
"Kalau tidak ada yang anda perlukan saya permisi dulu," pamit Zhang Liu.
"Pergilah. Aku juga harus bersiap," ucap Long Jian bangkit dari kursi. Dia berjalan terlebih dulu melewati Zhang Liu yang masih membungkuk hormat. Begitu gerombolan Long Jian sudah jauh, Zhang Liu mengembuskan napas kasar. Rambut hitamnya disibakkan ke atas.
Sebaiknya aku beritahu berita ini pada yang mulia selir agung, batin Zhang Liu meninggalkan balkon. Tangannya memegang erat gulungan kertas yang tersimpan disaku hanfunya. Dia berjalan cepat menuju paviliun selir.
...
Li Jihyun yang baru tiba dikamarnya langsung kedatangan tamu. Seorang dayang menghampirinya yang duduk dikursi dekat jendela. "Yang mulia, tuan Zhang Liu ingin bertemu anda." Ucap Lian yang kebetulan tadi berada didepan pintu.
"Persilakan masuk. Lalu siapkan teh hangat untuk kami," ujar Li Jihyun yang diangguki Lian.
"Saya permisi dulu," pamitnya membungkuk hormat sebelum pergi meninggalkan Li Jihyun.
Kira kira apa yang ingin dibicarakan Zhang Liu padaku? batin Li Jihyun berpikir keras sambil mengusap dagu.
Kreit!
Pintu digeser pelan yang kemudian muncul Zhang Liu. Pria itu berjalan menghampiri Li Jihyun yang masih duduk di kursi. Gadis itu sedikit pun tak bangkit dari duduknya. "Saya Zhang Liu perdana menteri kekaisaran memberi salam pada yang mulia selir agung," sapa Zhang Liu membungkuk hormat.
"Angkat kepalamu," titah Li Jihyun yang dipatuhi Zhang Liu. Pria berkacamata itu mengangkat wajahnya. Mata mereka saling bertatapan. "Ada apa kamu kemari? Dan tidak biasanya kamu menyuruh dayang memberi informasi kedatanganmu secara sembunyi. Apa ada berita penting?" tanya Li Jihyun penasaran.
"Saya datang kemari memang untuk menyampaikan informasi penting," ujar Zhang Liu berwajah serius.
"Kalau begitu duduklah. Kita bicarakan dengan tenang. Sebentar lagi dayangku akan membawakan teh untuk kita," ucap Li Jihyun membuat Zhang Liu mangut mangut. Pria itu duduk di kursi yang kebetulan tersedia di seberang Li Jihyun.
__ADS_1
Tak lama dayang yang dimaksud Li Jihyun datang. Membawakan nampan berisi perlengkapan teh. Lian menghidangkan teh dengan cekatan diatas meja. Sampai mengisi cangkir kosong hingga penuh. Kemudian, pamit meninggalkan ruangan itu.
Menyisakan Zhang Liu dan Li Jihyun dalam ruangan itu. "Bicaralah. Kamu tidak perlu khawatir. Rahasia dalam percakapan kita aman," ucap Li Jihyun mengambil cangkir teh. Dengan gerakan anggun meneguk sedikit teh membuat Zhang Liu yang menyaksikan tertegun. Gadis yang kemarin dilihatnya sadis sekarang terlihat seperti gadis pada umumnya. Tidak ada tanda dia bisa menyiksa maupun membunuh seseorang. Dia menggelengkan kepala mengusir bayangan Li Jihyun yang mengusir roh itu.
Juga selembar kertas yang masih tersimpan di dalam catatan buku hariannya. Apa itu diberikan roh itu? Agar rahasia Li Jihyun tersebar, batin Zhang Liu mengembuskan napas kasar. Sepertinya keduanya memiliki hubungan yang buruk, batinnya lagi.
"Jadi berbicaralah dengan santai," ujar Li Jihyun terdengar meyakinkan. Zhang Liu melirik ke arah depan pintu.
"Bagaimana dengan dayang disana?" tanya Zhang Liu memastikan. Dia memelankan suaranya agar tidak terdengar orang.
Li Jihyun tersenyum. Meneguk lagi teh yang tersisa. "Mereka sudah menjadi orangku," ucap Li Jihyun santai. Dia meletakkan cangkir teh diatas meja. Menatap lekat Zhang Liu yang terlihat kebingungan.
"Maksud anda dayang yang dikirim yang mulia kaisar menjadi bawahan anda?" seru Zhang Liu terperangah kaget. Li Jihyun terkekeh pelan. Dia menyilangkan tangan diatas dada. Menaikkan dagunya dengan angkuh.
