Selir Tawanan Kaisar

Selir Tawanan Kaisar
Episode 70


__ADS_3

Malam semakin larut. Fen yang sejak tadi menunggu kedatangan Hai Rong yang tak kunjung muncul. Gadis itu sampai mondar mandir didepan pintu bekas kamar mereka dulu. Siapa tau Hai Rong akan kesana. Dia menggigit ibu jari gelisah. Mengedarkan pandangan ke sekitar. Dia menghela napas berat. "Kemana perginya nona Hai Rong?" gumamnya.


"Apa yang kamu lakukan disini?" tanya seseorang mengejutkan Fen. Wajah gadis itu langsung memucat saat berhadapan dengan dua prajurit yang kebetulan lewat. Dahi mereka mengernyit. "Bukankah kamu dayang yang diusir tadi? Kenapa kamu kesini?" tanya prajurit itu lagi.


"Pergilah! Kalian sudah diusir sekarang!" hardik prajurit lain sambil menodongkan tombak yang dia bawa. Fen yang tersudut segera pergi. Dia tak mau menambah masalah lagi.


"Ck! Dasar! Bikin menyusahkan saja," decak prajurit itu kembali melanjutkan perjalanan. Sudah menjadi tugas prajurit bergantian berkeliling menjaga paviliun selir. Hanya tempat selir agung yang tidak dijaga. Li Jihyun yang sibuk menghadapi masalah tidak sempat protes pada Long Jian. Dia pun tidak terlalu memperhatikannya untuk sekarang.


"Padahal sudah diusir tapi apa dia pikir masih statusnya masih sama?" timpal temannya sembari tergelak.


"Wanita malang. Tapi aku dengar nona Hai Rong dijadikan dayang yang mulia selir agung," bisik prajurit itu lirih. Matanya bergerak liar memastikan Fen sudah tak berada disana. Temannya mengangguk setuju.


"Aku tak menduga yang mulia selir agung menerima musuhnya dengan lapang dada," celetuknya. "Padahal sudah jelas nona Hai Rong yang membuat yang mulia selir agung terjebak di kediaman Xu. Hampir saja yang mulia selir agung tewas," lanjutnya.


"Seharusnya nona Hai Rong itu dihukum mati karena mencederai keluarga kaisar," temannya mangut mangut.


"Begitulah. Politik kekaisaran itu sulit dimengerti oleh bawahan seperti kita. Bisa saja orang yang terlihat baik belum tentu baik. Mungkin dia menyembunyikan sesuatu yang mengerikan dibalik topeng kebaikannya. Lagipula takhta kaisar sudah biasa dilumuri darah. Kekuasaan dan kekuatan yang didapatkan butuh pengorbanan yang besar," ujar prajurit itu membuat temannya terdiam.


"Yang kamu katakan benar. Kita hanya bawahan yang menjalankan perintah dan masalah yang mereka hadapi itu urusan mereka. Kekaisaran kita pun dari generasi ke generasi selalu dimulai pertumpahan darah. Seperti sudah menjadi tradisi yang diwariskan."


...


Fen melangkah pergi menuju kamar Li Jihyun. Diabaikannya rasa takut yang terus menjalar. Angin bertiup membuat tubuhnya menggigil kedinginan. Tapi tidak menyurutkan langkahnya.

__ADS_1


Akhirnya dia tiba didepan pintu kamar Li Jihyun. Fen menelan ludah. Tak ada siapapun yang berjaga didepan pintu. Berbeda dengan kamar lain yang dijaga dua orang penjaga secara bergantian. Rumor kamar ini tak ada penjaga memang benar. Tapi itu tak penting sekarang. Aku harus segera menemui yang mulia selir agung, batinnya. Dia menarik napas. Tangannya terangkat dan mengetuk pintu.


Tok! Tok! Tok!


Tak ada sahutan yang terdengar. Dia mengetuk lagi. Kali ini lebih kuat dari sebelumnya.


Tok! Tok! Tok!


Suaranya terdengar memecah keheningan malam. Napasnya tertahan saat mendengar suara langkah kaki yang mendekat dibalik pintu.


Kriet!


Dia melangkah mundur ketika pintu terbuka sedikit. "Saya Fen menyapa yang mulia selir agung. Maaf saya menganggu waktu tidur anda," ucap Fen membungkuk hormat. Tubuhnya sedikit gemetar saking takut. Takut jika gadis dihadapannya akan menghukumnya. Meski usianya lebih muda dibandingkan yang lain. Tapi diusia semuda itu dia sudah berhasil mendapatkan posisi selir agung yang sulit didapatkan selir yang ada dipaviliun selir.


