
"Bagaimana Hai Rong? Apa kamu tetap meminumnya?" tanya Li Jihyun masih menggoyangkan botol itu. Hai Rong menelan ludah. Tangannya terulur ragu.
"Saya akan meminumnya yang mulia," jawab Hai Rong membuat senyuman tersungging dibibir Li Jihyun.
Li Jihyun memberikan botol itu ke tangan Hai Rong. Jemari Hai Rong gemetar memegang erat botol. "Bantu dia duduk," perintah Li Jihyun yang diangguki Lien. Dayang itu mengangkat kedua lengan Hai Rong. Dia juga menyandarkan tubuh Hai Rong ke tembok. Li Jihyun terus memperhatikan Hai Rong yang masih menatap botol ditangan.
Dia masih meragu. Tapi merasakan sorot mata Li Jihyun yang tajam membuatnya terpaksa meminum habis isi botol. Dalam sekali teguk isi botol itu langsung tandas. Jantungnya berdetak cepat. Cemas dan ketakutan melanda perasaannya menunggu reaksi cairan dalam botol itu. Lenggang. Tak ada apapun yang terjadi. Tepat setelah Hai Rong menghela napas lega.
Tiba tiba sekujur tubuhnya terasa panas. Dia jatuh tersungkur. Rintihan mengalun dari bibirnya. Napasnya terengah engah. Peluh membasahi sekujur tubuh. Li Jihyun yang melihat reaksi Hai Rong tersenyum lebar. Obatnya bereaksi cukup lama tapi ini sudah lebih dari cukup, batin Li Jihyun.
Lien yang sejak tadi memperhatikan mulai melirik Li Jihyun. Dia tak habis pikir gadis didepannya itu bisa mendapatkan banyak obat dari tabib dengan mudah, itulah yang dipikirkan Lien. Karena hanya tabib yang punya izin pengobatan. Namun tanpa sepengetahuan orang lain obat itu diracik sendiri oleh Li Jihyun. Meski beberapa kali dia menemui kegagalan hingga akhirnya berhasil. Hanya saja gadis itu tidak menunjukkan di depan orang lain. Dia melakukannya di kamarnya.
Bahkan Li Jihyun rutin meminum racun. Sejak kejadian dia pingsan gara gara bius yang diberikan Long Jian. Li Jihyun tidak mau semua itu terulang lagi. Dia masih terus menerus mengonsumsi racun agar tubuhnya kebal.
Mata Hai Rong menatap Li Jihyun. Melihat senyuman dibibir gadis itu membuat amarah dihati Hai Rong berkobar. Dia merangkak dengan sisa tenaga. Tapi baru dua kali bergerak rasa panas itu kembali menyengat kulitnya. Dasar rubah licik! Itu pasti racun. Apa pada akhirnya aku mati?, batin Hai Rong. Pandangan Hai Rong semakin buram. Hingga kegelapan menyelimuti.
Li Jihyun berjalan mendekat dan berjongkok didepan Hai Rong. Mata wanita itu terpejam rapat. Li Jihyun mengulurkan jemarinya ke arah hidung Hai Rong. Memeriksa deru napasnya. Reaksi obatnya lebih kuat dari yang dikira. Tapi syukurlah dia masih hidup, batin Li Jihyun bangkit.
__ADS_1
Kulit Hai Rong yang melepuh perlahan membentuk kulit baru. Termasuk bekas cambuk yang sirna dari sekujur tubuh Hai Rong. Kulit wanita itu kembali bersih dan putih. Sampai membuat mata Lien terbelalak kaget. Jadi itu tadi obat? Tapi obat apa yang seampuh ini bisa langsung menyembuhkan luka? pikir Lien.
Tak berselang lama mata Hai Rong terbuka. Dia beringsut mundur saking terkejut. Pemandangan di sekitarnya masih sama. Dia pikir tadi sudah berada di alam baka. Tapi ada yang aneh terasa pada tubuhnya. Dia tak merasakan sakit. Perlahan dia meraba wajah serta melihat tangan dan kakinya yang bersih dari luka. Matanya terbeliak kaget melihat tubuhnya sendiri.
Bagaimama bisa sembuh secepat ini? Apa aku bermimpi? batin Hai Rong penuh tanda tanya.
