
"Kalau ketua itu kuat kenapa dia tak melawan Long Jian dan membiarkan adiknya jadi tawanan? Dasar manusia bodoh."
"Tapi yang mulia bukan itu masalahnya. Yang saya dengar adiknya tidak mau pisah dari Long Jian." Dahi Li Jihyun mengerut. Dia menatap Zhang Liu lamat seolah minta penjelasan. Zhang Liu menarik napas. "Adiknya lah yang menginginkan Long Jian menjadi kaisar," lanjut Zhang Liu membuat Li Jihyun langsung membuang napas.
"Terus itu sebabnya dia berperang dan menghancurkan banyak kerajaan agar bisa menguasai seluruh benua. Tidak masuk akal. Dia melakukannya hanya demi orang itu," ujar Li Jihyun menepuk dahi. Zhang Liu menganggukkan kepala. "Ditambah adiknya jadi tawanan. Astaga! Apa dia tak bisa lihat mana yang ditawan dan tertawan?"
"Saya juga tidak tau yang mulia. Saya cuma mendengar dari rumor yang beredar."
Li Jihyun berdecak. "Aku hanya tak habis pikir dengan pemikirannya. Bagaimana bisa seorang tawanan memerintah orang yang menawannya sesuka hati? Itu terlalu tidak masuk akal bagiku."
"Saya juga berpikir demikian yang mulia. Tapi namanya rumor pasti ada yang dilebihkan dalam ceritanya." Zhang Liu mangut mangut.
"Mungkin saja orang itu bukan tawanan. Tidak mungkin Long Jian mau menuruti perkataan orang yang lebih rendah darinya."
"Jadi maksud anda itu bisa saja untuk melindungi adiknya ketua pasukan bayangan kaisar?" Li Jihyun menganggukkan kepala. "Saya tidak berpikir sampai ke sana," imbuhnya.
"Tentu saja. Sepertinya dia orang berharga sampai Long Jian berusaha mengabulkan perkataan orang itu," ujar Li Jihyun mengusap dagunya. "Lalu apa kamu tau siapa orang itu?" tanya Li Jihyun penasaran. Mungkin saja informasi ini sedikit berguna untuknya nanti.
Zhang Liu terdiam. Tampak berpikir sejenak. "Saya tidak tau namanya dengan jelas. Tapi marganya Li," ujar Zhang Liu membuat Li Jihyun tertarik. Kepalanya sampai condong ke depan.
"Li?" ulangnya yang diangguki Zhang Liu.
"Sayangnya saya kurang tau nama lengkapnya. Saya hanya tau dia marga Li. Mungkin saja dia memiliki hubungan kerabat dengan anda yang mulia." Li Jihyun terdiam.
__ADS_1
Li? Kira kira siapa dia? Bukannya seluruh keluarga Li dimusnahkan oleh Long Jian sendiri. Yang tersisa hanya aku dan paman, batin Li Jihyun.
"Zhang Liu selidiki siapa Li dan identitas ketua pasukan bayangan kaisar. Aku perlu memastikan sesuatu terlebih dulu," perintah Li Jihyun yang diangguki Zhang Liu.
"Tenang saja yang mulia. Saya pastikan semuanya akan berjalan lancar. Lalu yang mulia bagaimana ...."
Tuk! Tuk! Tuk!
Perkataan Zhang Liu terpotong. Atensi keduanya mengarah ke jendela. Zhang Liu segera bangkit dari duduk. "Tolong tunggu sebentar yang mulia," pinta Zhang Liu meninggalkan Li Jihyun dikursi.
Tapi mata gadis itu memperhatikan punggung Zhang Liu. Dia berdiri tepat didepan jendela. Kesiur angin berembus kencang menggoyangkan kucir rambutnya. Sinar matahari yang masuk terhalang tubuh tegap Zhang Liu.
Dari balik punggung Zhang Liu yang lebar tampak seseorang muncul. Samar suaranya obrolan terdengar. Li Jihyun yang penasaran melenggokkan kepalanya. Seseorang berjubah serba hitam sampai menutupi wajahnya. Hanya mata yang terlihat.
Saat mata mereka bertatapan orang itu segera melompat pergi. Sebelum kepala Zhang Liu tertoleh ke belakang. Dia membalikkan badan dan berjalan mendekati Li Jihyun. "Siapa dia?" tanya Li Jihyun penasaran. Baru kali ini dia melihat ada orang lain yang dekat dengan Zhang Liu. Ditambah pakaian yang dikenakannya mirip dengan pasukan bayangan kaisar. Membuat Li Jihyun mulai mencurigai Zhang Liu.
