa yang berdiri kokoh sebelum menaiki tangga berikutnya hingga tiba didepan kedua prajurit yang tengah berjaga. Kedua pria bertubuh besar itu menghadang langkah Li Jihyun. "Siapa kamu?" tanya salah satu penjaga itu dengan wajah galak.


"Aku Li Jihyun, selir agung." Jawab Li Jihyun membuat kedua pria itu tertawa terbahak bahak. Bahkan sampai ujung mata mereka berair.


"Selir agung? Hei! Apa kamu bercanda?" tanya salah satu pria itu mendekatinya. Dia mengacungkan jemari telunjuknya sampai menyentuh dahi gadis itu. Tapi ditepis Li Jihyun kasar. Membuat pria itu memasang wajah gusar.

__ADS_1


"Sialan! Beraninya kamu menepis jemariku? Kamu tidak tau siapa kami, hah?" hardiknya membusungkan dada. Dia maju selangkah.


"Hei hentikan! Kamu tidak lihat wajahnya yang pucat itu," tunjuk temannya dengan nada mengejek. Pria itu menurunkan pandangan ke wajahnya. Li Jihyun memalingkan wajah membuat pria itu tertawa terbahak bahak lagi. Suaranya yang menggelegar membuat telinga Li Jihyun sakit.


"Kamu benar. Gadis secantikmu seharusnya jangan takut begitu. Tenang saja kami takkan menyakitimu. Asal kamu mengikuti keinginan kami," ucap pria itu melirik temannya. Temannya menganggukkan kepala sambil tersenyum licik. Tangan pria itu hendak meraih dagu Li Jihyun. Tapi gadis itu secepat kilat memelintir pergelangan tangannya membuat dia menjerit kesakitan.


"Seharusnya sejak tadi aku melakukannya," ucapnya menatap pria itu dingin.


"Sialan! Hei! Tangkap gadis sialan itu!" bentaknya pada temannya yang berada tak jauh darinya. Dia masih meringis kesakitan sambil memegangi pergelangan tangannya.


Temannya merangsek maju hendak menangkap Li Jihyun. "Seharusnya kamu diam saja. Kamu pikir kami akan tertipu dengan ucapanmu," ucap pria itu mendekati Li Jihyun. Gadis itu berdecak sebal. Alis matanya naik sebelah.


"Cih! Kamu pikir kami akan percaya kalau kamu adalah selir agung. Selir agung tidak akan datang kemari. Dia adalah pembunuh nona Xu Die. Itu sesuatu mustahil," ujarnya menjulurkan tangan hendak menangkap lengan Li Jihyun. Sebelah sudut bibir Li Jihyun terangkat sebelah.


Dengan cepat dia berkelit dari jangkauan pria itu. "Kalian memilih lawan yang salah," ucapnya mengangkat jemarinya lalu menotok titik vital pria itu. Membuat tubuh pria itu ambruk ditanah. Tubuhnya tidak bisa bergerak sama sekali.


"Wanita jahat! Apa yang kamu lakukan?" Dia merangsek maju dengan tombak ditangan. Tombak itu mengarah ke arahnya. Tapi Li Jihyun tak berkelit membiarkan tombam itu mendekat. Tepat sebelum tombak itu menyentuh tubuhnya. Dia berkelit cepat membuat tombak itu mengenai udara kosong. Li Jihyun menyeringai. Dia menendang perut pria itu hingga terpental jauh. Belum sempat pria itu bergerak tiba tiba Li Jihyun sudah muncul didepan mata. Pria itu menelan ludah susah payah.

__ADS_1


"Serahkan kunci gerbang itu," titah Li Jihyun menatapnya dingin.


"Tidak! Aku takkan menyerahkannya pada wanita iblis sepertimu," ucapnya sambil berusaha bangkit. Hela napas terdengar. Li Jihyun menendang sekali lagi pria itu hingga terperosot jauh ke dalam lantai. Lubang besar terbentuk bersamaan munculnya retakan. Kepulan debu menghalangi jarak pandang. Li Jihyun mengayunkan tangannya. Tampak kepala pria itu berdarah dan dalam kondisi pingsan. Dia mendekat tubuh pria itu sambil melambaikan tangan ke depannya. Melihat tak ada reaksi Li Jihyun tersenyum senang.


Dia memeriksa hanfu yang dipakai pria itu. Tapi tak menemukan kunci yang dicarinya. Dia berpindah pada pria satunya. Mata pria itu bergerak gerik tapi mulut dan sekujur tubuhnya tak bisa bergerak lagi. Seberapa keras pria itu berusaha tapi tidak berhasil. "Tenang saja. Sebentar lagi kamu juga akan sadar," ucap Li Jihyun merogoh saku.


Matanya berbinar saat tangannya meraba sesuatu berbentuk kunci. Senyumannya semakin mengembang saat mengeluarkan kunci dari saku. Dengan bersenandung riang Li Jihyun membuka kunci gerbang. Mengabaikan teriakan lirih dari pria itu.


Persis pintu itu dibuka, Li Jihyun dikejutkan dengan sosok pria paruh baya. Pria itu tengah duduk diterasnya sambil membaca sebuah buku. Sontak pria itu langsung berdiri. Menatap berang Li Jihyun yang masuk ke dalam kediamannya. Tanpa ada pemberitahuan sebelumnya dari penjaga gerbang.


"Siapa kamu? Apa yang kamu lakukan disini?" tanya seorang pria paruh baya yang terkejut dengan kemunculan Li Jihyun didalam halamannya. Bukannya langsung menjawab Li Jihyun justru memperhatikan pakaian pria didepan matanya.


"Apa kamu kepala keluarga Xu?" tanya Li Jihyun memastikan. Dahi pria paruh baya itu mengerut. Apalagi melihat hanfu yang dipakai Li Jihyun tampak berdebu dan kotor.


"Iya. Tapi kamu siapa?" tanya pria itu lagi. Dia masih penasaran dengan sosok gadis didepannya. Bagaimana bisa dia masuk sendiri? Kemana dua penjaga gerbang itu? Seharusnya mereka melaporkanku kalau ada tamu, batin pria itu yang terlihat kesal. Aku harus memberi mereka pelajaran, batinnya lagi.


"Aku adalah Li Jihyun, selir agung." Li Jihyun membungkuk hormat. Sedetik tubuh pria membeku. Bibirnya bergetar hebat.

__ADS_1


"Ka-Kamu ... pembunuh! Gara gara kamu anakku mati," ujar pria itu menghampiri Li Jihyun. Gadis itu mengangkat kepalanya dan berdiri tegak. Matanya menatap pria itu yang semakin dekat. Sedikit pun Li Jihyun tak beranjak dari tempatnya.


__ADS_2