"Bagaimana Hai Rong? Apa tubuhmu sudah baikan?" tanya Li Jihyun yang masih berdiri didepannya. Dia menyilangkan tangan. Menatap angkuh Hai Rong.
Kepala Hai Rong mendongak. Dia menelan ludah saat bertatapan dengan mata Li Jihyun. Segera wanita itu bersimpuh. "Te-Terimakasih yang mulia selir agung sudah mengobati saya. Suatu kehormatan bagi saya," ucap Hai Rong. Walau wajah wanita itu menunjukkan kebingungan. Aku pikir tadi aku akan mati. Tapi ternyata dia menyembuhkanku. Baguslah, jika dia membantuku. Aku bisa kabur dari sini dan membalaskan rasa sakit yang dialami, batinnya.
"Saya akan membayar obat itu apapun caranya," ujar Hai Rong. Apa obatnya mahal? Sampai yang mulia selir agung tidak rela, pikirnya.
Li Jihyun menggelengkan kepala. Dia mengembuskan napas kasar. "Tsk! Dasar bangsawan bodoh," maki Li Jihyun membuat Hai Rong menatapnya kebingungan. "Biar kujelaskan Hai Rong. Obat itu tidak akan bisa kamu bayar dengan apapun. Obat yang kamu minum itu adalah racun mematikan."
Mata Hai Rong terbelalak. Racun? Sialan! Aku tertipu. Wanita sialan, maki Hai Rong dalam hati. Wanita itu mengepalkan tangan saking marah.
"Tapi tenang saja. Selagi kamu mematuhi perintahku. Kamu tidak akan mati. Satu lagi kutambahkan jika aku mati maka kamu juga akan mati," ujar Li Jihyun tersenyum lebar. Hai Rong terperangah. Kini hidupnya tergantung Li Jihyun. Dia tak bisa bertindak sembarangan atau dia ikut mati.
__ADS_1
Li Jihyun menepuk tangannya pelan membuat suaranya bergema. "Lien bersihkan Hai Rong dan bawa dia kekamarku," perintah Li Jihyun yang diangguki Lien.
"Baik yang mulia," jawab Lien segera mendekati Hai Rong. Li Jihyun tersenyum sumringah melihat raut wajah Hai Rong yang kebingungan. Dia balik kanan meninggalkan ruangan bawah tanah itu. Suara derap langkahnya terdengar bergema di ruangan bawah tanah.
...
Suara sorakan di lapangan latihan terdengar bergema. Ada banyak prajurit yang tengah berlatih menggunakan senjata. Long Jian berdiri diatas balkon sambil memperhatikan mereka. Hari yang dia tunggu akan segera tiba. Tak ada lagi halangan yang bisa menganggu rencananya. Dia akan pergi berperang dan memperluas wilayah kekuasaannya. Itulah tujuan Long Jian sekarang.
"Saya Zhang Liu menghadap yang mulia kaisar," ucap Zhang Liu yang muncul dibelakang Long Jian. Pria itu menoleh sekilas kemudian kembali fokus menatap ke depan.
Dia mengulurkan tangan ke arah Zhang Liu. Pria berkacamata itu menyerahkan gulungan kertas padanya. "Para bangsawan setuju untuk mengirim masing masing pasukannya iktu berperang," tambah Zhang Liu yang disambut deheman Long Jian. Pria itu sibuk membaca isi gulungan. Terdapat banyak nama yang akan ikut berperang kali ini. Dia tersenyum sumringah.
"Baguslah. Mereka ternyata masih punya otak dibanding selir agung," ujar Long Jian menggulung kertas dan memberikannya pada Zhang Liu. "Bagaimana keadaan gadis itu? Apa dia masih ingin merebut takhta dariku?" tanya Long Jian meremehkan.
"Tidak yang mulia. Saya rasa itu cuma bualan yang mulia selir agung saja," ujar Zhang Liu berbohong. Tidak mungkin dia mengatakan kalau Li Jihyun tengah mengumpulkan dukungan dari faksi timur dan barat. Itu pasti akan mengancam nyawa Li Jihyun maupun dirinya.
"Bicaranya saja yang sombong. Tapi dia tak lebih dari ampas," ejek Long Jian terkekeh pelan. "Setelah pulang dari perang aku akan menurunkan jabatannya dihadapan semua orang. Agar kelak dia tau siapa penguasa disini," tambah Long Jian penuh percaya diri.
__ADS_1