
Gerakan Long Jian memeriksa terhenti. Kepalanya mendongak dan menatap Zhang Liu didepannya. Alis matanya menyatu tajam. "Kenapa kamu memanggilnya selir agung? Dia cuma tawanan perang," ujar Long Jian kesal.
"Tapi yang mulia tetap saja posisinya sudah berubah sekarang. Dia bukan lagi selir tawanan seperti yang anda bicarakan," ujar Zhang Liu membela Li Jihyun. Meskipun status yang didapatkannya hadiah dari taruhan. Tapi gadis itu menduduki posisi tertinggi di paviliun selir dalam sekejap. Lagipula posisi selir agung bukan sesuatu yang mudah didapatkan. Walau banyak yang mengincar posisi itu.
Long Jian berdecak. "Tetap saja dimataku dia adalah tawanan perang," ujarnya kembali memeriksa dokumen. Satu dua dokumen yang tidak sesuai dilemparkan ke lantai. Wajahnya memerah karena marah.
"Ada apa yang mulia?" tanya Zhang Liu keheranan melihat reaksi Long Jian yang berbeda dari biasanya. Long Jian menggertakkan gigi saking marah. Dia mengusap wajah kasar. Matanya menatap lekat Zhang Liu. "Anda tidak ingin membunuh saya, kan?" tanya Zhang Liu melangkah mundur. Long Jian berdecak sekali lagi.
"Gadis itu membuat masalah lagi."
"Masalah?" tanya Zhang Liu keheranan. Dahinya sampai mengerut.
"Iya. Dia membunuh selir dan dayang tadi pagi. Barusan tadi ada surat dari keluarganya."
Mata Zhang Liu melirik dokumen yang berserakan di lantai. Sepertinya surat itu berada diantara dokumen yang masih berserakan. Zhang Liu mengusap dagu sambil berpikir keras. "Tapi selir mana yang dia bunuh?" tanya Zhang Liu masih penasaran. Melihat dari kegelisahan Long Jian pasti latar belakang selir itu memiliki pengaruh kuat dalam politik.
"Selir Xu Diu dan dayang Ai Na," jawab Long Jian mengembuskan napas kasar sambil menyandarkan punggungnya ke bantalan kursi. "Gadis itu selalu mengusikku. Padahal aku masih membutuhkan kekuatan militer keluarga Xu secara cuma cuma."
"Anda akan tetap pergi berperang lagi?" tanya Zhang Liu yang diangguki Long Jian.
"Aku akan memperluas wilayah kekuasaanku. Seluruh kekaisaran yang ada dibenua ini harus menjadi milikku. Tapi gara gara Li Jihyun semua rencanaku tertunda. Aku harus melakukan sesuatu untuk menghukumnya," ujar Long Jian menyeringai lebar. Firasat Zhang Liu buruk. Sepertinya Li Jihyun akan dalam bahaya. "Dia terlalu dimanjakan sampai lupa statusnya. Sekarang waktunya aku memberikan hukuman karena menganggu selir kaisar," ujarnya bangkit dari duduk.
__ADS_1
"Tunggu sebentar yang mulia," ujar Zhang Liu menghentikan langkah Long Jian.
"Ada apa?" tanya Long Jian ketus tanpa berbalik ke arahnya.
"Bagaimana dengan dokumen ini? Isinya semua penolakan perang. Apa anda tidak ingin menyelesaikan ini dulu? Lalu masalah keluarga Xu kita juga harus segera menyelesaikannya," ujar Zhang Liu membuat Long Jian tergelak. Dia membalikkan badan dan bertatapan dengan Zhang Liu. Mata sehitam kelamnya malam memperhatikan lekat Zhang Liu. Senyuman tersungging dibibir.
Wajah Zhang Liu memucat. Dia mendadak sedikit gugup saat berhadapan dengan Long Jian. Padahal biasanya dia tak pernah mengalaminya. Jantungnya pun berdegup kencang. Tenanglah Zhang Liu. Kendalikan dirimu, batin Zhang Liu menarik napas. Deru napasnya terdengar teratur. Tidak seperti sebelumnya yang menderu cepat. Long Jian menepuk pundaknya.
"Aku percayakan itu padamu. Jika mereka menolak katakan kalau aku akan membunuh mereka," ujar Long Jian santai. "Aku percaya kamu pasti bisa melakukannya," lanjutnya mencengkram erat bahu Zhang Liu. Dia tersenyum lalu berbalik meninggalkan Zhang Liu sendirian diruang kerja.
