
"Tolong! Kumohon lepaskan aku," pinta Hai Rong dengan nada mengiba. Tubuhnya semakin kurus ringkih. Terlihat tulang menonjol dari kulitnya yang kusam dan banyak bekas luka. Darah segar merembes keluar. Cambuk itu terus menerus melayang mengenai tubuhnya. Sudah dua hari wanita itu terkurung. Wajah wanita itu pun terdapat banyak bekas luka dan lebam. Hela napas terdengar.
"Sebenarnya aku juga tidak mau melakukannya," ucap Li Jihyun mengedikkan bahu. Jemari lentiknya meraih dagu Hai Rong. Dia mencengkramnya kuat sampai membuat wanita itu meringis kesakitan. Diangkatnya paksa wajah Hai Rong sampai mata mereka bertemu. Sebelah sudut Li Jihyun terangkat membuat tubuh Hai Rong menggigil. "Ini belum seberapa Hai Rong," tambah Li Jihyun melepaskan cengkramannya dengan kasar.
"Lien kemarilah," titah Li Jihyun yang diangguki Lien. Dayang itu yang sejak tadi berada disudut gudang pun menghampiri Li Jihyun. Ditangannya ada ember berisi air penuh. Dayang itu berjalan mendekat dan meletakkan ember. "Lepaskan ikatan Hai Rong," perintah Li Jihyun yang lagi diangguki Lien.
Dia melepaskan ikatan tali Hai Rong. Begitu terlepas tubuh Hai Rong jatuh terkulai dari kursi. Sekujur tubuhnya terasa lemas setelah dua hari tidak memakan apapun. Dia bernapas lega. Bibir keringnya menyunggingkan senyuman. Siksaan yang dialaminya telah berakhir. Tapi dihatinya masih menyimpan dendam. "Ya-Yang mulia selir agung terimakasih sudah melepaskan saya," ucapnya penuh syukur. Hmph! Dasar selir bodoh! Begitu terbebas aku akan membalaskan rasa sakit yang diderita ini dua kali lipat. Ayah pasti takkan membiarkanmu lolos begitu saja Li Jihyun, batin Hai Rong.
Sebelah alis mata Li Jihyun terangkat. Dia merogoh saku dan mengeluarkan botol kecil dengan cairan berwarna keunguan. Dahi Hai Rong mengernyit keheranan melihat botol di tangan Li Jihyun. Botol itu dibuka dan cairan didalamnya pun dituang ke dalam ember. Matanya melirik Lien yang berdiri di belakang Hai Rong. Mata mereka saling bertemu. Lien menggulung lengan hanfunya sampai siku. Begitu kepala Li Jihyun mengangguk, Lien mencengkram rambut Hai Rong.
Sebelum Hai Rong menyadari rencana Li Jihyun. Wanita itu menjerit kencang sambil terus meronta dengan sisa tenaga. Rambut wanita itu ditarik paksa Lien ke arah ember yang tak jauh dari mereka. Teriakan itu tenggelam dalam air dalam ember yang sudah dicampur cairan ungu tadi.
Kepala wanita itu diceburkan kedalam. Buih air terlihat memenuhi ember. Li Jihyun yang menyaksikan tersenyum puas. Tangan wanita itu terus meronta berharap lepas dari cengkraman Lien. Tapi seberapa keras dia berusaha apalagi dengan sisa tenaga yang tak memadai membuatnya kesulitan. Ditambah oksigen dalam ember yang menipis. Melihat tangan Hai Rong tidak berontak lagi, Lien mengangkat kepala Hai Rong.
__ADS_1
Napas wanita itu megap megap. Pandangannya nanar menatap Li Jihyun yang masih berdiri didepannya. Tiba tiba kulit wajahnya terasa terbakar. Sekali lagi wanita itu menjerit. Li Jihyun terkikik melihat penderitaan Hai Rong. "ARGH! Sakit!" jeritnya memegangi wajah. Air matanya sampai keluar saking kesakitan. Perlahan wajah Hai Rong melepuh. Kulitnya terkelupas. Hai Rong menjerit histeris sampai suaranya parau. "Ampuni saya yang mulia. Ampun," ucapnya bersimpuh disela isak tangis.
"Ampun? Heh? Tidak semudah itu Hai Rong," ucap Li Jihyun dengan nada meremehkan. Air mata Hai Rong semakin deras dan suara tangisannya terdengar pilu.