"Yang mulia ini tidak seperti yang anda pikirkan," ujar Zhang Liu yang disahut decakan Li Jihyun. Gadis itu memalingkan wajah. "Yang mulia justru saya memasukkan mata mata ke dalam pasukan bayangan kaisar," lanjutnya namun gadis itu sedikit pun tidak menatapnya. Saat ini pikirannya kusut. Dia memijat pelipis yang tiba tiba nyeri.
"Sebaiknya jelaskan padaku Zhang Liu. Apa maksud kamu melakukan ini semua?"
"Saya melakukannya semata untuk membantu anda. Terutama mendapatkan informasi mengenai pergerakan dari pasukan bayangan. Dan saya mendengar kalau ketua bayangan mengincar ketua sipir." Mata Li Jihyun seketika terbelalak. Dia langsung menatap ke arah Zhang Liu.
Tangannya mengepal erat. "Anda mungkin tak percaya. Tapi mata mata yang saya kirim selalu menyampaikan informasi dengan akurat. Termasuk rencana Long Jian yang mengincar nyawa anda," ujar Zhang Liu penuh percaya diri. Li Jihyun menghela napas pelan. Teringat dengan kematian Hai Rong. Matanya menatap lurus Zhang Liu. Setelah melihat kedekatan Zhang Liu dengan salah satu bayangan kaisar sepertinya dia mencurigai dalang dibalik kematian Hai Rong.
__ADS_1
"Apa kamu juga yang menyingkirkan Hai Rong?" wajah Zhang Liu sejenak berubah pias. Tapi tak lama senyuman tersungging dibibir.
Dia melepaskan kacamatanya. Memijat pelipisnya. "Saya melakukannya demi memastikan kelancaran rencana anda," ujar Zhang Liu memakai kembali kacamatanya. "Saya hanya tidak mau Hai Rong membocorkan rahasia anda yang menyiksanya. Itu bisa merusak reputasi anda."
"Kamu tidak perlu melakukannya," ujar Li Jihyun. "Anak itu tidak bisa bicara dan menulis. Jadi semua rahasiaku aman. Lagipula masalah reputasi. Reputasiku sudah buruk sejak pertama kali tinggal disini."
"Itu karena anda yang tidak sabaran yang mulia. Meski anda jenius sekalipun tapi kesabaran anda sangat tipis."
Li Jihyun mengembuskan napas. "Kamu tidak takut padaku?" tanya Li Jihyun yang digelengkan Zhang Liu.
"Sewaktu melihat kesadisan anda sejujurnya saya takut. Tapi setelah saya pikir tidak buruk bersikap keji untuk bertahan hidup." Li Jihyun tertawa terbahak bahak.
"Pantas saja anda diangkat jadi perdana menteri. Ternyata anda lebih berpotensi dari yang saya duga," puji Li Jihyun.
"Terimakasih atas pujian anda," ucap Zhang Liu penuh hormat.
"Tapi sebelum itu aku harus mengunjungi ketua sipir. Lebih baik kuperingatkan dia agar berhati hati," ujar Li Jihyun bangkit dari kursinya.
"Apa anda akan menempatkan prajurit didekatnya?"
Li Jihyun terdiam sejenak. "Tidak perlu. Dia pasti bisa melindungi dirinya. Lalu jangan lupa permintaanku barusan. Besok atau lusa aku akan menemuimu mengenai masalah yang mau kubicarakan," ujar Li Jihyun berjalan terlebih dulu. Zhang Liu berjalan sedikit cepat mendahului langkah Li Jihyun. Dia membuka pintu dan membungkukkan badan.
"Sampai bertemu lagi yang mulia," ucap Zhang Liu yang diangguki sekilas Li Jihyun. Gadis itu melangkah keluar dari pintu. Tampak diseberangnya Lian yang berdiri.
__ADS_1
Dia berjalan mendekati Li Jihyun. Mereka melangkah pergi meninggalkan ruangan kerja Zhang Liu. Sepanjang jalan keduanya bergeming. Tenggelam dalam pikiran masing masing.
"Apa kamu masih marah Lian?" tanya Li Jihyun memecah keheningan. Mereka belok kanan begitu bertemu perempatan lorong. "Kamu sepertinya marah karena aku membunuh saudara kembarmu."