"Jadi anda tidak perlu mengkhawatirkan apapun. Rahasia kita takkan bocor kemanapun," ujar Li Jihyun melirik ke arah pintu. Tampak ada dua bayangan yang berdiri dibalik pintu. Yang tak lain dayang yang melayani Li Jihyun selama ini.
"Bahaya? Apa maksudmu?" tanya Li Jihyun penasaran. Dia menatap lurus Zhang Liu.
"Posisi anda akan segera diturunkan setelah yang mulia kaisar pulang berperang," ucap Zhang Liu membuat tangan Li Jihyun terkepal erat. Dia mengatupkan rahang. Suara gemelutuk gigi terdengar.
"Kurang ajar! Jadi dia mau menurunkanku keposisi selir. Heh?! Kita lihat siapa yang akan diturunkan," geram Li Jihyun memukul batang kursi. "Apa yang mulia tau rencanaku?" tanya Li Jihyun memastikan.
"Sejauh ini yang mulia tidak tau," jawab Zhang Liu yang disahut helaan napas lega Li Jihyun.
"Baguslah. Kita bisa bergerak leluasa. Kita harus menguasai istana sebelum yang mulia pulang," ujar Li Jihyun. "Dia pasti akan terkejut melihat siapa yang duduk disingasana," imbuh Li Jihyun tertawa.
__ADS_1
"Tapi sebelum itu ada yang mau saya tunjukkan pada anda," ucap Zhang Liu merogoh saku dan mengeluarkan gulungan kertas. Dia menyodorkan gulungan itu pada Li Jihyun.
"Apa ini?" tanya Li Jihyun penasaran.
"Itu adalah nama bangsawan yang ikut terlibat dalam perang. Yang berarti ..."
"... Mereka pendukung yang mulia kaisar," potong Li Jihyun cepat yang diangguki Zhang Liu. Disambarnya gulungan itu cepat dan membukanya. Alis matanya bertaut tajam. "Sialan! Sudah kuduga," gumamnya saat membaca nama seseorang yang dikenal dalam daftar.
"Jadi apa rencana anda berikutnya?"
"Kita harus mencari pendukung dari bangsawan lain," jawab Li Jihyun. Dia menggigiti kuku ibu jemarinya sambil berpikir keras. Bagaimana caranya aku bisa mendapatkan dukungan dengan cepat? Apalagi harus bisa melebihi pendukung Long Jian, pikir Li Jihyun. Otaknya buntu. Tak ada secercah cahaya yang terlihat. Dia mengembuskan napas kasar.
"Bagaimana jika yang mulia selir agung berkenalan dengan sisa bangsawan lain?" usul Zhang Liu mengalihkan atensi Li Jihyun. Gadis itu meneguk teh lagi.
"Ide yang bagus," ucapnya tersenyum. "Tidak salah anda disebut pintar," puji Li Jihyun membuat Zhang Liu tersipu malu.
"Terimakasih atas pujian anda," sahut Zhang Liu tersenyum senang. Li Jihyun meletakkan cangkir teh.
"Tapi pasti itu bukan hal mudah bukan? Mendekati bangsawan yang bukan berasal dari faksi lain sepertinya hal sulit."
"Yang mulia anda tidak lupa faksi barat yang mendukung anda?" tanya Zhang Liu yang diangguki Li Jihyun. Dia masih ingat bagaimana susahnya mempertahankan faksi yang dianggap terbelakang oleh faksi timur. Faksi yang mendukung kaisar itu kerap menghina faksi barat yang justru masih mendukung selir tawanan perang. Mengingat itu membuat amarah Li Jihyun memuncak.
Dia memijat pelipis teringat pimpinan faksi barat yaitu Gong Jihon. Apalagi Gong Jihon mendukung Long Jian saat ini. Belum lagi ada beberapa bangsawan dari faksi barat yang ikutan mendukung Long Jian. Dia membuang napas kasar.
"Yang tersisa hanya bangsawan yang tidak mendukung keputusan Gong Jihon. Itu pun berjumlah sedikit. Tidak cukup untukku naik takhta," ujar Li Jihyun. Zhang Liu terdiam sejenak sembari berpikir keras.
__ADS_1
"Saya pikir juga begitu. Gong Jihon sepertinya mau menghapus faksi barat. Dia sudah memilih faksi timur dan membantu yang mulia pergi berperang." Li Jihyun berdecak sebal. Otaknya berpikir cepat. Memikirkan cara mendapatkan takhta secepatnya.