"Sa-Saya kemari ingin bertemu dengan nona Hai Rong," ujarnya tergagap.


"Siapa namamu?" tanya Li Jihyun.


"Fen yang mulia selir agung," jawabnya. Li Jihyun tersenyum tipis. Teringat kembali pertemuan pertamanya dengan Fen. Dia mengelus dagu sambil memikirkan sesuatu.


Sayang sekali dia bawahan Hai Rong. Wanita sialan itu. Tapi kalau Hai Rong tewas bukankah dia bisa menjadi dayang setiaku? pikir Li Jihyun. Tapi membunuh Hai Rong sekarang bisa menjadi masalah. Aku harus membuatnya bekerja dulu sampai menunggu waktu tepat membunuhnya, batinnya. "Besok datanglah kemari. Ada sesuatu yang harus kubicarakan denganmu," ucap Li Jihyun.


"Iya yang mulia selir agung. Maafkan saya sudah menganggu waktu tidur anda." Li Jihyun berdehem. "Sa-Saya permisi dulu," pamit Fen membalikkan badan. Dia berjalan cepat meninggalkan kamar Li Jihyun.

__ADS_1


Li Jihyun memperhatikannya sampai punggungnya menghilang dari balik tembok. Kepala Li Jihyun mendongak. "Apa kamu sudah puas menguping pembicaraan kami?" tanya Li Jihyun.


Tak lama seseorang melompat dari atap dan muncul tepat dihadapannya. Tapi Li Jihyun tak kaget justru menatapnya datar. Zhi Shen, pria yang terus mengintai Li Jihyun namun ketahuan lagi. Dia tersenyum lebar. Pakaiannya yang serba hitam membuatnya tidak terlihat jelas di malam hari. "Tsk! Aku terlalu meremehkan kemampuan pembunuh bayaran terhebat sepanjang masa," puji Zhi Shen yang disahut decakan Li Jihyun.


Gadis itu menyilangkan tangan didada. "Pergi dari sini dan jangan pernah muncul lagi," usir Li Jihyun walau itu perbuatan sia sia. Pria itu pasti akan terus mendatanginya lagi dan lagi. Sampai hidupnya dikendalikan lagi seperti dikehidupan sebelumnya. Dan Li Jihyun tak mau itu terulang lagi. Dia bertekad melawan siapapun yang menganggunya. Sudah cukup hidupnya diinjak.


"Harus berapa kali kubilang. Kamu takkan bisa mengusir atau membunuhku semudah itu," ujar Zhi Shen berkacak pinggang sambil mencondongkan wajahnya. Li Jihyun meludah tepat mengenai wajahnya. Li Jihyun tau tak ada gunanya memukul Zhi Shen. Pria itu tidak bisa disentuh olehnya. Sejenak Zhi Shen termangu.


"Menjijikkan. Makhluk sepertimu tidak pantas berada disini," ujar Li Jihyun sinis. Zhi Shen menatapnya penuh amarah. Wajahnya merah padam.


"Kamu ... wanita jahannam! Kamu pikir dirimu itu siapa? Apa kamu tidak sadar cuma ..."


Cuih!


Satu ludah lagi mengenai wajahnya. Zhi Shen menggeram marah. Mengusap wajahnya yang terkena ludah Li Jihyun. Li Jihyun tersenyum puas.


"Sudah cukup kamu menghinaku. Berhentilah terjebak dimasa lalu." Deru napas Zhi Shen menderu cepat. Dia mendelik tajam.


"Kurang ajar!" maki Zhi Shen yang mengepalkan tangan. Bersiap meninju perut Li Jihyun. Gadis itu berkelit cepat. Tinjunya mengenai udara kosong.


"Menyedihkan," ejek Li Jihyun memicu amarah Zhi Shen. Zhi Shen yang geram mulai melayangkan tinju mengincar wajahnya. Tapi Li Jihyun melompat mundur. Pukulannya mengenai udara kosong. "Kupikir kamu lebih kuat dari sebelumnya. Tapi apa semua ini? Cuma ampas," ejeknya lagi sambil terkekeh pelan.


Amarah Zhi Shen tak tebendung. Dia melayangkan tinjunya susul menyusul. Li Jihyun berkelit dengan santai. "Aku memang tak bisa membunuhmu sekarang," ujar Li Jihyun masuk ke dalam kamar. Dia menutup pintu keras membuat tinju Zhi Shen mengenai pintu. Teriakan penuh kemarahan pun terdengar.

__ADS_1


Aku harus secepatnya mencari informasi pembasmi roh, batin Li Jihyun mengunci pintu. Dia langsung berbaring ke kasur.


__ADS_2