
Kepala Li Jihyun tertoleh ke belakang saat mendengar suara ketukan sepatu memasuki ruangan. Alis matanya bertaut tajam saat bertatapan dengan Zhang Liu. Pria berkacamata itu segera membungkuk hormat ketika berhadapan dengan keduanya. "Salam yang mulia kaisar dan yang mulia selir agung," sapanya sopan.
Long Jian berdehem dan menatap datar. Apa yang dilakukan Zhang Liu kemari? batin Li Jihyun penasaran. Matanya terus memperhatikan Zhang Liu yang berdiri dibelakangnya.
"Angkat kepalamu Zhang Liu," kata Long Jian yang dipatuhi Zhang Liu. Kepalanya terangkat dan tak sengaja bertatapan dengan Li Jihyun. Senyuman tipis tersungging dibibir. "Li Jihyun," atensi Li Jihyun beralih menatapnya.
"Iya yang mulia," sahut Li Jihyun menundukkan pandangan. Dia mengayunkan tangannya diudara. Li Jihyun mengerutkan dahi keheranan melihat tingkah Long Jian. Pria dengan pakaian kebesaran kekaisaran itu duduk disingasananya sambil menopang dagu. Tampak elegan dan berwibawa. Tapi dibalik itu semua dia adalah pembunuh yang habis membantai separuh rakyat kekaisaran. Mengingat itu kembali membangkitkan kebencian di hati Li Jihyun.
"Bawa kemari laporan dari Zhang Liu," titahnya membuat kepala Li Jihyun kembali tertoleh ke arah Zhang Liu. Ragu Zhang Liu merogoh saku dan memberikan secarik kertas pada Li Jihyun. Tangannya mengenggam erat ujung kertas menimbulkan kecurigaan Li Jihyun. Sedikit kasar Li Jihyun menarik kertas ditangan Zhang Liu. Jakun pria itu naik turun melihat Li Jihyun membawa kertas itu pada Long Jian.
Long Jian meraih kertas itu dan membukanya. Matanya bergerak cepat membaca isi surat. Lalu melirik ke arah Li Jihyun yang berdiri dihadapannya. Kenapa kaisar gila ini menatapku? Sebenarnya apa isi surat itu? pikir Li Jihyun penasaran. Mata Li Jihyun melirik ke arah Zhang Liu yang menundukkan pandangan. Dia menghela napas kecewa. Petunjuk yang diharapkannya justru terputus. Membuat benak Li Jihyun dipenuhi berbagai pertanyaan.
"Sepertinya selirku sangat penasaran isi surat ini," kata Long Jian dingin. Matanya yang tajam menatap Li Jihyun lekat. Gadis itu tersenyum.
"Bukankah terlalu aneh jika saya tidak penasaran?" celetuk Li Jihyun mengedikkan bahu. "Apalagi surat itu seperti mengarah pada saya," lanjutnya balas menatap tajam Long Jian.
__ADS_1
Pria itu meletakkan kepalan tangannya di pipi. Lalu tertawa pelan. "Instingmu lebih tajam dari perkiraanku," ucap Long Jian menyandarkan punggungnya dibantalan kursi singasana. Matanya tak lepas menatap Li Jihyun.
"Terimakasih atas pujian anda," ucap Li Jihyun sedikit membungkukkan badan. Long Jian sekali lagi tertawa. Kali ini suara tawanya terdengar lebih keras dari sebelumnya. Membuat Zhang Liu yang masih berada diruangan itu bergidik.
Dengan sedikit mengangkat kepalanya terlihat sorot mata Long Jian yang tajam dan dingin. Pria itu seperti elang yang mendapatkan mangsa. Persis saat dia dulu di medan perang. Zhang Liu menelan ludah. Matanya melirik Li Jihyun yang masih berdiri didepan sana.
"Benar benar menarik," ucap Long Jian berhenti tertawa. Dia melemparkan secarik kertas itu ke arah Li Jihyun. Kertas itu tepat jatuh di dekat kakinya. "Ambillah," titahnya menyeringai lebar. Li Jihyun melihat sekilas ke arah Long Jian sebelum memungut kertas itu.