Zhang Liu terduduk lemas begitu suara ketukan sepatu Long Jian menjauh. Dia mengembuskan napas kasar. Gadis itu bisa mati jika menghadapi yang mulia kaisar sendirian. Tapi dia gadis yang pintar pasti bisa mengatasinya dengan mudah, batin Zhang Liu memegang tepi meja dan berdiri dengan lutut gemetaran. Tapi kenapa aku peduli padanya? batin Zhang Liu memijat pelipis. Dia merasakan keanehan setiap mendengar tentang Li Jihyun. Reaksi tubuhnya pun aneh. Jantung yang berdegup kencang dan wajah yang memanas. Serta otaknya selalu tergiang akan wajah Li Jihyun. Dia pikir pasti dirinya sedang sakit sampai selalu teringat wajah Li Jihyun. Pria berkacamata itu berencana mendatangi tabib istana untuk mengobati penyakit aneh yang dideritanya.
...
"Apakah begini caramu menyambut seorang kaisar?" tanya Long Jian mendelik tajam. Li Jihyun menyesap teh sedikit. Aroma melati kesukaan Li Jihyun menggelitik hidungnya. Diletakkannya gelas teh dan balas menatap Long Jian.
"Apa ada masalah makanya yang mulia mencari saya?" tanya balik Li Jihyun. Alih alih menjawab pertanyaan Long Jian justru Li Jihyun bertanya balik dengan wajah tak berdosa. Matanya yang setajam elang menatap Li Jihyun.
"Kamu akan menyesal sudah mengusikku," ujar Long Jian bangkit dari duduk. Alis mata Li Jihyun terangkat.
"Apa yang harus kusesalkan?"
__ADS_1
"Cih! Kita lihat saja nanti," ujarnya membalikkan badan dan berjalan. Baru 10 langkah Long Jian berhenti. "Aku akan menemuimu malam nanti," ujarnya lalu melanjutkan perjalanan dan meninggalkan Li Jihyun sendiran. Gadis itu berdecih sebelum menghabiskan teh digelasnya.
Memang apa yang bisa dia lakukan untuk mengalahkanku? Heh?! Dasar kaisar naif dan sombong. Dia pikir aku tidak tau tujuan dia datang. Dia pasti sekarang sangat kesal mendengar aku membunuh salah satu penyokongnya di istana. Pasti sekarang dia tengah memikirkan rencana berikutnya membalaskan dendam padaku, batin Li Jihyun meletakkan cangkir teh. Jemarinya yang seputih batu giok mengelus tepi cangkir. Senyuman tersungging dibibir. Tapi apapun rencananya aku pasti menang. Dia pasti tidak tau kalau aku kebal terhadap racun apapun. Aku jadi tidak sabar menantikan rencana yang akan dilakukannya, batin Li Jihyun penuh percaya diri.
...
"Bagaimana?" tanya seorang pria berjubah hitam berdiri didepan Long Jian.
"Seperti yang kamu katakan. Gadis itu sangat sombong sampai berpikir dunia berada dibawah kakinya," suara tawa tertahan terdengar dari pria berjubah itu. Alis mata Long Jian menyatu tajam.
"Apa yang kamu tertawakan?" tanya Long Jian sedikit tersinggung. Pria berjubah hitam itu menggelengkan kepala.
"Saya minta maaf sudah bersikap tidak sopan didepan anda. Cuma tadi saya teringat dengan kejadian lampau," ujar pria berjubah hitam itu tersenyum tipis dari balik jubahnya.
"Sudahlah. Lalu ada satu hal yang ingin kutanyakan. Apa alasanmu menawarkanku menghancurkan Li Jihyun?" tanya Long Jian menatapnya lekat.
"Musuh yang sama adalah teman, bukan?" celetuk pria itu santai. Perkataan klasik yang kerap digunakan sebagai bentuk ajakan kerjasama menghancurkan musuh yang sama. Long Jian terkekeh. Dia menumpu dagunya dengan kedua tangannya.
"Kamu pikir alasan klasik seperti itu kupercaya darimu, huh?! Kamu terlalu meremehkanku. Katakan padaku apa tujuanmu bekerjasama denganku?"
"Saya tidak bisa mengatakan yang mulia. Karena itu masalah pribadi antara saya dan Li Jihyun. Lalu giliran saya yang bertanya apakah anda setuju bekerjasama dengan saya yang mulia untuk menghancurkan Li Jihyun?"
__ADS_1
Seringain terukir dibibirnya. "Baiklah. Masalahmu dengan Li Jihyun itu urusan kalian. Aku ingin kamu melakukan sesuatu agar gadis itu menyadari posisinya. Selebihnya aku tak peduli," ujar Long Jian yang diangguki pria itu.
"Tentu saja yang mulia. Anda tenang saja. Saya pasti akan membuat Li Jihyun hancur dalam sekejap," ujar pria berjubah itu membungkuk hormat. Dia tersenyum lebar. Kita akan segera bertemu, Li Jihyun.