"A-Ampun yang mulia. Ampuni saya," isaknya disela tangis. Dia merangkak mendekati kaki Li Jihyun tapi ditendangnya dengan kasar. Hai Rong gelagapan tidak tau lagi harus berbuat apa. Li Jihyun tidak semudah itu memberinya ampunan. Hai Rong tak pernah berpikir gadis itu akan menyiksanya sampai hampir meregang nyawa. Jemarinya meremas lantai yang dingin dan kasar. Membuat kukunya terluka sampai mengeluarkan darah.
"Menjijikkan! Beraninya kamu menyentuhku," ujar Li Jihyun menendang tubuh lemah Hai Rong. Wanita itu terbanting hingga punggungnya menabrak tembok. Dia terbatuk batuk sampai mengeluarkan darah. Tubuhnya terasa remuk. Dia meringkuk kesakitan. "Tsk! Segini saja kamu langsung tumbang. Benar benar sangat lemah," tambah Li Jihyun.
"Tidak yang mulia! Tidak! Jangan lakukan ini! Ampuni saya," pintanya setengah berteriak. Tapi baik Lien maupun Li Jihyun sama sekali tak peduli. Lien mengangkat kedua lengan Hai Rong dengan enteng. Tubuh Hai Rong yang kurus membuat berat badannya ringan. Sekali lagi dia berusaha berontak meski usahanya sia sia.
Lien berhasil mendudukkan Hai Rong tanpa terusik dengan gerakan Hai Rong. Wanita itu menggerakkan kakinya hingga tersungkur jatuh ke lantai. Napasnya memburu cepat merasakan sakit pada siku dan lutut. Lien kembali mengangkat lengan Hai Rong. "Sebaiknya anda jangan melawan lagi atau yang mulia selir agung akan memberi anda hukuman yang lebih berat," ancam Lien.
"Tidak! Lepas! Yang mulia saya akan melakukan apapun asal anda membebaskan saya," ucap Hai Rong setengah berteriak. Alis mata Li Jihyun terangkat.
__ADS_1
"Berhenti Lien." Gerakan Lien yang menarik Hai Rong duduk dikursi terhenti. Gadis didepan mereka tersenyum tipis. Hai Rong bernapas lega. Siksaan ini sebentar lagi akan berakhir dan dia akan bebas, begitulah pikir Hai Rong tanpa tau niat Li Jihyun dibelakang.
Aku hanya perlu menuruti kemauan yang mulia selir agung agar terbebas dari sini. Kemudian setelah keluar aku akan langsung mengirim pembunuh bayaran untuk membunuhnya, batin Hai Rong tersenyum licik tanpa menyadari diperhatikan Li Jihyun. Gadis itu segera tau keinginan Hai Rong.
Hmph! Wanita yang licik. Dia pikir aku tidak tau isi pikirannya yang sempit itu, batin Li Jihyun menutupi separuh wajahnya.
"Yang mulia anda percaya pada saya kan? Saya akan melakukan apapun asal anda melepaskan saya," ucapnya penuh keyakinan. Li Jihyun terdiam sejenak.
"Baiklah. Tapi sebelum itu ..." Li Jihyun menjeda kalimatnya. Dia merogoh lagi saku dihanfunya dan mengeluarkan botol kecil. Cairan dalam botol itu sangat bening. Dia menggoyangkan botol itu didepan wajah Hai Rong. "... kamu harus meminum cairan ini untuk membuktikan kesetiaanmu padaku," lanjut Li Jihyun membuat Hai Rong menelan ludah susah payah. Dia terdiam menatap botol ditangan Li Jihyun.
"Kenapa? Apa kamu tidak mau meminumnya?" tanya Li Jihyun mengejeknya. "Berarti kamu harus terkurung lebih lama lagi di ruang bawah tanah ini," ucapnya membuat Hai Rong dilema. Dia ragu menatap cairan bening dalam botol.
Apakah itu racun? pikir Hai Rong. Dia menatap raut wajah Li Jihyun. Gadis itu masih santai menunggu keputusan Hai Rong. Sekali lagi ditelannya ludah. Tapi kalau aku tidak meminumnya yang mulia selir agung pasti curiga. Mati dalam gudang bawah tanah adalah pilihan yang buruk tanpa sempat membalaskan dendam. Kalau aku keluar dari sini. Aku bisa memberikan informasi pada ayah, batinnya lagi.
__ADS_1