Ketika membacanya Li Jihyun dibuat terkejut. Bibirnya mendadak kelu. Tulisan pada kertas itu mirip dengan tulisan tangannya. Lalu ada sesuatu yang merobek hati Li Jihyun. Dalam tulisan itu dia menuliskan keberadaan Yona dan juga alasan penyamarannya. Bahkan dibawah kertas itu ada catatan bukti tulisan itu miliknya. Dan dia sendiri yang mengirimnya. Mata Li Jihyun nanar dan lutut bergetar. Dia menatap Long Jian yang tersenyum senang. Alis mata pria itu terangkat menatap ekspresi Li Jihyun.
Tawa Long Jian terhenti. Matanya menatap Li Jihyun lekat. Zhang Liu seketika berseru heboh melihat bilah pedang itu mengarah ke leher Long Jian. "Anda pikir saya akan percaya begitu saja?" tanya Li Jihyun geram. Dia tak peduli lagi dengan yang terjadi dimasa mendatang. Amarahnya sudah mencapai ubun ubun kepala. Long Jian tersenyum remeh menepis pedang itu dalam sekali gerakan.
Pedang itu langsung terbanting jatuh. Long Jian bergerak cepat memukul dada gadis itu hingga terhuyung. Bahkan tanpa disadari oleh Li Jihyun. Dia terbatuk batuk merasakan napasnya sesak. Napasnya tersendat sendat. Long Jian bangkit dari singasana dan berjalan mendekatinya. "Kondisimu masih belum pulih. Tapi kamu terlalu memaksakan diri," ucap Long Jian berhenti tepat didepannya.
Li Jihyun berdecik. "Saya takkan kalah dari anda," sahut Li Jihyun berusaha berdiri tegak tapi gagal. Long Jian menendang perut gadis itu hingga terjatuh. Dia terbatuk batuk lagi sampai mengeluarkan darah dari mulutnya. Lukanya kembali terbuka lagi. Zhang Liu yang sejak tadi menyaksikan tampak panik. Dia hendak menghentikan Long Jian tapi takut.
__ADS_1
"Dasar lemah!" ucap Long Jian menginjak tangan Li Jihyun. Gadis itu mendongak dan bertatapan dengannya. Meski tubuhnya hancur lebur sekalipun gadis itu takkan bisa merasakan sakit.
"Saya tidak selemah itu," jawab Li Jihyun tersenyum mengejek. Long Jian menginjak lebih kuat punggung tangan Li Jihyun tapi dia justru tertawa terbahak bahak. Ujung matanya sampai berair.
"Kenapa? Anda heran bagaimana bisa tubuh saya tidak mengalami rasa sakit?" tanya Li Jihyun memancing rasa penasaran Long Jian. Alis mata Long Jian mengerut. Meski disiksa berkali kali tapi Li Jihyun tak pernah mengaduh kesakitan. Dia selalu bisa melanjutkan pertandingan seperti biasa. Long Jian cukup mengagumi sekaligus terkejut setiap kali menyaksikannya. Bahkan saat bertarung melawan orang terkuat dikekaisaran pun dia masih hidup meski menderita luka parah. Menurutnya, ini sangat menakjubkan.
Long Jian mengangkat kakinya dari punggung tangan Li Jihyun. Kemudian berjongkok tepat dihadapan gadis itu. Penampilan Li Jihyun tampak berantakan. Riasan diwajahnya pun kacau dan hanfu yang dipakai pun kotor terkena debu.
Long Jian meraih dagu Li Jihyun dan mencengkramnya kuat. Mata mereka saling bertatapan. "Beritahu aku bagaimana caranya," kata Long Jian.
Cuih!
Zhang Liu terperanjat kaget melihat Li Jihyun meludahi wajah Long Jian. Pria itu dengan geram melepaskan kasar cengkramannya. "Sialan! Dasar perempuan tak tau diuntung," makinya menginjak tubuh Li Jihyun sampai lemas tak berdaya. "Bawa dia ke penjara," perintah Long Jian menggeram marah.
Dua orang prajurit yang tadinya berjaga dipintu langsung masuk. Mereka menyeret tubuh Li Jihyun keluar. Sementara Li Jihyun sendiri tertawa terbahak bahak. Dia bahkan menjulurkan lidahnya sebelum pintu tertutup rapat. Long Jian mengusap wajahnya kasar. Pandangannya beralih menatap Zhang Liu yang masih disana. "Berikan dia hukuman cambuk sebanyak 50 kali," titahnya yang diangguki pelan Zhang Liu.
__ADS_1
"Saya permisi dulu yang mulia," pamit Zhang Liu meninggalkan ruangan kaisar. Dia berjalan cepat menuju penjara. Kumohon bertahanlah Li Jihyun, doanya dalam hati.